JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah kembali menjadi perhatian pelaku pasar di tengah dinamika global yang terus berkembang.
Pada perdagangan Kamis, 2 April 2026, rupiah diperkirakan bergerak dengan kecenderungan melemah terhadap dolar Amerika Serikat, meskipun sebelumnya sempat mencatat penguatan. Kondisi ini mencerminkan tarik-menarik antara sentimen global dan fundamental domestik.
Setelah ditutup menguat pada perdagangan sebelumnya, rupiah kini menghadapi tekanan baru dari perkembangan geopolitik serta fluktuasi pasar global. Investor pun cenderung berhati-hati dalam mengambil posisi, sembari mencermati berbagai faktor yang memengaruhi arah pergerakan mata uang.
Pergerakan rupiah dan mata uang Asia lainnya
Nilai tukar rupiah diperkirakan akan ditutup melemah pada kisaran Rp16.980 hingga Rp17.020 per dolar AS pada Kamis (2/4/2026). Sebelumnya, rupiah ditutup menguat 0,34% ke posisi Rp16.983 per dolar AS pada perdagangan Rabu (1/4/2026).
Sementara itu, indeks dolar AS tercatat melemah 0,31% ke level 99,64. Pelemahan dolar ini memberikan ruang bagi mata uang lain untuk bergerak menguat, meskipun tidak merata di seluruh kawasan.
Sejumlah mata uang Asia menunjukkan pergerakan yang bervariasi. Yen Jepang menguat 0,01%, dolar Hong Kong naik 0,02%, dolar Singapura menguat 0,24%, dolar Taiwan naik 0,28%, dan won Korea Selatan menguat 0,64%.
Selain itu, peso Filipina menguat 0,85%, yuan China naik 0,24%, ringgit Malaysia menguat 0,58%, dan baht Thailand naik 0,23%. Pergerakan ini mencerminkan respons pasar terhadap dinamika global yang masih penuh ketidakpastian.
Sentimen global dari kebijakan Amerika Serikat
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menuturkan bahwa sentimen global banyak dipengaruhi oleh pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Trump menyatakan bahwa Washington dapat menarik diri dari konflik dalam waktu dua hingga tiga minggu. Ia juga menambahkan bahwa Iran tidak perlu membuat kesepakatan untuk mengakhiri konflik tersebut.
Namun, laporan Wall Street Journal menyebutkan bahwa Trump bersedia mengakhiri kampanye militer terhadap Iran meskipun Selat Hormuz masih sebagian besar tertutup. Pernyataan ini menambah kompleksitas interpretasi pasar terhadap arah kebijakan AS.
Respon Iran dan dinamika konflik Timur Tengah
Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa negaranya siap mengakhiri perang. Namun, pernyataan tersebut tetap disertai sejumlah tuntutan utama yang harus dipenuhi.
Sinyal diplomatik ini sempat memunculkan harapan akan munculnya negosiasi. Meski demikian, pasar tetap bersikap hati-hati karena ketidakpastian masih tinggi.
Reaksi pasar cenderung moderat, dengan pelaku pasar menyeimbangkan optimisme terhadap gencatan senjata dengan risiko gangguan pasokan energi yang masih berlangsung. Kondisi ini membuat pergerakan mata uang, termasuk rupiah, tetap fluktuatif.
Selat Hormuz yang merupakan jalur vital bagi sekitar seperlima pasokan minyak global mengalami penurunan signifikan dalam lalu lintas kapal tanker. Hal ini membatasi ekspor dan menjaga tekanan kenaikan harga minyak dunia.
Kinerja ekonomi domestik menopang rupiah
Dari dalam negeri, data ekonomi memberikan dukungan terhadap stabilitas rupiah. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus sebesar US$1,27 miliar pada Februari 2026.
Capaian ini memperpanjang tren surplus perdagangan Indonesia menjadi 70 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Angka tersebut juga lebih tinggi dibandingkan surplus Januari yang sebesar US$0,95 miliar.
Surplus Februari terutama ditopang oleh komoditas nonmigas sebesar US$2,19 miliar. Komoditas utama penyumbang surplus meliputi lemak dan minyak hewani nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja.
Di sisi lain, ekspor Indonesia pada Februari 2026 mencapai US$22,17 miliar atau naik 1,01% secara tahunan. Sementara itu, impor mencapai US$20,89 miliar atau tumbuh 10,85% dibandingkan tahun sebelumnya.
Indikator manufaktur dan prospek ke depan
Selain neraca perdagangan, indikator lain yang menjadi perhatian adalah aktivitas manufaktur. Data Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia menunjukkan penurunan ke level 50,1 pada Maret 2026 dari sebelumnya 53,8.
Meski mengalami penurunan, angka tersebut masih berada di zona ekspansi. Artinya, sektor manufaktur masih tumbuh meskipun dalam laju yang lebih lambat.
Laporan dari S&P Global menyebutkan bahwa kondisi operasional sektor manufaktur tidak mengalami perubahan signifikan. Hal ini menunjukkan stabilitas relatif di tengah tekanan global.
Dengan kombinasi faktor global dan domestik tersebut, pergerakan rupiah diperkirakan akan tetap fluktuatif. Sentimen eksternal masih menjadi penentu utama, meskipun fundamental ekonomi domestik memberikan bantalan yang cukup kuat bagi stabilitas nilai tukar.