JAKARTA - Pertumbuhan pembiayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) kembali menunjukkan geliat positif pada awal tahun 2026.
Salah satu indikatornya terlihat dari penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) syariah yang terus mengalir ke sektor produktif. PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk atau BSI menjadi salah satu lembaga keuangan yang aktif mendorong pembiayaan tersebut sebagai bagian dari penguatan ekonomi berbasis syariah.
Sepanjang Januari hingga Februari 2026, BSI telah menyalurkan KUR syariah sebesar Rp 1,65 triliun kepada lebih dari 11.000 pelaku usaha. Realisasi ini setara dengan 11,1 persen dari total alokasi yang diberikan pemerintah.
Angka tersebut menunjukkan komitmen BSI dalam memperluas akses pembiayaan bagi UMKM, sekaligus mendukung pertumbuhan sektor riil yang berkelanjutan.
Penyaluran KUR Syariah Dorong Pertumbuhan UMKM Produktif
Direktur Retail Banking BSI, Kemas Erwan Husainy, menegaskan bahwa dalam proses penyaluran KUR syariah, perusahaan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian. Hal ini penting untuk menjaga kualitas pembiayaan agar tetap sehat di tengah dinamika ekonomi yang terus berubah.
"Penyaluran pembiayaan dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan analisis makroekonomi serta tren kualitas pembiayaan," ujarnya.
Pendekatan selektif tersebut tidak hanya bertujuan menjaga stabilitas portofolio, tetapi juga memastikan bahwa pembiayaan yang disalurkan benar-benar memberikan dampak nyata bagi pelaku usaha.
Dengan demikian, KUR syariah tidak hanya menjadi instrumen pembiayaan, tetapi juga katalis pertumbuhan ekonomi di tingkat akar rumput.
Fokus pada sektor produktif menjadi strategi utama BSI dalam mengoptimalkan penyaluran dana. Hal ini sejalan dengan arah kebijakan pemerintah yang mendorong pembiayaan ke sektor-sektor yang mampu menciptakan nilai tambah dan lapangan kerja.
Fokus Pada Sektor Halal Dan Aktivitas Bernilai Tambah
Dalam implementasinya, penyaluran KUR syariah oleh BSI banyak diarahkan ke sektor-sektor produktif seperti makanan dan minuman halal, jasa, serta perdagangan. Ketiga sektor ini dinilai memiliki potensi pertumbuhan yang tinggi sekaligus relevan dengan kebutuhan pasar domestik.
Dari total pembiayaan yang telah disalurkan, sekitar 65 persen dialokasikan ke sektor produksi, sementara 35 persen sisanya mengalir ke sektor non-produksi. Komposisi ini mencerminkan upaya BSI dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan usaha.
"Komposisi ini mencerminkan strategi BSI dalam mendorong aktivitas ekonomi yang bernilai tambah serta berkelanjutan," kata Kemas.
Penekanan pada sektor produksi menjadi langkah strategis dalam memperkuat fondasi ekonomi nasional. Dengan meningkatkan kapasitas produksi UMKM, diharapkan daya saing produk lokal juga ikut meningkat, baik di pasar domestik maupun internasional.
Selain itu, tren pertumbuhan industri halal yang terus menunjukkan peningkatan turut menjadi faktor pendorong optimisme. Ekosistem halal yang semakin berkembang membuka peluang besar bagi pelaku usaha untuk memperluas pasar dan meningkatkan skala bisnis.
Ekosistem UMKM Menguat Didukung Kebijakan Dan Program Pemerintah
Optimisme terhadap pertumbuhan UMKM pada 2026 tidak lepas dari dukungan berbagai kebijakan dan program pemerintah. Selain KUR syariah, terdapat pula program pengembangan ekosistem berbasis komunitas seperti MBG melalui penyediaan SPPG, serta pembiayaan mikro dan small medium enterprise (SME).
BSI melihat bahwa kombinasi antara pembiayaan yang tepat sasaran dan dukungan kebijakan akan mempercepat pertumbuhan UMKM secara signifikan. Hal ini juga menjadi indikasi bahwa sektor UMKM masih menjadi tulang punggung ekonomi nasional.
"Kami melihat ekosistem UMKM terus menguat, didorong oleh program seperti KUR Syariah, pengembangan ekosistem MBG melalui penyediaan SPPG, serta pembiayaan mikro dan SME," ucapnya.
Dengan adanya sinergi antara perbankan dan pemerintah, pelaku usaha diharapkan dapat memperoleh akses yang lebih luas terhadap pembiayaan, pendampingan, hingga pasar. Ini menjadi penting untuk memastikan keberlanjutan usaha di tengah tantangan global.
Kinerja Pembiayaan BSI Tumbuh Seiring Kontribusi Segmen Ritel
Kinerja positif pada segmen UMKM turut memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan pembiayaan BSI secara keseluruhan. Hingga Februari 2026, total pembiayaan perseroan mencapai Rp 323 triliun, atau tumbuh 14,32 persen secara tahunan (year on year).
Pertumbuhan tersebut didukung oleh berbagai segmen, termasuk konsumer yang menunjukkan performa kuat, terutama pada bisnis emas. Di sisi lain, pembiayaan ritel termasuk UMKM tercatat sebesar Rp 52,43 triliun atau tumbuh 6,10 persen secara tahunan.
Capaian ini mencerminkan strategi BSI yang tidak hanya fokus pada ekspansi pembiayaan, tetapi juga menjaga kualitas dan keberlanjutan bisnis. Dengan portofolio yang terdiversifikasi, BSI mampu menjaga stabilitas kinerja di tengah kondisi ekonomi yang dinamis.
Ke depan, BSI optimistis bahwa tren pertumbuhan ini akan terus berlanjut. Dukungan terhadap sektor produktif, khususnya UMKM, diyakini akan menjadi pilar utama dalam memperkuat ekonomi nasional sekaligus mendorong inklusi keuangan berbasis syariah.
Dengan berbagai strategi yang telah dijalankan, penyaluran KUR syariah tidak hanya menjadi solusi pembiayaan, tetapi juga bagian dari upaya membangun ekosistem ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.