JAKARTA - Fenomena anak muda yang menggunakan pod-based e-cigarettes atau pods kerap dibicarakan secara sederhana sebagai tren, gaya hidup, atau bahkan sekadar kebiasaan merokok versi baru. Namun jika ditelusuri lebih jauh, perilaku ini menyimpan lapisan makna sosial yang jauh lebih kompleks.
Menurut Amelia Putri, Social Media Strategist PublikaLabs, pods tidak hanya berfungsi sebagai alat konsumsi nikotin, tetapi juga bekerja sebagai bahasa diam yang digunakan anak muda untuk mengomunikasikan identitas, posisi sosial, serta cara mereka bertahan di tengah tekanan hidup modern.
"Dalam kajian sosiologi dan ilmu komunikasi, konsumsi kerap dipahami sebagai bentuk komunikasi identitas. Pilihan terhadap suatu produk bukan hanya didorong oleh fungsi, melainkan oleh makna simbolik yang melekat padanya. Pods hadir dengan desain minimalis, tidak berbau menyengat, dan mudah digunakan," katanya.
Karakter tersebut, kata Amel, membuatnya diterima sebagai simbol yang “aman secara sosial” dan selaras dengan citra generasi muda yang ingin tampil rapi, terkendali, dan relevan dengan zamannya. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa persepsi positif dan penerimaan sosial terhadap e-cigarettes, khususnya produk berbasis pod, berperan besar dalam meningkatnya penggunaan di kalangan remaja dan dewasa muda, bahkan melebihi faktor kebutuhan nikotin itu sendiri.
Lingkungan pertemanan, paparnya, memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam membentuk perilaku ini. Studi longitudinal yang dipublikasikan oleh JAMA Network Open menemukan bahwa remaja yang berada di lingkar pertemanan pengguna e-cigarette memiliki kemungkinan jauh lebih tinggi untuk mencoba dan kemudian menggunakan produk serupa.
"Pods menjadi bagian dari ritual sosial: dipakai saat nongkrong, konser, atau pertemuan informal, bukan semata dalam ruang privat. Ini menunjukkan bahwa penggunaan pods sering kali berfungsi sebagai alat untuk membangun rasa kebersamaan dan penerimaan dalam kelompok sebaya," katanya.
Peran media sosial, lanjutnya, memperkuat dinamika tersebut. Berbagai riset mencatat bahwa representasi vaping di platform seperti Instagram dan TikTok cenderung menampilkan pods sebagai bagian dari gaya hidup yang santai, estetik, dan modern. Paparan konten semacam ini terbukti membentuk norma sosial baru, di mana penggunaan pods dipersepsikan sebagai sesuatu yang wajar, bahkan menarik.
"Penelitian eksperimental menunjukkan bahwa remaja yang terpapar iklan atau konten vaping di media digital cenderung memiliki sikap lebih positif terhadap produk tersebut dan lebih terbuka untuk mencoba, terlepas dari kesadaran akan risikonya," ujarnya.
Di balik faktor sosial dan visual, tambahnya, terdapat pula dimensi emosional yang kerap luput dari pembahasan publik. Studi kualitatif berbasis wawancara mendalam mengungkap bahwa sebagian anak muda menggunakan pods sebagai cara untuk mendapatkan jeda emosional di tengah tekanan akademik, ekonomi, dan ekspektasi sosial.
"Pods menjadi semacam mekanisme coping jangka pendek—bukan solusi, tetapi pelarian kecil yang terasa dapat dikendalikan. Dalam konteks ini, penggunaan pods bukan sekadar tindakan konsumsi, melainkan respons terhadap kondisi struktural yang membuat banyak anak muda merasa lelah, cemas, dan kekurangan ruang aman untuk mengekspresikan beban mental mereka," katanya.
Namun, dia menambahkan, memahami makna sosial di balik penggunaan pods tidak berarti menafikan risikonya. Literatur kesehatan publik secara konsisten menunjukkan bahwa penggunaan e-cigarettes pada usia muda berkaitan dengan risiko kecanduan nikotin dan meningkatkan kemungkinan transisi ke rokok konvensional.
"Dampak kesehatan jangka panjangnya masih terus diteliti, tetapi bukti awal menunjukkan adanya potensi gangguan pernapasan dan efek adiktif yang signifikan. Karena itu, pendekatan yang semata-mata bersifat moralistik atau represif kerap gagal, sebab tidak menyentuh alasan mendasar mengapa perilaku ini tumbuh dan diterima di kalangan anak muda."
Pada akhirnya, pods bekerja sebagai simbol. Ia menyampaikan pesan tentang keinginan untuk diterima, kebutuhan akan kontrol diri, serta upaya menavigasi dunia yang serba cepat dan menekan. Anak muda yang nge-pods tidak selalu sedang berbicara tentang nikotin; sering kali mereka sedang berbicara tentang diri mereka sendiri.
"Memahami fenomena ini membutuhkan pendekatan yang lebih empatik dan berbasis literasi sosial, bukan sekadar larangan. Tanpa itu, perdebatan publik akan terus berhenti di permukaan, sementara bahasa diam generasi muda tetap tidak benar-benar didengar," pungkasnya.