BMKG: Mayoritas Kota Besar RI Berpotensi Berawan dan Hujan Hari Ini

Senin, 08 Juni 2026 | 13:19:09 WIB
Ilustrasi Hujan (FOTO: NET)

JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi kondisi berawan hingga adanya potensi hujan dengan intensitas ringan, sedang, sampai lebat yang dapat disertai kilat serta angin kencang di sejumlah kota besar di Indonesia pada Senin.

Berdasarkan informasi dari laman resmi BMKG di Jakarta pada Senin, prakirawan Henokhvita mengungkapkan bahwa wilayah konvergensi secara umum terlihat membentang dari perairan utara Maluku Utara sampai ke utara Papua Barat, serta dari perairan selatan Kalimantan Tengah hingga ke Selat Karimata.

Selain itu, daerah konvergensi tersebut juga terpantau memanjang dari Kalimantan Selatan menuju Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dari wilayah Laut Banda sampai Pulau Seram, serta dari Teluk Cendrawasih hingga ke pesisir utara Papua Barat.

Situasi ini diperkirakan dapat mendorong peningkatan pertumbuhan awan hujan di sepanjang wilayah yang dilewati oleh jalur konvergensi atau konfluensi tersebut.

Oleh karena itu, BMKG memprakirakan beberapa kota besar berpotensi diguyur hujan dengan intensitas sedang sampai sangat lebat yang disertai petir dan angin kencang, khususnya di wilayah Tanjungpinang serta Palembang.

Sementara itu, sejumlah kota besar lainnya diperkirakan akan mengalami hujan dengan intensitas ringan hingga sedang, meliputi daerah Banda Aceh, Medan, Palangkaraya, Pontianak, Tanjung Selor, Samarinda, Mamuju, Kendari, Palu, Manado, Ambon, Sorong, Nabire, dan Merauke.

Di sisi lain, beberapa kota besar yang diprediksi hanya akan mengalami cuaca berawan pada hari ini antara lain wilayah Pekanbaru, Bandar Lampung, Jakarta, Serang, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, Mataram, Kupang, Makassar, Gorontalo, Ternate, Manokwari, Jayapura, dan Jayawijaya.

Sebelumnya pada Sabtu (6/6), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengklarifikasi informasi yang ramai di media sosial dengan menegaskan bahwa fenomena bediding atau penurunan suhu udara pada malam sampai pagi hari bukan merupakan bentuk cuaca ekstrem.

"Perlu dipahami bahwa bediding bukanlah fenomena yang 'melanda' seperti kejadian cuaca ekstrem, melainkan kondisi musiman ketika udara terasa lebih dingin akibat berkurangnya tutupan awan," kata Direktur Meteorologi Publik BMKG Ida Pramuwardani di Jakarta, Sabtu.

Dia menjelaskan bahwa rasa dingin yang lebih pekat pada malam hingga pagi hari tersebut terjadi karena radiasi balik dari bumi langsung terlepas ke atmosfer akibat ketiadaan tutupan awan.

Keadaan tersebut kemudian diperparah oleh tingkat kelembapan udara yang terhitung rendah beserta adanya peningkatan pengaruh dari aliran massa udara kering yang bertiup dari Australia.

Pakar meteorologi BMKG ini menambahkan bahwa karakteristik dari suhu dingin musiman seperti ini umumnya mulai terasa pada bulan Juni dan berpeluang meningkat pada bulan Juli hingga Agustus, terutama saat kondisi cuaca malam hari terpantau cerah dan angin timuran atau Monsun Australia semakin menguat.

Terkini