Harga Pertamax Naik, Sopir Bentor Pulau Tidung Mengeluh Nombok

Senin, 15 Juni 2026 | 13:26:20 WIB
Ilustrasi stock Pertalit Habisa di Sejumlah Pom Bensin (FOTO: NET)

JAKARTA - Kenaikan harga Pertamax (RON 92) pada Rabu (10/6/2026) berdampak pada mata pencaharian sejumlah warga di Pulau Tidung, Kepulauan Seribu, Jakarta.

Sejumlah warga yang berprofesi sebagai sopir becak motor (bentor) di pulau tersebut mengeluhkan harga Pertamax yang sebelumnya kisaran Rp 16.000 hingga Rp 17.000 kini menyentuh angka Rp 21.000 per liter.

Harga tersebut dikeluhkan para sopir bentor karena nyaris setara dengan tarif sekali perjalanan sebesar Rp 20.000 hingga Rp 25.000.

Muhammad Said (63), salah seorang sopir bentor di Pulau Tidung mengaku kaget saat mengetahui kenaikan signifikan BBM Pertamax.

"Dulu mah kalau naik ya paling cuma Rp 500 atau Rp1.000 gitu. Sekarang tiba-tiba tinggi," ucap dia saat ditemui Kompas.com, Jumat (12/6/2026).

Muhammad Said memahami bahwa harga BBM di wilayah kepulauan akan lebih tinggi dibandingkan di daratan Jakarta.

Namun, Muhammad Said tetap mengeluh karena harga yang kini mencapai Rp 21.000 dinilainya sudah tidak wajar.

"Ya kalau itu kami juga tahu enggak mungkin (harga sama), soalnya juga kan bensin ke sini perlu dua kali transport mereka. Mobil di sana terus juga ferry yang bawa ke sini," kata dia.

Sebelum adanya kenaikan yang cukup signifikan pada kali ini, Muhammad Said masih menilai bahwa bensin Pertamax yang dijual secara eceran di pulau tersebut tidak terlalu mahal.

Dengan adanya kenaikan, Muhammad Said menjelaskan bahwa upah yang diterima para sopir sudah tidak bisa menutup biaya bensin.

"Kalau dari dulu sih, saya rasa eggak (mahal). Masih Rp 16.000 sampai Rp 17.000. Artinya kami tarikan Rp 20.000 itu masih ada lebih lah ya. Kalau sekarang kan nombok ini," ujar Said.

Sementara itu, Sahib, salah seorang sopir lainnya menjelaskan, kenaikan harga bensin di Pulau Tidung membuat para sopir perlu menombok untuk biaya bensin.

"Kalau narik ukuran sejalan Rp 20.000 bensin, sedangkan seliter Rp 21.000, itu malahan kami nombokin. Nombokin Rp 1.000 kalau bensinnya Rp 21.000," ujar dia saat ditemui Kompas.com, Jumat.

Sialnya lagi, Sahib mengaku para sopir bentor tidak dapat beralih ke jenis BBM lain seperti Pertalite.

Menurut Sahib, BBM Pertalite sudah mulai langka dan sulit ditemukan di pulau tersebut sejak sekitar satu tahun menghilang.

"Udah, setengah tahun mah lebih lah. Memang udah hilang hitungannya," ujar Sahib.

Sahib belakangan juga hanya mengoperasikan bentor jika ada pesanan penumpang atau hanya di akhir pekan.

Pasalnya, Sahib menilai biaya yang dikeluarkan jika tiap hari mengoperasikan bentornya tidak selalu berbanding dengan pendapatan.

"Habis percuma, ngomong bohongnya kami mangkal di sana nih. Disangka bini mah 'Oh bapak narik', enggak tahunya mah bukan narik, kami mengadu tembakau, mengadu kopi, mengadu rokok, gitu," ungkap Sahib.

Sahib menjelaskan, kondisi wisatawan yang datang ke Pulau Tidung di hari biasa juga sudah tidak seramai dulu.

Hal itu membuat para sopir bentor sangat mengharapkan penghasilan dari wisatawan yang datang di hari libur pekan panjang.

"Sabtu atau Minggu kadang ada, ada juga kadang ndak. Nah kalau long weekend, ya lumayan," ungkap dia.

Selain itu, para sopir bentor juga mencoba mendapatkan tambahan pendapatan dengan menawarkan jasa angkut barang dari kapal menuju warung atau toko milik warga.

Namun, hal tersebut tidak semua pengemudi bisa lakukan.

Menurut Sahib, seorang pengemudi bentor hanya bisa mengambil jasa angkut barang apabila memiliki pelanggan tetap.

"Tapi ada yang menutupi, ada yang meringankan gitu. Kan ada angkut barang ke warung. Itu bagi yang punya langganan. Kalau enggak punya langganan ya susah," tutur dia.

Meskipun harga BBM Pertamax naik, Sahib mengaku tidak ingin menaikkan tarif perjalanan bagi wisatawan.

Sahib justru berharap harga BBM bisa dikendalikan lagi agar dirinya tidak terpaksa menaikkan tarif.

"Kagak bisa mah (menaikan tarif bentor), bensin mah jangan naik kalau bisa mah," tambah dia.

Terkini