Dampak Rupiah Loyo, Target Program 3 Juta Rumah Terancam

Selasa, 19 Mei 2026 | 12:44:26 WIB
Satgas Perumahan bentukan Presiden Prabowo Subianto bakal merealisasikan program 3 juta rumah pada 75.000 desa di seluruh Indonesia (FOTO: NET)

JAKARTA - Asosiasi pengembang properti dan perumahan atau Real Estate Indonesia (REI) memberikan peringatan mengenai ancaman penurunan nilai tukar rupiah terhadap tingkat penyerapan rumah subsidi, termasuk program 3 juta rumah yang dicanangkan oleh pemerintah.

Ketua Umum DPP REI Joko Suranto menyampaikan bahwa melemahnya kurs rupiah turut memberi tekanan bagi perusahaan manufaktur pada sektor industri padat karya yang memiliki utang dalam dolar Amerika Serikat (AS), atau yang pasokan bahan bakunya didatangkan dari luar negeri.

"Kalau pada batas tertentu, waktu tertentu, taruh 3 bulan, 6 bulan kan mungkin mereka masih bisa nahan. Tapi kalau setelah itu kan, itu menjadi sesuatu yang agak bahaya kan," ujar Joko saat ditemui di Jakarta, Senin (18/5/2026).

Joko pun mengingatkan efek dari pelemahan rupiah pada sektor logistik yang berisiko memicu biaya tambahan.

Penurunan daya beli masyarakat juga tidak luput dari perhatiannya, sebab berisiko mengakibatkan angka penyerapan rumah menjadi terhambat.

"Jadi kalau dollar ini semakin tinggi, atau pelemahan rupiah ini, maka juga mengancam terhadap daya beli. Yang kedua juga mendorong kenaikan biaya. Dan itu sama-sama tidak bagus terhadap program 3 juta rumah ini, khususnya untuk penyerapan FLPP (KPR bersubsidi)," tuturnya.

Di samping itu, ia memandang bahwa penjualan rumah komersial bagi kelompok menengah ke atas cenderung tidak begitu terpengaruh karena memiliki daya dukung finansial yang lebih kuat.

Akan tetapi, Joko tetap waspada terhadap potensi penurunan penyerapan rumah subsidi oleh kelompok masyarakat menengah ke bawah.

Terlebih lagi, ia menyoroti fenomena pergeseran kelas menengah yang angkanya mencapai 10 juta orang.

Hal ini mengacu pada penurunan populasi kelas menengah di Indonesia yang merosot dari 57,3 juta jiwa pada 2019 menjadi 47,2 juta jiwa pada 2024.

"Nah sekarang pun relatively juga belum ada perubahan. Kalau dulunya mantab, makan tabungan kan, sekarang ini ada kecenderungannya makan dari utang, ini bahaya," tegas dia.

Lebih jauh, Joko merasa bersyukur lantaran banyak pengembang yang telah mengamankan pasokan material untuk kebutuhan beberapa bulan ke depan.

Oleh karena itu, pelemahan nilai tukar rupiah saat ini masih belum memberikan dampak yang berarti bagi sektor properti.

"Untuk sementara ini belum signifikan, karena persediaan bahan-bahan di kami itu sudah banyak. Jadi barang-barang sudah kami stok," ungkap dia.

"Mungkin ini akan berdampak terhadap 2-3 bulan akan datang. Otomatis kan stok pabrik akan beda dia kan. Ya otomatis harga pasar juga naik," kata Joko.

Terkini