Xi Jinping ke Pyongyang: Imbangi Pengaruh Putin atas Kim Jong Un

Senin, 08 Juni 2026 | 11:02:02 WIB
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un (kiri) berjabat tangan dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing (FOTO: NET)

JAKARTA - Kunjungan kenegaraan Presiden Tiongkok, Xi Jinping, ke Pyongyang pada 8 hingga 9 Juni 2026 merupakan sebuah manuver geopolitik yang sarat kalkulasi strategis tingkat tinggi.

Ini adalah perjalanan luar negeri pertama Xi pada tahun 2026, sebuah pilihan destinasi yang sangat selektif mengingat sang pemimpin Beijing telah memangkas frekuensi lawatan internasionalnya pasca-pandemi menjadi hanya sekitar enam kali setahun.

Keputusan untuk menempatkan Pyongyang di urutan pertama, dilakukan tak lama setelah ia menjamu Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Beijing pada Mei 2026, menegaskan, Semenanjung Korea tetap menjadi episentrum dalam arsitektur keamanan Asia Timur yang tidak boleh lepas dari kendali Tiongkok.

Di permukaan, lawatan ini dibingkai oleh Beijing sebagai upaya memberikan "panduan strategis" dalam merayakan ulang tahun ke-65 penandatanganan Traktat Persahabatan, Kerja Sama, dan Bantuan Bersama Tiongkok-Korea Utara tahun 1961.

Melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri, Mao Ning, Beijing memproyeksikan citra China sebagai kekuatan pelindung stabilitas regional yang kontras dengan proteksionisme tarif Donald Trump di Washington serta kekacauan akibat perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran yang sedang berkecamuk di Timur Tengah.

Namun, di balik seremonial mewah di Kim Il Sung Square, terdapat kecemasan mendalam di koridor kekuasaan Zhongnanhai mengenai hilangnya pengaruh eksklusif Tiongkok atas rezim Kim Jong Un.

Penyebab utamanya adalah kemunculan Rusia sebagai alternatif pelindung baru bagi Pyongyang.

Sejak invasi ke Ukraina pada tahun 2022, Korea Utara telah menyuplai amunisi, artileri, hingga personel militer aktif ke medan perang Moskwa.

Imbalannya tidak main-main, aliran bantuan ekonomi senilai ratusan juta dolar dan, yang paling krusial, transfer teknologi militer sensitif yang mempercepat modernisasi persenjataan Korea Utara.

Ketergantungan ekonomi Pyongyang yang sebelumnya mutlak pada Tiongkok kini terkikis, memberikan Kim Jong Un rasa percaya diri yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk menuntut pengakuan sebagai kekuatan nuklir global.

Dinamika ini tercermin dalam "strategi jalur ganda" yang dimainkan secara taktis oleh Korea Utara menjelang kedatangan Xi.

Pyongyang menunjukkan solidaritas retoris dengan menyelaraskan diri pada isu-isu sensitif Tiongkok, seperti mendukung prinsip "Satu Tiongkok" terkait Taiwan dan mengintensifkan retorika anti-Jepang.

Namun, hanya sehari sebelum kunjungan Xi diumumkan secara resmi, media pemerintah Korea Utara merilis foto-foto Kim Jong Un menginspeksi pabrik baru "bahan nuklir tingkat senjata" dan menyerukan ekspansi persenjataan nuklir secara eksponensial.

Pesertanya terselubung ini ditujukan langsung kepada Tiongkok bahwa status kepemilikan senjata nuklir Korea Utara telah bersifat final, tidak dapat diganggu gugat, dan harus diterima sebagai realitas politik baru.

Di balik kehangatan diplomasi resmi, hubungan Tiongkok, Rusia, dan Korea Utara sebenarnya diwarnai oleh kompetisi pengaruh yang sangat sengit.

Salah satu medan tempur tak terlihat ini terletak di muara Sungai Tumen, sebuah koridor perbatasan sempit yang memisahkan ketiga negara sebelum bermuara ke Laut Jepang.

Tiongkok telah lama berambisi mengamankan hak navigasi bebas di muara sungai ini untuk menghidupkan rute logistik langsung bagi provinsi-provinsi timur lautnya yang terkurung daratan, sekaligus mendiversifikasi rute impor energi dari Rusia di tengah penyumbatan Selat Hormuz akibat perang Amerika Serikat-Iran.

Meskipun Xi Jinping dan Vladimir Putin sepakat melanjutkan konsultasi trilateral mengenai akses Sungai Tumen pada Mei 2026, realitas di lapangan menunjukkan adanya taktik penahanan oleh Rusia dan Korea Utara terhadap Tiongkok.

Jembatan jalan raya Khasan-Tumangang yang baru selesai dibangun dan direncanakan dibuka pada Juni 2026 menjadi bukti nyata.

Jembatan sepanjang satu kilometer ini dibangun dengan ketinggian rendah yang sama dengan Jembatan Persahabatan kereta api tahun 1959.

Ketinggian fisik yang rendah ini secara efektif memblokir kapal-kapal kargo besar Tiongkok untuk melintas menuju Laut Jepang.

Lebih dari sekadar jembatan, infrastruktur ini berfungsi sebagai koridor bypass logistik langsung antara Rusia dan Korea Utara tanpa perlu melewati atau mengandalkan jaringan transportasi Tiongkok.

Dengan demikian, Pyongyang dan Moskwa berhasil menciptakan posisi tawar baru yang mengurangi ketergantungan mutlak mereka pada pengaruh Beijing.

Dampaknya, posisi Tiongkok sebagai pelindung tunggal Korea Utara kini digantikan oleh sistem ketergantungan tripartit yang rumit.

Tiongkok menyadari bahwa Korea Utara yang semakin berani karena jaminan militer Rusia dapat memicu tindakan provokatif yang merusak status quo Semenanjung Korea.

Jika stabilitas pecah, hal itu akan memberi alasan kuat bagi Amerika Serikat untuk memperkuat kehadiran militernya di halaman belakang Tiongkok.

Oleh karena itu, kunjungan Xi ke Pyongyang pada Juni 2026 merupakan upaya reassertasi pengaruh untuk mengingatkan Kim Jong Un bahwa Tiongkok tetaplah penyelamat ekonomi jangka panjang yang tidak tergantikan bagi kelangsungan hidup rezimnya.

Sikap Tiongkok terhadap program nuklir Korea Utara mencerminkan ambivalensi taktis yang sangat pragmatis, sebuah doktrin yang jauh berbeda jika dibandingkan dengan posisinya terhadap masalah nuklir di wilayah lain.

Sebagai perbandingan, Beijing menolak keras kepemilikan senjata nuklir aktif oleh Iran demi mencegah destabilisasi total di Timur Tengah, meskipun tetap bertindak sebagai penyelamat ekonomi dengan membeli mayoritas ekspor minyak mentah Iran.

Di sisi lain, Tiongkok secara historis mendukung program nuklir Pakistan sejak era 1970-an sebagai penyeimbang militer alami terhadap India.

Namun, dalam kasus Korea Utara, Tiongkok terjebak dalam dilema antara komitmen normatif non-proliferasi global dan kepentingan eksistensialnya.

Bagi Beijing, denuklirisasi Semenanjung Korea kini telah bergeser dari prioritas utama menjadi sekadar retorika diplomatik belaka.

Tiongkok sangat menyadari bahwa keruntuhan rezim Kim Jong Un akibat sanksi ekonomi yang terlampau keras justru akan melahirkan skenario terburuk, yakni bersatunya Korea di bawah kepemimpinan Seoul yang bersekutu erat dengan Washington.

Oleh karena itu, Beijing memilih kebijakan "penahanan pragmatis", yakni membiarkan Korea Utara mempertahankan senjata nuklirnya sebagai zona penyangga fisik (buffer zone) dari pasukan darat Amerika Serikat, sembari memastikan Pyongyang tidak melakukan uji coba ekstrem yang dapat memicu perang terbuka.

Korea Utara sangat memahami kartu permainan ini.

Dengan kemajuan teknologi militernya, termasuk inspeksi kapal selam bertenaga nuklir berkapasitas 8.700 ton pada akhir 2025, serta perintah pembangunan kapal perusak berkapasitas 10.000 ton guna memperkuat armada peluncur rudal taktis maritimnya, Pyongyang menuntut agar Beijing mengubur ilusi denuklirisasi.

Jika rilis resmi dari Beijing pasca-pertemuan Xi-Kim mengaburkan atau menghilangkan tuntutan eksplisit mengenai "denuklirisasi", hal tersebut menandakan bahwa Tiongkok secara implisit telah menerima status Korea Utara sebagai negara bersenjata nuklir.

Lawatan Xi ke Pyongyang tidak dapat dilepaskan dari eskalasi konstelasi keamanan regional yang kian memanas.

Asia-Pasifik kini sedang mengalami polarisasi yang cukup rumit, dipicu oleh respons aliansi demokratis terhadap kebangkitan militer Tiongkok dan provokasi Korea Utara.

Di Tokyo, pemerintahan Perdana Menteri Sanae Takaichi yang baru saja memenangkan supermayoritas mutlak dalam pemilu darurat Februari 2026 mengadopsi postur pertahanan paling agresif sejak Perang Dunia II, dengan menargetkan anggaran militer setara 20 persen dari PDB dan mencabut larangan ekspor senjata mematikan.

Langkah Jepang ini dipandang oleh Beijing dan Pyongyang sebagai ancaman langsung terhadap keseimbangan kekuatan regional.

Pada saat yang sama, momentum kerja sama militer antara Jepang dan Korea Selatan terus menguat.

Diskusi mengenai Pakta Akuisisi dan Layanan Silang (ACSA) di Forum Dialog Shangri-La pada Mei 2026 menunjukkan adanya arah integrasi logistik pertahanan trilateral yang semakin kokoh bersama Amerika Serikat.

Meskipun pemerintahan Presiden Lee Jae-myung di Seoul bersikap hati-hati karena sensitivitas historis masyarakat Korea Selatan terhadap militer Jepang, Beijing memandang perkembangan ini sebagai embrio dari "NATO Asia" yang dirancang untuk mengepung pertahanan maritim Tiongkok di sepanjang Rantai Pulau Pertama.

Bahkan kesepakatan kapal selam nuklir strategis antara Seoul dan Washington pada akhir tahun 2025 kian mempertegas bahwa ruang untuk ambiguitas strategis di kawasan ini telah habis.

Meskipun Amerika Serikat di bawah pemerintahan Donald Trump sempat mengalihkan sebagian fokus militernya ke Timur Tengah akibat perang melawan Iran, ditandai dengan penarikan beberapa unit pertahanan udara Patriot dan THAAD dari Korea Selatan, aliansi pertahanan regional tetap bergerak menuju beban pertahanan bersama (burden-sharing) yang lebih besar.

Dalam konteks ini, koordinasi erat antara Tiongkok dan Korea Utara berfungsi sebagai kontra-strategi yang efektif.

Dengan memosisikan diri sebagai tameng utara Tiongkok , Korea Utara bertindak sebagai pengalih perhatian strategis yang mampu memecah konsentrasi militer Amerika Serikat dari Selat Taiwan dan Laut Tiongkok Selatan.

Pada akhirnya, kunjungan Xi Jinping ke Pyongyang pada Juni 2026 menegaskan bahwa arsitektur keamanan Indo-Pasifik tidak lagi ditentukan oleh diplomasi multilateral yang cair, melainkan oleh benturan dua blok kekuasaan yang semakin tajam.

Di satu sisi berdiri aliansi pragmatis utara yang terdiri atas Tiongkok, Rusia, dan Korea Utara yang saling bertukar konsesi militer dan ekonomi demi meredam pengaruh Barat.

Di sisi lain berdiri jaringan pertahanan trilateral Amerika Serikat, Jepang, dan Korea Selatan yang kian terintegrasi.

Pertemuan puncak di Pyongyang tidak akan melahirkan perdamaian baru, melainkan menetapkan garis demarkasi perang dingin baru yang kian tegas, dingin, dan berbahaya bagi masa depan kawasan.

Terkini