Konsumsi Protein Tinggi Naik, Harga Bahan Whey Dunia Meroket

Senin, 15 Juni 2026 | 10:40:46 WIB
Ilustrasi Whey Protein (FOTO: NET)

LOKASI - Permintaan global terhadap produk tinggi protein terus meningkat pesat.

Namun, pihak industri susu saat ini kesulitan mengejar lonjakan kebutuhan tersebut.

Selama ini, para atlet dan orang dewasa lanjut usia banyak memakai smoothie atau minuman protein yang dicampur konsentrat protein whey untuk membangun serta menjaga massa otot mereka.

Whey sendiri merupakan produk sampingan dari proses pembuatan keju.

Bahan ini kemudian dikeringkan menjadi bentuk bubuk dan banyak digunakan dalam berbagai produk suplemen.

Belakangan, protein whey tidak lagi hanya dimanfaatkan untuk minuman olahraga saja.

Perusahaan makanan mulai menambahkannya ke berbagai lini produk, mulai dari sereal sarapan, Pop Tarts, keripik kentang, bagel, tortilla, hingga minuman Starbucks.

Langkah itu dilakukan demi memenuhi permintaan konsumen terhadap makanan dan minuman yang tinggi protein.

Menurut perusahaan riset pasar NielsenIQ, rata-rata supermarket di Amerika Serikat saat ini memiliki 38.708 produk yang mencantumkan kandungan protein di kemasannya.

Namun, tren tersebut mulai menimbulkan persoalan baru.

Permintaan yang sangat tinggi membuat pasokan protein whey grade pangan kian menipis dan mendorong harga ke level tertinggi.

"Permintaan sangat kuat dan tampaknya melampaui pasokan saat ini," kata Kathleen Wolfley, wakil presiden Ever.Ag Insights, penyedia data dan konsultan untuk industri pertanian.

Wolfley mengatakan, harga grosir protein whey mulai merangkak naik pada 2024.

Laju kenaikannya makin cepat pada tahun lalu dan terus berlanjut sepanjang tahun ini.

Konsentrat protein whey dengan kandungan protein 80 persen kini diperdagangkan lebih dari 13 dollar AS per pon di pasar komoditas susu Amerika Serikat.

Jenis tersebut sering digunakan oleh para produsen makanan dan suplemen.

Nilai itu setara lebih dari Rp 231.127 per pon, dengan kurs Rp 17.779 per dollar AS.

Harganya melonjak hingga 250 persen dibandingkan tahun lalu, menurut data Ever.Ag.

Isolat protein whey, versi yang lebih murni dengan kandungan protein minimal 90 persen, juga naik sebesar 150 persen dibandingkan tahun lalu.

Kenaikan harga bahan baku ini pun mulai terasa dampaknya ke konsumen.

Harga bubuk konsentrat protein whey di Amerika Serikat naik sekitar 15 persen dalam setahun terakhir, menurut perusahaan pelacak harga Datasembly.

Bubuk whey isolat yang lebih premium mencatat lonjakan harga yang jauh lebih tajam.

Kondisi serupa kini tengah terjadi di Eropa.

Pada akhir Mei, konsentrat protein whey 80 persen mencapai rekor baru yakni 26.450 euro atau 30.518 dollar AS per metrik ton.

Nilai tersebut setara dengan sekitar Rp 542,58 juta per metrik ton.

Harga itu lebih dari dua kali lipat dibandingkan kurang dari setahun sebelumnya, menurut DCA Market Intelligence, perusahaan penentu harga komoditas yang berbasis di Belanda.

Susu memiliki dua kandungan protein utama, yakni kasein dan whey.

Dalam proses pembuatan keju, kasein akan membentuk dadih yang padat.

Sementara itu, whey berbentuk cairan yang lalu dikeringkan menjadi bubuk.

Departemen Pertanian Amerika Serikat menyebut setiap satu pon keju akan menghasilkan sembilan pon whey.

Konsumsi susu di Amerika Serikat telah turun selama beberapa dekade terakhir karena konsumen beralih ke minuman lain, seperti soda.

Namun, tingkat konsumsi keju tetap kuat di sana.

Negara dengan tingkat konsumsi keju yang besar tentu menghasilkan banyak protein whey.

Sebagian kelebihan pasokan sebelumnya diekspor ke China dan negara lainnya.

Kini, permintaan domestik terhadap makanan ringan dan produk tinggi protein membuat lebih banyak protein whey bertahan di Amerika Serikat.

Ekspor konsentrat protein whey 80 persen dan isolat protein whey dari Amerika Serikat ke China turun hingga 47 persen pada Januari hingga April dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Data tersebut berasal dari Vesper, sebuah perusahaan pelacak harga komoditas yang berbasis di Amsterdam.

"Tidak ada cukup produk untuk pelanggan AS, dan oleh karena itu ekspor telah dihentikan sebanyak mungkin," kata analis susu Vesper Jasper Endlich.

China kemudian mencari lebih banyak pasokan protein whey dari Eropa.

Namun, Eropa juga menghadapi kelangkaan akibat berkurangnya pasokan dari Amerika Serikat.

Kenaikan permintaan whey juga dipengaruhi oleh penggunaan obat penurun berat badan GLP-1.

GLP-1 merupakan jenis obat yang banyak digunakan untuk membantu menekan nafsu makan seseorang.

Contohnya adalah merek Wegovy dan Zepbound.

Wolfley mengatakan penggunaan obat obesitas tersebut menjadi salah satu faktor utama yang mendorong permintaan konsentrat protein whey melonjak.

Pengguna GLP-1 biasanya disarankan untuk mengonsumsi cukup protein.

Tujuannya agar mereka merasa kenyang lebih lama dan bisa menjaga massa otot saat berat badan turun.

Morgan Stanley memperkirakan sekitar 6 persen pasien obesitas dan diabetes di Amerika Serikat memakai obat GLP-1 pada tahun lalu.

Di tingkat global, porsinya berada di kisaran 2 persen.

Beberapa estimasi bahkan menyebut penggunaan GLP-1 mencapai 12 persen dari total populasi orang dewasa di Amerika Serikat.

Sebab, tidak semua pengguna obat tersebut menderita penyakit obesitas atau diabetes.

Perusahaan makanan dan nutrisi kemudian membuat lebih banyak produk dengan tambahan protein untuk menarik minat konsumen tersebut.

Produk protein juga menyasar orang-orang yang mengganti makanan mereka dengan shake protein untuk menurunkan berat badan.

Pasokan yang ketat dan biaya bahan baku yang lebih mahal membuat sebagian produsen menaikkan harga jual bubuk protein serta produk dengan tambahan protein.

Now Foods, produsen makanan kesehatan dan suplemen yang berbasis di Illinois, menyatakan wadah bubuk protein whey secara konsisten menjadi produk terlaris dalam kategori nutrisi olahraga mereka.

Namun, setelah dua tahun membayar bahan baku dengan harga lebih mahal, perusahaan akhirnya menaikkan harga produk protein whey pada awal tahun ini.

Manajer merek olahraga Now, Bryan Morin mengatakan, perusahaan tidak memperkirakan adanya kenaikan harga lanjutan untuk bubuk protein whey tahun ini.

Now berupaya menyerap sebagian kenaikan biaya tersebut dengan cara mengurangi diskon.

Perusahaan juga mempertimbangkan perluasan portofolio produk menggunakan konsentrat protein susu.

Bubuk tersebut mengandung lebih sedikit whey dan harganya dinilai lebih murah.

"Dari perspektif kami, dinamika pasar yang lebih luas terus menunjukkan lanskap protein yang ketat dan terus berkembang," kata Morin.

Sejumlah produsen mulai berinvestasi untuk menambah kapasitas produksi protein whey mereka.

Namun, tambahan pasokan tersebut tidak akan datang dalam waktu dekat ini.

Glanbia, perusahaan nutrisi asal Irlandia, mengatakan pada November akan meningkatkan produksi isolat protein whey mereka di New Mexico.

Namun, kapasitas tambahan tersebut baru akan tersedia pada tahun 2027.

Pada Februari, perusahaan susu asal Kanada, Agropur menyatakan akan meningkatkan produksi protein whey di pabrik mereka yang terletak di Quebec, Nova Scotia, South Dakota, dan Wisconsin pada 2029.

Sementara itu, harga yang tinggi dapat membuat sebagian konsumen mengurangi pembelian bubuk protein whey.

Apalagi, harga bahan makanan secara umum belakangan ini juga naik.

Wolfley menilai penurunan permintaan di tingkat ritel dapat membantu meredakan kelangkaan yang terjadi di tingkat grosir.

"Dinamika pasokan-permintaan dapat mulai membaik, tetapi kami tidak tahu apakah itu dinamika besok atau dalam setahun. Beberapa hal ini membutuhkan waktu," kata Wolfley.

Terkini