Perjuangan Nenek Jumaria: Nabung di Ember hingga Jadi Ikon Haji

Senin, 18 Mei 2026 | 10:59:27 WIB
Nenek Jumaria (FOTO: NET)

MAKKAH - Sebuah kamar penginapan di wilayah Jarwal tampak dipadati oleh orang-orang tidak seperti biasanya.

Ruangan tersebut menjadi tempat tinggal bagi seorang jemaah lansia bernama Jumaria yang berasal dari Maros selama menunaikan ibadah di Tanah Suci.

Sejumlah jemaah dari ruangan lain terlihat berkerumun di area pintu dan sesekali mengintip ke dalam karena merasa penasaran dengan proses wawancara yang dilakukan oleh tim Media Center Haji (MCH) terhadap perempuan tersebut.

"Ini kamarnya ibu Jumaria yang terkenal itu," bisik salah seorang jemaah lain asal Maros kepada salah satu tim MCH.

Di area lorong penginapan, para tetangga kamar dan jemaah lainnya juga kedapatan menghentikan langkah kaki mereka demi menyaksikan kehebohan kecil tersebut.

Mereka menuturkan turut merasakan kebahagiaan lantaran ada sosok warga bersahaja dari daerah mereka yang mendadak populer hingga ke kancah internasional.

"Bangga sekali, orang asal kampung kami bisa dikenal dunia," ujar salah seorang jemaah yang ikut menengok dari depan pintu kamar.

Di dalam ruangan, lansia yang berasal dari Desa Kurusumange itu terlihat duduk di atas tempat tidur sambil memegang ujung jilbab hitamnya yang kerap dipakai menyeka air mata kebahagiaan.

Sitti Hawaisyah selaku Ketua Kloter UPG 14 bersama rekan sekamar lainnya turut mendampingi serta membantu memberikan jawaban kepada tim MCH tatkala sang nenek merasa kelu karena luapan rasa syukur yang teramat besar.

Semenjak menginjakkan kaki di tempat suci ini, sosoknya memang menarik perhatian banyak kalangan.

Perjalanan hidupnya yang sebatang kara selama puluhan tahun serta kegigihannya mengumpulkan uang sedikit demi sedikit di dalam wadah ember hingga mampu berangkat ke baitullah, membuat profilnya diangkat dalam materi publikasi global musim haji Arab Saudi tahun ini.

Kendati tengah menjadi pusat perhatian, ia tetap memperlihatkan pribadi yang rendah hati serta kerap tersipu saat menerima sanjungan.

"Nggak tahu (kalau dirinya terkenal). Alhamdulillah, saya lihat, saya dengar itu. Senang juga," katanya pelan sambil tersenyum malu.

Pada usia yang telah menginjak kepala tujuh, impian perempuan tua ini untuk menginjakkan kaki di tanah suci akhirnya terwujud nyata.

Pengalaman yang paling melekat erat di sanubarinya ialah ketika berkesempatan mendatangi makam Nabi Muhammad di Raudhah yang berada di Masjid Nabawi, serta momen perdana menyaksikan langsung wujud Ka'bah di Masjidil Haram.

Tatkala topik tersebut disinggung kembali, air matanya spontan mengalir deras.

Ucapannya sempat terputus sebelum akhirnya berubah menjadi tangisan penuh keharuan.

"Alhamdulillah saya senang sekali. Kenapa aku bisa di sini. Saya orang miskin...," ucapnya lirih.

Suasana haru tersebut seketika menular kepada seluruh orang yang berada di dalam ruangan tersebut.

Beberapa orang tampak menunduk sembari ikut meneteskan air mata kebahagiaan, tidak terkecuali para kru MCH.

Perempuan paruh baya itu kemudian melanjutkan penuturannya mengenai perjuangan panjang yang telah dilaluinya demi bisa sampai ke tempat suci ini.

Sebelum bertolak ke Madinah dan Makkah, kehidupannya dilalui dalam kesunyian yang mendalam selama lebih dari dua puluh tahun.

"Tidak ada anak," ujarnya saat ditanya tentang keluarganya.

Aktivitas kesehariannya di area pedesaan berjalan dengan sangat sederhana.

Usai menunaikan ibadah salat Subuh, ia bergegas memberi pakan hewan ternaknya, merapikan kediaman, menimba air, mencuci baju, lalu menyiapkan hidangan secara mandiri.

Begitu seluruh urusan domestik beres, ia barulah beranjak menuju area persawahan maupun ladang.

"Kalau selesai pekerjaan di rumah, pergi ke sawah. Lihat-lihat padi, bersih-bersihkan rumputnya," tuturnya.

Lahan sawah tersebut berlokasi tak jauh dari kediamannya, sedangkan ladang yang dikelolanya merupakan kepunyaan dari warga sekitar.

Di lahan ladang itu, ia menanam tanaman berupa ubi jalar, ubi kayu, hingga tanaman jagung.

"Dimakan sendiri saja. Karena bukan saya punya kebun. Kebunnya orang. Saya kerja," katanya.

Lewat pendapatan dari sektor pertanian itulah ia mulai mengumpulkan dana sedikit demi sedikit guna bekal berhaji.

Uang hasil keringatnya itu disisihkan secara konsisten selama bertahun-tahun lamanya.

"Kalau saya dapat 100 ribu, saya simpan 50 ribu, kumpulkan," ujarnya.

Ketika ditanyai perihal tempat penyimpanan uang untuk ongkos ibadah tersebut, suasana di dalam ruangan penginapan seketika berubah ceria oleh gelak tawa ringan.

"Di ember," jawab Jumaria singkat sambil ikut tertawa malu.

Ia mengungkapkan sama sekali tidak pernah mendaftarkan diri ke lembaga perbankan lantaran jarak kantor bank yang terlampau jauh serta ketidakpahamannya mengenai prosedur perbankan.

"Saya nabung di ember saja," ulangnya.

Dibutuhkan perjuangan dalam rentang waktu yang lama hingga dirinya berhasil melakukan registrasi pendaftaran ibadah ini pada tahun 2011 silam.

Sosok perempuan ini dikenal memiliki determinasi yang luar biasa tinggi dalam menjalankan rangkaian ibadah.

Bahkan setelah mendarat di kota suci, ia diketahui telah melaksanakan ibadah umrah sunnah sesudah sebelumnya merampungkan kewajiban umrah wajibnya.

Pimpinan kelompok terbang beserta rekan satu kamarnya pun seringkali merasa kewalahan mengimbangi energi luar biasa dari lansia tersebut.

Pihak pendamping bahkan menuturkan bahwa sang nenek hampir tidak pernah mengeluarkan keluhan sepanjang prosesi ibadah berlangsung.

"Masyaallah ia sangat kuat," ujar Ketua Kloter UPG 14 Sitti Hawaisyah yang mendampinginya.

Hawaisyah pun menambahkan bahwa antusiasme tinggi dari sang nenek sudah terlihat bahkan semenjak sebelum jadwal keberangkatan dimulai.

"Beliau ini tidak pernah absen manasik haji, selalu datang," ungkapnya.

Saat dikonfirmasi mengenai tips menjaga kebugaran fisiknya, ia mengutarakan bahwa kondisi tersebut dipengaruhi oleh kebiasaan hidupnya yang aktif bergerak.

"(Karena) berkebun dan bertani. Banyak minum juga, sedikit-sedikit minum," jawab Jumaria.

Kini, sesudah melewati masa puluhan tahun dalam kesendirian di desa kecilnya, ia tengah bersiap untuk melaksanakan ibadah inti di padang Arafah.

Tatkala ditanya perihal permohonan apa yang hendak disampaikan di tempat suci ini, perempuan lanjut usia itu kembali diselimuti rasa haru.

Bibirnya tampak bergetar bersamaan dengan air mata yang menetes membasahi wajahnya.

Ia lantas menangkupkan kedua belah telapak tangannya ke arah muka secara perlahan.

Hal yang pasti, seisi ruangan memahami betapa besarnya rasa syukur serta kebahagiaan yang melingkupi dirinya, sebuah rasa yang tampaknya teramat sulit untuk diungkapkan lewat untaian kata.

Terkini