JAKARTA - Pelatih tim nasional Brasil Carlo Ancelotti mengungkapkan alasan di balik keputusannya untuk memanggil kembali bintang utama Santos Neymar Junior lantaran mempunyai keyakinan penuh bahwa sang pemain sanggup menyumbang kontribusi yang besar bagi keutuhan tim.
Ancelotti memaparkan bahwa figur pencetak gol paling subur sepanjang sejarah tim Samba tersebut bakal mampu membuktikan kualitas kelas atas yang dimilikinya dalam ajang Piala Dunia 2026.
“Kamu memilih Neymar bukan karena kami berpikir dia akan bagus sebagai pemain cadangan, tapi karena dia bisa memberikan kualitas di tim, terlepas dia akan memperoleh berapa menit di lapangan,” tutur Ancelotti dalam laman resmi CBF, Selasa. “Kami memilih pemain ini untuk bisa memberikan bantuan kepada tim. Berapa lama? Saya tidak tahu,” imbuh mantan pelatih Real Madrid tersebut.
Neymar tercatat terakhir kali melakoni pertandingan resmi bersama dengan skuad Brasil pada tanggal 17 Oktober 2023 yang lalu tatkala bersua Uruguay dalam gelaran babak Kualifikasi Piala Dunia 2026.
Semenjak momentum tersebut, mantan punggawa Barcelona ini terpantau absen dan tidak pernah lagi dipanggil masuk ke dalam daftar jajaran skuad Brasil disebabkan lebih sering berurusan dengan problem cedera berkepanjangan serta kendala kebugaran fisik.
Kehadiran kembali dari sosok Neymar tentu saja bertindak sebagai angin segar bagi keutuhan skuad Selecao lantaran situasi internal ruang ganti pemain pada saat sekarang ini membutuhkan figur pemain senior yang kaya pengalaman.
Penyerang yang kini telah menginjak usia 34 tahun tersebut bakal membukukan catatan keikutsertaannya dalam ajang Piala Dunia untuk kali keempat sepanjang karier profesionalnya.
Pada rentang waktu sebelumnya, Neymar tercatat sudah pernah ikut ambil bagian dalam memeriahkan pesta sepak bola terakbar dunia itu pada edisi Piala Dunia 2014, 2018, serta 2022.
Brasil dijadwalkan bakal bersua dengan deretan lawan yang terhitung lumayan kuat dan berpotensi menjadi batu sandungan besar di fase grup Piala Dunia 2026 karena harus menghadapi Maroko, Haiti, dan Skotlandia.