Rupiah Anjlok Dekati Rp17.650 Per Dolar AS Awal Pekan Ini

Senin, 18 Mei 2026 | 11:13:00 WIB
Ilustrasi Dollar dan Rupiah (FOTO: NET)

JAKARTA - Kurs rupiah memulai transaksi pertama di pekan ini dengan mencatatkan penurunan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan data dari Refinitiv, mata uang Indonesia pada transaksi Senin (18/5/2026) mengawali hari di area negatif.

Rupiah mengalami koreksi dalam sebesar 0,97% dan merosot menuju posisi Rp17.630/US$.

Kondisi ini bertolak belakang dengan penutupan transaksi terakhir pekan lalu pada Rabu (13/5/2026) sebelum jeda libur panjang.

Kala itu, rupiah berhasil mengakhiri hari dengan kenaikan 0,17% pada posisi Rp17.460/US$.

Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) pada jam 09.00 WIB terpantau mengalami penguatan sebesar 0,09% menuju posisi 99,370.

Laju rupiah pada transaksi hari ini diprediksi bakal tetap terdampak oleh sentimen luar negeri.

Faktor krusial bersumber dari tersendatnya negosiasi AS-Iran dalam meredakan perselisihan, sehingga minat atas dolar AS di pasar dunia tetap kokoh.

Beban itu tampak dari pergerakan indeks dolar AS yang merangkak naik sejak pekan lalu.

Mata uang kokoh tersebut menguat lima hari berturut-turut hingga transaksi Jumat dan berada dalam tren pertumbuhan mingguan tertinggi selama dua bulan terakhir.

Apresiasi dolar AS ini terjadi seiring bergesernya prediksi pasar terkait haluan kebijakan moneter bank sentral AS, The Federal Reserve atau The Fed.

Pelaku pasar mulai melihat adanya potensi kenaikan suku bunga acuan lagi, menyusul beberapa data ekonomi AS yang mengindikasikan tekanan harga yang masih menanjak.

Situasi ini turut memicu keuntungan atau yield US Treasury merangkak naik.

Yield surat utang pemerintah AS berdurasi 10 tahun sempat menyentuh angka 4,581%, titik tertinggi dalam setahun, dipicu kecemasan inflasi dari konflik Iran serta macetnya operasional di Selat Hormuz.

Beberapa petinggi The Fed dalam bermacam momentum belakangan ini pun menekankan bahwa memitigasi tekanan inflasi agar terkontrol tetap jadi fokus utama.

Sejumlah petinggi malah membuka peluang kenaikan suku bunga acuan kembali diterapkan jika tekanan harga terus memanas.

Melihat CME FedWatch, para pelaku pasar saat ini memproksikan probabilitas The Fed mengerek suku bunga sekurangnya 25 basis poin pada rapat Desember menembus 48,4%.

Persentase ini melompat drastis ketimbang pekan lalu yang cuma bertengger di angka 14,3%.

Kokohnya dolar AS di pasar internasional pada akhirnya berpotensi menjepit ruang apresiasi mata uang negara lain, tidak terkecuali rupiah.

Keadaan tersebut menjadikan posisi rupiah masih rawan berjalan melemah pada pembukaan transaksi pekan ini.

Terkini