Bea Cukai Sebut BYD dan Wuling Picu Penumpukan 10 Ribu Kontainer

Rabu, 17 Juni 2026 | 10:55:17 WIB
Truk kontainer melintas di antara tumpukan peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok (FOTO: NET)

JAKARTA - Direktur Jenderal Bea dan Cukai Djaka Budhi Utama membeberkan alasan di balik sempat tertahannya 10 ribu kontainer di Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Persoalan tersebut diklaim bukan akibat kendala administrasi kepabeanan, melainkan lantaran pihak importir sengaja mendiamkan muatannya terlalu lama di area pelabuhan.

"Ketika kontainer-kontainer sudah mengalami pengeluaran barang, ini masih terjadi penumpukan karena para pelaku tidak dengan segera melakukan pengeluaran," kata Djaka dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi XI DPR RI, Jakarta, Senin (15/6/2026).

Djaka memberi contoh bahwa tindakan mendiamkan muatan di pelabuhan tersebut salah satunya dilakukan oleh pihak BYD dan Wuling.

Produsen otomotif tersebut dinyatakan mempergunakan fasilitas pelabuhan guna membiarkan produk impor mereka tidak bergegas dipindahkan dari kawasan pelabuhan selama 3 hari.

"Contohnya seperti BYD, kemudian dari Wuling itu masih memanfaatkan fasilitas yang diberikan oleh pelabuhan selama 3 hari setelah SPPB (Surat Persetujuan Pengeluaran Barang) keluar. Malah bahkan lebih dari 2 minggu dia tidak angkat keluar. Kemarin itu hampir sekitar 10 ribu kontainer yang masih ada di pelabuhan," tegasnya.

Demi membereskan persoalan itu, DJBC sudah mengambil langkah tegas agar seluruh perusahaan importir tidak mendiamkan muatan menumpuk terlampau lama hingga mengacaukan waktu tunggu bongkar muat (dwelling time).

"Kami melakukan pemaksaan kepada perusahaan tersebut untuk dengan secepatnya melakukan pengeluaran dari area pelabuhan atau bukan di area kepabeanan. Dari sisi kepabeanan mereka sudah selesai administrasinya, cuma yang belum mereka selesaikan adalah pengeluaran dari pelabuhan itu karena dia memanfaatkan 3 hari di pelabuhan hak yang masih bisa diperoleh," ucap Djaka.

Berdasarkan penjelasan Djaka, pemicu utama korporasi mendiamkan muatan mereka di pelabuhan dalam jangka waktu panjang ialah tarifnya yang dinilai lebih terjangkau ketimbang di area luar.

"Karena kesulitan tempat di luar sehingga mereka mengingat cost lebih murah daripada di luar, mereka memanfaatkan itu. Mungkin ke depannya kita akan segera mendorong mereka ke lini dua, di tempat luar pelabuhan," tuturnya.

Terkini