JAKARTA - Lonjakan harga nikel menjadi sorotan pelaku pasar komoditas global pada awal Januari 2026.
Pergerakan tajam terjadi dalam waktu singkat, menandai perubahan sentimen yang cukup drastis setelah periode tekanan harga sebelumnya. Kondisi ini memperlihatkan bagaimana dinamika pasokan dan arus modal dapat memicu volatilitas tinggi di pasar logam.
Harga nikel di London Metal Exchange (LME) kontrak forward tiga bulan sempat melonjak hingga 10,5 persen secara intraday ke level US$18.785 per ton pada Selasa (6/1). Kenaikan ini menjadi penguatan harian terbesar dalam lebih dari tiga tahun terakhir dan memperpanjang reli harga lebih dari 20 persen dalam dua pekan terakhir.
Kenaikan harga nikel terjadi sangat cepat
Pergerakan harga yang agresif ini dipengaruhi kombinasi faktor dari sisi pasokan dan permintaan global. Dari sisi pasokan, pasar merespons rencana penyesuaian produksi bijih nikel Indonesia yang dinilai akan berdampak pada keseimbangan supply-demand global.
Indonesia sebagai produsen nikel terbesar dunia memiliki pengaruh signifikan terhadap harga internasional. Ketika sinyal pengetatan pasokan muncul, pasar dengan cepat melakukan penyesuaian harga untuk mengantisipasi potensi penurunan volume produksi nasional dalam waktu ke depan.
Selain itu, reli harga juga mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap logam industri, khususnya nikel, di tengah perubahan kebijakan dan prospek industri kendaraan listrik serta baja nirkarat yang masih menjadi pendorong jangka menengah.
Kebijakan produksi Indonesia jadi sentimen utama
Sentimen utama dari sisi pasokan datang dari rencana pemerintah Indonesia untuk menurunkan produksi nikel. Langkah ini bertujuan menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan sekaligus menahan tekanan harga yang sempat melemah akibat kelebihan pasokan.
Pemerintah juga berencana menerapkan denda administratif yang signifikan kepada perusahaan tambang yang melanggar izin kehutanan. Ketentuan ini tertuang dalam Kepmen ESDM No. 391 Tahun 2025 yang ditetapkan pada 1 Desember 2025.
Dalam aturan tersebut, pelanggaran aktivitas pertambangan nikel dapat dikenakan denda hingga Rp6,5 miliar per hektare. Kebijakan ini berpotensi memengaruhi keberlanjutan operasional sejumlah perusahaan dan menimbulkan gangguan terhadap volume produksi nasional.
Permintaan China ikut mengerek harga
Dari sisi permintaan, Bloomberg melaporkan bahwa pembelian produk nickel pig iron (NPI) oleh China tercatat lebih aktif dari biasanya. Aktivitas ini diduga berkaitan dengan penimbunan industri menjelang perayaan Tahun Baru Imlek.
Pola perdagangan juga menunjukkan peran kuat investor China dalam mendorong pergerakan harga logam, termasuk nikel. Lonjakan harga dan volume transaksi di LME terjadi selama jam perdagangan Asia dan berlanjut pada sesi malam di Shanghai Futures Exchange.
Fenomena ini mengindikasikan bahwa arus modal finansial memiliki peran besar dalam membentuk pergerakan jangka pendek harga nikel, selain faktor fundamental permintaan industri.
Harga terkoreksi usai aksi ambil untung
Meski sempat melonjak tajam, reli harga nikel tidak bertahan lama. Harga nikel LME forward tiga bulan kemudian terkoreksi sekitar 1,4 persen dari titik tertingginya dan ditutup di level US$18.524 per ton pada Rabu (7/1) pukul 16.00 WIB.
Analis Mysteel Global, Fan Jianyuan, menilai koreksi tersebut merupakan aksi ambil untung setelah lonjakan harga yang sebagian besar didorong oleh arus masuk modal finansial. Ia menekankan bahwa pergerakan tersebut belum sepenuhnya mencerminkan perubahan fundamental pasar.
Fan juga menyebutkan bahwa secara fundamental, pasar nikel global masih berada dalam kondisi surplus. Artinya, meskipun terjadi reli harga jangka pendek, tekanan dari sisi pasokan berlebih masih berpotensi membatasi kenaikan lebih lanjut.
Proyeksi emiten nikel di pasar modal
Di pasar saham domestik, pergerakan harga nikel turut berdampak pada prospek emiten nikel besar yang tercatat di Bursa Efek Indonesia. Dari tiga emiten utama, yakni INCO, NCKL, dan MBMA, MBMA diproyeksikan mencatatkan pertumbuhan laba bersih tertinggi pada periode 2025F–2026F berdasarkan konsensus pasar.
Secara berurutan, pertumbuhan laba bersih MBMA diperkirakan mencapai 316 persen secara tahunan, disusul INCO sebesar 106 persen dan NCKL sekitar 20 persen. Dari sisi nominal, laba bersih 2026F diproyeksikan mencapai US$144 juta untuk MBMA, US$160 juta untuk INCO, dan Rp10 triliun untuk NCKL.
Dari sisi valuasi, rasio price to earnings (P/E) 2026F NCKL dinilai paling atraktif di level 8,9 kali, diikuti INCO 22,2 kali dan MBMA 39,9 kali. Namun, proyeksi tersebut bersifat dinamis dan dapat berubah seiring perkembangan volume produksi serta asumsi harga jual rata-rata produk nikel.
Pasar masih rentan volatilitas lanjutan
Ke depan, pergerakan harga nikel diperkirakan masih akan diwarnai volatilitas tinggi. Pasar akan terus mencermati kebijakan produksi Indonesia, dinamika permintaan China, serta peran arus modal finansial di bursa logam global.
Selama kondisi surplus fundamental belum sepenuhnya teratasi, reli harga berpotensi bersifat sementara dan rentan koreksi. Namun, kebijakan pengetatan pasokan yang konsisten dapat menjadi faktor penyeimbang bagi harga nikel dalam jangka menengah hingga panjang.