JAKARTA - Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI) melakukan identifikasi cepat terhadap seorang Warga Negara Asing (WNA) di Jakarta Pusat yang menjadi kontak erat klaster hantavirus dari kapal pesiar MV Hondius.
Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, menyatakan bahwa proses identifikasi ini diawali oleh laporan International Health Regulation (IHR) National Focal Point (NFP) Inggris pada 7 Mei 2026 malam.
Pria berusia 60 tahun tersebut memiliki riwayat kontak sangat dekat dengan pasien konfirmasi kedua dari klaster kapal tersebut yang telah meninggal dunia.
WNA yang bekerja di perusahaan asing di Indonesia ini sempat berada di satu hotel yang sama dengan pasien yang meninggal saat singgah di St. Helena pada 24 April 2026.
Keduanya juga berada dalam satu pesawat dari St. Helena menuju Johannesburg, Afrika Selatan, dengan posisi tempat duduk yang berdekatan.
"Respons kami sangat cepat. Begitu mendapatkan notifikasi pada 7 Mei pukul 21.55 WIB, keesokan harinya kami langsung melakukan penyelidikan epidemiologi dan koordinasi lintas sektor," ujar Andi Saguni.
Kemenkes menepis kekhawatiran adanya kontak dengan orang lain sebelum yang bersangkutan menjalani pemantauan di RSPI Sulianti Saroso.
"Kontak erat yang dimaksud sudah memiliki pengalaman dan kewaspadan tinggi khususnya terkait Hantavirus, sehingga setelah tiba di indonesia, dan mendapatkan notfikasi dari Inggris, dia karantina mandiri di tempat tinggal dan bekerja WFH," jelas Andi.
Pemerintah menegaskan bahwa yang bersangkutan sangat kooperatif dan bersedia mengikuti seluruh prosedur keselamatan yang ditetapkan.
WNA tersebut kembali ke Indonesia pada 30 April 2026 melalui rute Zimbabwe dan Qatar, kemudian dievakuasi oleh tim Kemenkes ke RSPI Sulianti Saroso pada 9 Mei 2026 untuk pemeriksaan spesimen.
"Hasil pemeriksaan PCR menyatakan yang bersangkutan negatif hantavirus. Lima spesimen yang kami ambil semuanya menunjukkan hasil negatif," tegas Andi.
Meski secara pedoman WHO yang bersangkutan dapat melakukan karantina mandiri, pemantauan tetap dilakukan di RSPI SS untuk meningkatkan kewaspadaan.
"Kontak erat ini tinggal sendiri, komunikasi dengan orang lain itu tidak ada, di samping pemahamannya sudah bagus," lanjutnya.
Kondisi kontak erat tersebut akan terus dievakuasi setiap hari dan akan menjalani tes lanjutan untuk memastikan kondisi benar-benar bebas dari virus mengingat masa inkubasi yang panjang.