SOLO - Sebagai seorang anak punk, sosok Hafid (22) sering kali dipandang rendah oleh masyarakat sekitar.
Ia memiliki gaya rambut mohawk dengan cat merah yang mencolok.
Bagian hidungnya dihiasi piercing yang kerap dianggap sebagai simbol pemberontakan anak muda.
Gaya berpakaiannya pun serba hitam, dipadukan dengan jaket kulit berduri, celana ketat, serta sepatu boot.
Namun ada yang berbeda, pemuda asal Pemalang, Jawa Tengah ini setiap pagi tidak lagi menghabiskan waktu dengan mengamen di jalanan.
Ia mengendarai motornya menuju ke arah Pasar Legi di Solo.
Semenjak berpindah ke Solo pada awal 2025 sampai sekarang, Kipli, panggilan akrabnya, menjalani profesi sebagai kurir sayur.
Ia bekerja di Depot Sayur Sejahtera yang dimiliki oleh temannya, Hilman Ramadhon (29).
"Sebelumnya, pas di Pemalang, aku kerja di bengkel sama jualan kopi juga," kata dia, saat ditemui Kompas.com pada Selasa (21/4/2026).
Walaupun pekerjaannya saat ini sudah berganti, Kipli tetap menjaga identitasnya sebagai penganut gaya punk.
Setiap hari, berbagai aksesori punk tetap menempel di tubuhnya meski ia harus pergi kulakan ke pasar.
Jauh sebelum bekerja menjadi pengantar sayur di Solo, Kipli melewati masa mudanya di daerah Pemalang.
Ia tumbuh layaknya remaja laki-laki pada umumnya yang memiliki rasa ingin tahu yang besar.
Hal itu termasuk saat ia duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) ketika lingkungannya mulai menyukai gaya punk.
Ia pun memutuskan untuk bergabung karena merasa penasaran.
"Awalnya aku ngelihat anak punk itu apaan sih, hidupnya enggak jelas di jalan terus ngamen," kata dia.
Akan tetapi, ketika mendalami komunitas tersebut, punk justru memberikannya banyak pelajaran hidup.
Gerakan yang kental dengan kebebasan individu ini mendidik Kipli bahwa manusia wajib mandiri serta bertanggung jawab pada dirinya sendiri.
"Punk adalah cara berpikir, mentalitas dan sikap hidup, dan nilainya. Kalau dalam anak punk itu ada istilah 'Do It Yourself', yaitu inisiatif untuk menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa bergantung atau mencari validasi," kata Kipli.
Pemahaman tersebut yang memicu keyakinan Kipli untuk merantau ke Solo dan bergabung berjualan sayur bersama Hilman.
Pertemuan Kipli dengan Hilman bermula saat ia sedang menghadiri acara komunitas Vespa di Solo pada tahun 2024.
Di tempat itu, ia berkenalan dengan Hilman yang ternyata juga merupakan seorang anak punk.
Tampilan Hilman justru sama sekali tidak memperlihatkan ciri-ciri identitas anak punk.
Laki-laki asal Jakarta tersebut cuma memakai kaos, celana pendek, serta kacamata.
Tidak terlihat adanya jaket kulit, sepatu boot, tindikan, ataupun tato pada badannya.
Rambut pria itu pun tertata rapi dengan warna hitam yang alami.
Kesamaan minat Hilman dan Kipli terhadap budaya punk membuat keduanya cepat merasa akrab.
"Dari situ akhirnya kenalan, tukeran kontak, saling follow. Aku juga main ke tempat dia tinggal," katanya.
Kipli mengingat, saat itu Hilman masih menjalankan usaha kopi gerobak dan baru saja pindah dari Jakarta ke Solo, Jawa Tengah.
Tidak ada yang menyangka bahwa pertemuan tersebut akan mengubah jalan hidup Kipli.
Beberapa bulan setelah ia kembali ke Pemalang, Kipli melihat unggahan video Hilman yang tengah berjualan sayur menggunakan motornya.
Laki-laki itu ternyata telah mendirikan usaha bernama Depot Sayur Sejahtera.
"Dia (Hilman) bilang kalau lagi membuka Depot Sayur Sejahtera dan butuh rekan kerja. Ya sudah, aku menawarkan diri," ucapnya.
Tawarannya disambut baik, Hilman menerima bantuan Kipli untuk bekerja bersamanya.
Malam itu juga, Hilman meminta Kipli untuk segera menuju Solo guna mulai bekerja.
"Malamnya aku langsung berangkat. Enggak punya modal, enggak punya apa. Langsung berangkat," kenang Kipli.
Gaya penampilan Kipli sebagai anak punk sering dianggap aneh oleh orang-orang di sekitarnya.
Terutama saat ia harus keluar masuk pasar untuk mencari stok sayuran yang segar.
"Sering banget di pasar waktu aku pakai baju seperti ini, orang-orang pada bilang, 'Wong opo ini? (Orang apa ini?)'. Terus beberapa juga ada yang takut," cerita Kipli.
Ia juga bercerita pernah ditanyai oleh seorang ibu saat sedang membeli bawang untuk pesanan pelanggannya.
"Ibu itu bilang ke penjualnya, 'Bu, iki sopo? (Bu, ini siapa?)'. Terus ibu penjualnya bilang kalau aku pelanggan tetap. Habis itu, ibunya bilang lagi, 'Kok ngene? (Kok kayak gini?)'. Rambutnya merah," tambah Kipli.
Namun Kipli tidak merasa sakit hati dengan hal itu.
Ia memilih diam saat orang-orang memandangnya dengan tatapan tidak biasa.
Menurut pendapatnya, stigma masyarakat sudah terlanjur menilai anak punk sebatas pada aksesori yang dipakai, lalu mengaitkannya dengan perilaku nakal.
"Ternyata masyarakat itu tahunya punk ya cuma sebatas tampilan. Rebel karena tindikan, misalnya. Mereka enggak tahu kalau punk itu sebenarnya bukan cuma fashion," terang Kipli.
Meskipun tetap mempertahankan gaya punk-nya, Kipli mengakui merasakan banyak perubahan positif setelah menjadi pengantar sayur.
Ia kini lebih terbiasa bangun pagi lantaran harus menuju pasar untuk mendapatkan sayur-mayur yang masih segar.
"Aku sekarang bisa bangun lebih pagi. Tadinya aku bangun jam 10.00 WIB terus enggak tahu mau ngapain. Semenjak berjualan sayur, aku bangun pagi, jam 05.00 WIB buat ke pasar," ucapnya.
Selain itu, situasi pasar yang ramai memaksa Kipli untuk lebih berani berinteraksi dengan orang lain, hal yang jarang dilakukan sebelumnya.
"Di sini aku belajar untuk lebih disiplin karena itu tanggung jawabku sekarang," kata Kipli.
Ia merasa sangat menikmati profesi barunya sebagai kurir sayur bersama dengan Hilman.
Selain menjadi lebih disiplin dan terbiasa bangun pagi, Kipli juga tetap bisa menyalurkan kesenangannya dalam mengendarai motor.
"Nambah berat badan juga di sini," kata Kipli sambil tertawa.
Seiring dengan populernya Depot Sayur Sejahtera, label "punk" kian melekat pada usaha yang dikelola Hilman.
Walaupun demikian, pria berkacamata tersebut mengaku tidak merasa keberatan.
Status "anak punk" dari penilaian masyarakat justru dijadikan sebagai sarana untuk pembuktian diri.
"Selama ini stigma orang soal punk itu bau, terus ngamen di pinggir jalan. Tapi di situ aku mencoba ngebuktiin kalau ada punk ada kok yang mau bekerja, mau mandiri untuk hidupnya sendiri," kata dia.
Bagi Hilman, punk merupakan salah satu bagian dari perjalanan hidup yang pernah ia lalui dan memberikannya banyak pelajaran berarti.
Meski identitas tersebut masih menempel dalam kesehariannya, Hilman mengaku sama sekali tidak merasa terganggu.
"Ya emang kenapa kalau punk jadi tukang sayur?" tuturnya tersenyum.