Rupiah Diprediksi Melemah Terbatas Pekan Depan Dipicu Sentimen Global Dominan

Jumat, 03 April 2026 | 09:57:59 WIB
Rupiah Diprediksi Melemah Terbatas Pekan Depan Dipicu Sentimen Global Dominan

JAKARTA - Tekanan terhadap nilai tukar rupiah masih belum mereda dalam beberapa hari terakhir. 

Pergerakan mata uang Garuda cenderung melemah, dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik yang belum sepenuhnya mendukung penguatan. Kondisi ini membuat pelaku pasar mulai memperkirakan arah rupiah dalam jangka pendek dengan lebih hati-hati.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot pada Kamis melemah 0,11% secara harian ke level Rp17.002 per dolar AS. Dalam sepekan, pelemahan mencapai 0,57% dibandingkan posisi Rp16.904 per dolar AS pada Kamis pekan sebelumnya. Pergerakan ini mencerminkan tekanan yang konsisten sepanjang minggu.

Pergerakan rupiah dalam sepekan terakhir

Mengacu pada kurs referensi Jisdor yang dirilis oleh Bank Indonesia, rupiah juga mencatat pelemahan. Secara harian, nilai tukar turun 0,07% ke Rp17.015 per dolar AS pada Kamis. Sementara dalam sepekan, pelemahan mencapai 0,66%.

Perbedaan tipis antara pasar spot dan Jisdor menunjukkan konsistensi tren pelemahan. Hal ini memperlihatkan bahwa tekanan terhadap rupiah terjadi secara merata di berbagai indikator nilai tukar.

Kondisi ini tidak terlepas dari meningkatnya ketidakpastian global. Investor cenderung mengalihkan dana ke aset yang lebih aman, sehingga mata uang negara berkembang seperti rupiah mengalami tekanan.

Sentimen geopolitik menjadi faktor utama

Analis mata uang Ibrahim menyebut bahwa pelemahan rupiah dalam sepekan terakhir sangat dipengaruhi oleh konflik di Timur Tengah. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat dan memicu kekhawatiran pasar.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, bahkan mengancam akan “menghancurkan” pembangkit energi dan sumur minyak Iran jika Teheran tidak membuka Selat Hormuz. Ancaman ini muncul setelah Iran menolak proposal perdamaian yang dianggap “tidak realistis”.

Di sisi lain, Iran menyatakan siap menghadapi invasi darat oleh Amerika Serikat. Situasi ini semakin memanas setelah adanya laporan pengerahan ribuan pasukan AS ke kawasan Timur Tengah. Meski begitu, Gedung Putih menyebut pembicaraan masih berlangsung.

“Pasar tetap waspada terhadap potensi eskalasi perang Iran setelah kelompok Houthi yang berbasis di Yaman dan didukung Iran menyerang Israel pada akhir pekan lalu. Kelompok Houthi dapat membuka front baru dalam perang, mengingat mereka memiliki kemampuan untuk melancarkan serangan di Laut Merah,” ujar Ibrahim, Jumat.

Tekanan dari sisi fiskal dan harga minyak

Selain faktor global, rupiah juga tertekan oleh kondisi domestik, khususnya dari sisi fiskal. Pemerintah memperkirakan defisit APBN akan melebar akibat meningkatnya beban subsidi energi.

Kenaikan harga minyak dunia menjadi pemicu utama tekanan tersebut. Setiap kenaikan harga minyak sebesar US$1 per barel diperkirakan menambah defisit sekitar Rp6 triliun. Hal ini membuat ruang fiskal pemerintah menjadi lebih terbatas.

Defisit APBN yang sebelumnya ditargetkan sebesar Rp689,1 triliun atau 2,68% terhadap PDB berpotensi meningkat hingga 2,9% jika harga minyak bertahan di level US$100 per barel. Meski demikian, pemerintah masih optimistis defisit tetap berada di bawah batas aman 3%.

Target defisit APBN 2026 sendiri ditetapkan sebesar 2,68% terhadap PDB dengan asumsi Indonesian Crude Price (ICP) di level US$70 per barel. Fluktuasi harga minyak global menjadi faktor kunci yang akan menentukan realisasi angka tersebut.

Faktor global yang akan menentukan arah rupiah

Menurut Research and Development ICDX, Muhammad Amru Syifa, pergerakan rupiah ke depan akan sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal. Salah satu yang menjadi perhatian utama adalah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat.

Selain itu, rilis data ekonomi seperti Nonfarm Payrolls (NFP) dan inflasi AS juga akan menjadi penentu arah pasar. Data tersebut dapat memengaruhi ekspektasi suku bunga dan arus modal global.

Perkembangan geopolitik di Timur Tengah tetap menjadi faktor krusial. Ditambah lagi, pergerakan harga komoditas, khususnya minyak, turut memberikan dampak besar terhadap mata uang negara berkembang.

Di sisi domestik, inflasi Indonesia yang turun ke level 3,48% secara tahunan pada Maret 2026 memberikan sinyal positif. Namun, dampaknya terhadap penguatan rupiah dinilai masih terbatas.

“Kebijakan Bank Indonesia (BI) melalui instrumen seperti SVBI dan SUVBI diharapkan dapat menjaga stabilitas dan likuiditas valas, namun dalam jangka pendek pergerakan rupiah masih akan lebih banyak dipengaruhi oleh dinamika eksternal,” ujar Amru.

Proyeksi pergerakan rupiah pekan depan

Untuk pekan depan, analis memperkirakan rupiah masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah terbatas. Ibrahim memproyeksikan rupiah berada dalam kisaran Rp16.980 hingga Rp17.120 per dolar AS.

Sementara itu, Amru memperkirakan kisaran pergerakan sedikit lebih sempit, yakni antara Rp16.950 hingga Rp17.100 per dolar AS. Kedua proyeksi ini menunjukkan bahwa tekanan eksternal masih menjadi faktor dominan.

Meski demikian, peluang penguatan tetap terbuka jika sentimen global membaik. Stabilitas geopolitik dan penurunan harga minyak dapat menjadi katalis positif bagi rupiah.

Dengan berbagai faktor tersebut, pelaku pasar diharapkan tetap mencermati perkembangan global dan domestik secara seimbang. Pergerakan rupiah dalam waktu dekat akan sangat ditentukan oleh dinamika eksternal yang masih penuh ketidakpastian.

Terkini