Ekspor Otomotif Jadi Penopang Industri Saat Penjualan Domestik Indonesia Masih Lesu

Rabu, 04 Februari 2026 | 13:10:20 WIB
Ekspor Otomotif Jadi Penopang Industri Saat Penjualan Domestik Indonesia Masih Lesu

JAKARTA - Perlambatan penjualan kendaraan di pasar domestik sepanjang 2025 menjadi tantangan nyata bagi industri otomotif nasional. 

Di tengah kondisi tersebut, sektor ini masih mampu bertahan berkat lonjakan kinerja ekspor kendaraan roda empat yang mencatatkan hasil positif.

Saat permintaan dalam negeri belum kembali ke level ideal, pengiriman mobil ke pasar global justru menunjukkan tren berlawanan. Ekspor kendaraan buatan Indonesia tumbuh signifikan dan menjadi bantalan penting bagi keberlangsungan industri otomotif nasional.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa industri otomotif Indonesia tidak sepenuhnya bergantung pada pasar domestik. Daya saing produk nasional di pasar internasional menjadi faktor kunci yang menjaga stabilitas sektor ini.

Data resmi dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia menunjukkan bahwa ekspor menjadi salah satu pilar utama di tengah lesunya penjualan lokal.

Ekspor mobil utuh mencetak rekor tertinggi

Sepanjang 2025, ekspor mobil utuh atau completely built up mencatatkan capaian yang belum pernah terjadi sebelumnya. Total pengiriman mencapai 518.212 unit, meningkat 9,7 persen secara tahunan dan menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah ekspor mobil Indonesia.

Capaian tersebut menjadi sorotan karena terjadi di tengah melemahnya pasar domestik. Kondisi ini menegaskan bahwa pasar ekspor memiliki peran strategis dalam menjaga performa industri otomotif nasional.

Sekretaris Umum Gaikindo Kukuh Kumara menilai lonjakan ekspor tersebut sebagai penopang utama ketika penjualan dalam negeri belum pulih sepenuhnya. Ia menyebut penjualan domestik masih berada di kisaran 800 ribuan unit.

“Biasanya kita jualan bisa di atas 1 juta unit, sekarang kita hanya di kisaran 800 ribuan. Kemarin alhamdulillah tembus 803 ribu unit. Tapi yang menarik adalah ekspor yang juga tembus all time high 518.000 unit,” ujar Kukuh kepada media di Jakarta, Jumat (30/1/2026).

Produksi turun namun daya saing tetap terjaga

Kukuh mengakui bahwa penurunan produksi tidak hanya terjadi pada kendaraan komersial seperti truk, tetapi juga hampir di seluruh segmen kendaraan. Kondisi ini mencerminkan tekanan permintaan yang masih dirasakan industri secara menyeluruh.

Meski demikian, peningkatan ekspor menjadi sinyal positif bahwa produk otomotif Indonesia tetap kompetitif di pasar global. Penurunan produksi domestik tidak serta merta melemahkan posisi Indonesia sebagai basis produksi kendaraan.

Faktor kualitas produk, efisiensi manufaktur, serta jaringan pasar internasional menjadi kekuatan utama yang menopang kinerja ekspor. Hal ini menunjukkan fondasi industri otomotif nasional masih cukup solid.

Dengan strategi yang tepat, ekspor berpotensi terus menjadi penyeimbang ketika pasar domestik menghadapi tekanan.

Pabrikan Jepang mendominasi pengiriman ekspor

Dari sisi produsen, ekspor mobil Indonesia masih didominasi oleh pabrikan asal Jepang. Toyota menjadi pemimpin dengan pengiriman 175.446 unit atau setara 33,9 persen dari total ekspor mobil nasional.

Posisi berikutnya ditempati Daihatsu dengan 124.848 unit atau 24,1 persen. Mitsubishi Motors menyusul dengan ekspor 105.079 unit yang setara 20,3 persen dari total pengiriman.

Selain itu, Hyundai mencatatkan ekspor sebanyak 54.175 unit. Suzuki dan Honda turut berkontribusi masing masing dengan 30.636 unit dan 17.126 unit.

Dominasi pabrikan Jepang mencerminkan kekuatan jaringan produksi dan pasar global yang telah terbangun kuat dari Indonesia selama bertahun tahun.

Ekspor kendaraan terurai ikut tumbuh pesat

Selain mobil utuh, ekspor kendaraan dalam bentuk terurai atau completely knocked down juga menunjukkan kinerja yang menggembirakan. Sepanjang 2025, ekspor CKD mencapai 63.263 unit.

Angka tersebut melonjak 36,6 persen dibandingkan realisasi 46.311 unit pada tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini menunjukkan meningkatnya peran Indonesia dalam rantai pasok otomotif global.

Mitsubishi Motors menjadi kontributor terbesar ekspor CKD dengan pengiriman 48.157 unit atau sekitar 76 persen dari total ekspor CKD. Hyundai dan Suzuki masing masing mencatat 8.522 unit dan 5.852 unit.

Kinerja positif CKD memperkuat posisi Indonesia sebagai basis produksi regional yang fleksibel dan kompetitif.

Ekspor komponen masih menghadapi tekanan

Berbeda dengan kendaraan utuh dan terurai, ekspor komponen otomotif justru mengalami penurunan. Sepanjang 2025, ekspor komponen tercatat sebesar 141,9 juta potong.

Angka tersebut turun 7,3 persen dibandingkan capaian 153 juta potong pada 2024. Penurunan ini menjadi catatan tersendiri bagi industri pendukung otomotif nasional.

Mayoritas ekspor komponen masih disuplai oleh Toyota dengan kontribusi lebih dari 90 persen. Pabrikan lain seperti Honda dan Hino berada di posisi berikutnya dengan porsi yang lebih kecil.

Menurut Kukuh, peningkatan ekspor kendaraan tidak terlepas dari sinergi antara pelaku industri dan pemerintah dalam membuka akses pasar baru.

Ekspor jadi bantalan industri otomotif nasional

Gaikindo menilai tren ekspor yang terus meningkat menjadi bantalan penting di tengah perlambatan permintaan domestik. Dukungan pemerintah melalui diplomasi perdagangan turut memperluas jangkauan pasar ekspor.

“Kita syukuri saja bahwa ekspor meningkat, all time high. Kita terus kerja keras semua pihak, baik pelaku maupun pemerintah, misalnya dengan Kementerian Luar Negeri dan Perdagangan. Kita ingin ekspor ke Meksiko lebih baik, ke Timur Tengah juga,” kata Kukuh.

Dengan penetrasi pasar yang semakin luas dan diversifikasi negara tujuan, ekspor diharapkan tetap menjadi salah satu motor pertumbuhan industri otomotif Indonesia ke depan.

Di tengah tantangan domestik, kinerja ekspor membuktikan bahwa industri otomotif nasional masih memiliki daya tahan dan potensi untuk terus berkembang.

Terkini