JAKARTA - Masa depan kompetisi sepak bola di Timur Tengah kini berada dalam bayang-bayang ketidakpastian seiring mencuatnya isu ketidakharmonisan antara sang megabintang, Cristiano Ronaldo, dengan klubnya, Al Nassr. Ketegangan yang dipicu oleh protes terhadap kebijakan transfer ini memancing reaksi keras dari berbagai tokoh sepak bola dunia, termasuk legenda hidup Timnas Jerman, Toni Kroos. Kroos secara blak-blakan menyoroti betapa rapuhnya ekosistem sepak bola Arab Saudi jika kehilangan aset terbesarnya tersebut.
Bagi Kroos, Liga Arab Saudi belum memiliki akar yang cukup kuat untuk berdiri sendiri tanpa daya tarik global yang dibawa oleh pemain berjuluk CR7 tersebut. Pernyataan ini menjadi pengingat bagi otoritas sepak bola setempat bahwa popularitas instan yang mereka nikmati saat ini sangat bergantung pada satu nama besar yang telah mengubah wajah liga tersebut dalam waktu singkat.
Kritik Tajam Toni Kroos Terkait Perlakuan Terhadap Ronaldo
Legenda Timnas Jerman Toni Kroos menyebut Liga Arab bakal sepi jika Cristiano Ronaldo jadi pergi. Hal itu disampaikan Kroos setelah mendengar kabar Ronaldo ngambek dan tak mau bermain untuk Al Nassr gara-gara kebijakan transfer klub. Meskipun situasi dilaporkan mulai mendingin, Kroos tetap merasa perlu menyuarakan pembelaannya terhadap pemain yang pernah menjadi rekan setimnya di Real Madrid tersebut.
Kroos mengingatkan bahwa sebelum kedatangan penyerang asal Portugal itu, kompetisi di Saudi hampir tidak dikenal oleh publik internasional. "Liga Saudi sangat berbeda. Tidak ada yang tahu tentang liga ini sebelum Cristiano datang," kata Kroos, dikutip dari Tribuna. Ia juga menyayangkan sikap klub yang dianggap kurang menghargai jasa sang pemain. "Sekarang mereka tidak menghormati orang yang membawa mereka kejayaan internasional. Saya katakan, jika Ronaldo pergi besok, tidak akan ada yang menonton liga ini lagi," Kroos menegaskan.
Transformasi Drastis Liga Arab di Bawah Efek Ronaldo
Pengaruh signifikan Ronaldo terhadap perkembangan sepak bola di wilayah tersebut memang tidak bisa dibantah. Presiden Saudi Pro League secara terbuka mengakui bahwa megabintang asal Portugal tersebut telah mengubah wajah liga secara drastis, baik dari sisi eksposur global maupun nilai komersial. Dalam berbagai pernyataan yang dikutip media internasional, pengaruh Ronaldo dinilai telah melampaui sekadar statistik gol di lapangan.
Petinggi Liga Arab Saudi menegaskan bahwa pengaruh pemain sekelas Cristiano Ronaldo berada pada level yang sulit dipahami oleh publik awam. “Sebelum Cristiano datang, liga kami hanya disiarkan di sekitar 35 negara. Setelah ia bergabung, jangkauannya melonjak hingga lebih dari 150 negara dan wilayah. Bersamaan dengan itu, berbagai kesepakatan komersial baru mulai berdatangan,” ujar Presiden Saudi Pro League. Hal ini memperjelas bahwa tanpa Ronaldo, nilai jual kompetisi tersebut bisa merosot tajam kembali ke titik nol.
Aksi Protes Ronaldo Terhadap Ketimpangan Kebijakan Transfer
Pemicu utama dari spekulasi kepergian ini adalah keresahan Ronaldo terhadap kebijakan Public Investment Fund (PIF), konsorsium yang mengendalikan empat klub raksasa di Arab Saudi. Aksi mogok itu dilakukan Ronaldo sebagai protes kepada Public Investment Fund (PIF). Pemilik 4 klub papan atas Arab Saudi itu, termasuk Al Nassr, dinilai tak adil dengan timnya.
Ronaldo merasa ada perlakuan istimewa yang diberikan kepada rival utama mereka. PIF dianggap Ronaldo lebih mementingkan Al Hilal, klub rival Al Nassr, ketimbang tim-tim lain di bawah kepemilikannya. Hal itu terlihat dari jomplangnya pergerakan transfer The Blue Waves yang jauh lebih aktif daripada Al Nassr. Ketimpangan inilah yang membuat pemain berusia 41 tahun itu merasa aspirasinya untuk membangun tim yang kompetitif tidak didukung sepenuhnya oleh otoritas terkait.
Spekulasi Masa Depan Sang Megabintang di Usia Senja
Keputusan Ronaldo mogok main membuat masa depannya di Al Nassr jadi spekulasi. Di usianya yang sudah menginjak kepala empat, Ronaldo membuktikan bahwa ia masih memiliki posisi tawar yang sangat tinggi di industri sepak bola. Isu kembalinya ia ke kompetisi yang lebih kompetitif atau menjajaki pasar baru mulai berhembus kencang seiring dengan rasa frustrasinya di Riyadh.
Bintang berusia 41 tahun itu dikabarkan bersedia meninggalkan Arab Saudi dan mencari peruntungan lain di Eropa atau Amerika Serikat. Jika hal ini benar-benar terjadi, Liga Arab Saudi harus bersiap menghadapi eksodus penonton dan penurunan nilai hak siar secara masif. Kepergian Ronaldo tidak hanya akan meninggalkan lubang di lini depan Al Nassr, tetapi juga berpotensi mematikan gairah internasional terhadap Saudi Pro League yang baru saja mekar dalam beberapa tahun terakhir.