Otorita IKN Prioritaskan UMKM Lokal Melalui Akademi SIAPIK 2026

Kamis, 11 Juni 2026 | 16:17:46 WIB
Akademi SIAPIK (AKSI) 2026 dan Business Matching Pembiayaan UMKM 2026 (FOTO: NET)

NUSANTARA - Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) menegaskan komitmen penuh untuk memprioritaskan warga lokal dalam proses pembangunan ibu kota baru, salah satunya dengan memperkuat kapasitas para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Langkah konkret yang diambil adalah dengan menggelar Akademi SIAPIK (AKSI) 2026 serta Business Matching Pembiayaan UMKM 2026 di Kantor Bersama Kemenko 4, Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN pada Rabu (10/6/2026).

Agenda tersebut diinisiasi oleh Sekretariat Kerja Bersama KOPERBI IKN yang berkolaborasi dengan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Balikpapan dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wilayah Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara, serta menyasar para pelaku UMKM di area IKN dan Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU).

Program ini dirancang khusus demi meningkatkan literasi keuangan, mempercepat inklusi keuangan, sekaligus membuka lebar akses permodalan bagi para pelaku usaha setempat.

Deputi Bidang Sosial, Budaya, dan Pemberdayaan Masyarakat Otorita IKN, Alimuddin, menjelaskan bahwa UMKM merupakan fondasi ekonomi warga yang diharapkan bisa ikut bertumbuh selaras dengan kemajuan Nusantara.

"Kami mengapresiasi Bank Indonesia, OJK, serta seluruh pihak yang terus bersinergi dalam memperkuat kapasitas UMKM melalui program seperti Akademi SIAPIK. Inisiatif ini sangat penting karena UMKM merupakan tulang punggung ekonomi masyarakat yang akan menjadi aktor utama yang akan tumbuh bersama perkembangan Nusantara," kata Alimuddin, dikutip Kamis (11/06/2026).

Dia berpendapat bahwa proyek pembangunan IKN wajib mendatangkan manfaat riil bagi warga setempat melalui peningkatan keterampilan para pelaku usaha agar cekatan melihat peluang ekonomi yang terus berkembang.

"Kami ingin para pelaku UMKM lokal percaya diri dan terus meningkatkan kapasitas usahanya. Kehadiran IKN membuka ruang yang sangat besar untuk berkembang, baik dari sisi pasar, kemitraan, maupun akses pembiayaan," kata Alimuddin.

Dirinya mengimbuhkan bahwa Otorita IKN bakal konsisten mengawal program pemberdayaan UMKM ini agar bisa naik kelas, memiliki daya saing tinggi, dan menjadi elemen krusial dalam ekosistem ekonomi Nusantara.

Bukan itu saja, Alimuddin turut memotivasi para pelaku usaha untuk membentuk sinergi yang solid antarseksama UMKM demi mewujudkan rantai ekonomi yang saling menyokong.

"UMKM tidak bisa berjalan sendiri. Ekosistem usaha yang kuat dibangun melalui kerja sama dan kolaborasi antarpelaku usaha dalam rantai ekonomi yang saling menguatkan," ujarnya.

Melalui program Akademi SIAPIK 2026, para peserta dibekali wawasan mulai dari pemanfaatan Sistem Informasi Aplikasi Pencatatan Informasi Keuangan (SIAPIK), manajemen keuangan mendasar, literasi dan inklusi keuangan, kebanksentralan, ekonomi syariah, sistem pembayaran, hingga aspek perlindungan konsumen.

Kepala Sekretariat Kerja Bersama KOPERBI IKN, Aura Pandu Wirawan, memaparkan bahwa tema besar yang diusung tahun ini adalah ENERGI (Edukasi dan siNERGI), yang merefleksikan krusialnya kolaborasi demi mendongkrak kemampuan para pelaku usaha lokal.

"Edukasi dan sinergi menjadi Pillars utama yang sangat penting. Melalui kolaborasi ini, kami ingin meningkatkan kapasitas UMKM agar semakin kuat, semakin maju, dan mampu memanfaatkan peluang ekonomi yang berkembang di kawasan IKN," ujarnya.

Selain mendapatkan pembekalan, para peserta dipertemukan langsung dalam sesi business matching pembiayaan bersama sejumlah institusi keuangan dan perbankan, seperti BRI, Bank Mandiri, BNI, BSI, Bank Kaltimtara, serta perbankan lain yang tergabung di Forum Perbankan IKN.

Pandu menyebutkan bahwa manajemen pembukuan yang rapi merupakan salah satu faktor penentu agar UMKM bisa berkembang pesat dan mendapatkan akses permodalan yang lebih luas.

"Selama ini masih banyak pelaku usaha yang melakukan pencatatan secara manual. Melalui SIAPIK, UMKM dapat mencatat biaya, pemasukan, keuntungan, dan perkembangan usaha secara lebih terstruktur. Catatan keuangan yang baik juga akan membantu ketika mengajukan pembiayaan ke perbankan," jelasnya.

Ia menerangkan lebih lanjut bahwa peserta yang memperlihatkan progres positif serta potensi bisnis yang bagus berpeluang mengikuti program pembinaan tingkat lanjut, termasuk bantuan akses pasar lewat beragam ajang promosi dan pameran seperti Road to Festival Ekonomi Syariah (FESyar) hingga Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF).

Salah satu peserta bernama Reni Sayu, seorang produsen keripik pisang dari Kabupaten Penajam Paser Utara, mengungkapkan bahwa edukasi ini sangat bermanfaat dalam memandu pelaku usaha bergeser dari pembukuan manual ke sistem digital.

"Selama ini pencatatan keuangan saya masih manual dan kadang ada transaksi yang tidak tercatat. Bahkan modal usaha terkadang tercampur dengan kebutuhan pribadi. Melalui kegiatan ini kami belajar bagaimana mengelola keuangan usaha secara lebih baik dan modern menggunakan aplikasi digital," ujarnya.

Reni memandang bahwa keberadaan IKN mendatangkan prospek cerah bagi UMKM lokal seiring dengan melonjaknya roda perputaran ekonomi dan pertambahan populasi penduduk di wilayah tersebut.

"Peluangnya sangat besar. IKN sekarang menjadi salah satu tujuan kunjungan masyarakat dan banyak pendatang baru yang datang ke sini. Kalau UMKM bisa masuk dan berjualan di kawasan ini, peluang berkembangnya juga semakin besar," katanya.

Terkini