Peringatan Keras CEO Anthropic Mengenai Guncangan Besar Akibat Kecerdasan Buatan

Kamis, 29 Januari 2026 | 13:16:56 WIB
Peringatan Keras CEO Anthropic Mengenai Guncangan Besar Akibat Kecerdasan Buatan

JAKARTA - Pemimpin tertinggi perusahaan rintisan kecerdasan buatan Anthropic, Dario Amodei, baru-baru ini mengeluarkan peringatan yang sangat serius terkait perkembangan teknologi masa depan.

 Dalam sebuah pernyataan resminya, pendiri perusahaan yang mengembangkan chatbot Claude tersebut memprediksi bahwa disrupsi dari kecerdasan buatan atau AI akan memicu guncangan luar biasa bagi peradaban manusia. Amodei menyoroti bahwa kecepatan penetrasi teknologi ini di berbagai sektor kehidupan tidak sebanding dengan kesiapan sistem sosial yang ada saat ini.

Guncangan yang dimaksud bukan hanya sekadar perubahan teknis, melainkan pergeseran fundamental yang dapat memengaruhi stabilitas ekonomi global secara signifikan bagi banyak orang. Pada hari Kamis, 29 Januari 2026 ini, Amodei menegaskan kembali kekhawatirannya mengenai potensi hilangnya pekerjaan dalam skala besar yang belum pernah terjadi sebelumnya di era revolusi industri terdahulu. Ia menilai bahwa risiko yang dibawa oleh AI tersebut hingga saat ini masih belum ditangani dengan tingkat keseriusan yang memadai oleh para pemangku kepentingan di seluruh dunia.

Ancaman Nyata Bagi Sektor Pekerjaan Kerah Putih

Salah satu poin utama yang menjadi perhatian serius Amodei adalah dampak destruktif kecerdasan buatan terhadap pasar tenaga kerja profesional atau pekerja kerah putih. Ia memperkirakan bahwa teknologi ini memiliki potensi nyata untuk mengeliminasi hampir separuh dari total jumlah pekerjaan yang mengandalkan kemampuan kognitif manusia di perkantoran. Berbeda dengan mesin uap atau listrik yang hanya menggantikan tenaga fisik, AI justru menyerang inti dari keunggulan intelektual manusia dalam mengolah data dan mengambil keputusan strategis.

Dampaknya diprediksi akan terasa jauh lebih luas dan terjadi dengan tempo yang sangat cepat dibandingkan dengan transisi teknologi di masa lampau yang berjalan bertahap. Kekhawatiran Amodei pada hari Kamis, 29 Januari 2026 ini didasari pada fakta bahwa guncangan sebelumnya masih menyisakan ruang bagi manusia untuk beralih ke tugas-tugas baru yang belum terjamah mesin. Namun, dengan kehadiran AI yang mampu meniru hampir seluruh spektrum kemampuan manusia, ruang untuk melakukan peralihan profesi tersebut menjadi semakin sempit bagi jutaan pekerja di seluruh dunia.

Kesiapan Sistem Sosial Dan Politik Dalam Memegang Kekuasaan AI

Amodei juga melontarkan keraguan mendalam mengenai kedewasaan sistem sosial, politik, dan teknologi yang dimiliki manusia saat ini dalam mengelola kekuasaan besar yang ditawarkan oleh AI. Ia berpendapat bahwa kemanusiaan akan segera menerima "kekuasaan yang hampir tak terbayangkan" namun tidak memiliki instrumen regulasi yang cukup kuat untuk mengendalikannya. Tanpa adanya kesiapan yang matang, kekuasaan tersebut justru berisiko menjadi senjata yang berbalik menyerang tatanan demokrasi dan kebebasan individu di berbagai belahan negara.

Eksploitasi oleh pihak-pihak tertentu untuk menciptakan sistem kediktatoran global melalui pengawasan digital berbasis kecerdasan buatan menjadi skenario kelam yang diwaspadai oleh Amodei. Penggunaan AI secara otonom tanpa pengawasan manusia yang ketat dapat memicu tindakan yang tidak terprediksi dan berpotensi membahayakan keselamatan publik secara luas. Oleh karena itu, ia mendorong adanya kolaborasi internasional yang lebih erat guna merumuskan batasan etika serta standar keamanan yang harus dipatuhi oleh seluruh pengembang teknologi AI di tingkat global.

Risiko Penyalahgunaan Dan Potensi Senjata Biologis

Selain isu ekonomi dan politik, CEO Anthropic tersebut juga memperingatkan adanya bahaya lain yang tidak kalah mengerikan, yakni potensi penyalahgunaan AI untuk menciptakan senjata biologis. Kemampuan algoritma cerdas dalam menganalisis struktur genetik dan formula kimia secara cepat dapat dimanfaatkan oleh oknum tidak bertanggung jawab untuk merancang ancaman kesehatan yang mematikan. Hal ini menempatkan keamanan siber dan pertahanan nasional dalam posisi yang sangat rentan jika tidak segera dilakukan pembaruan protokol keamanan di tingkat laboratorium penelitian.

Amodei menekankan bahwa otonomi AI yang tidak terkendali dapat mempercepat pengembangan teknologi destruktif tanpa adanya rem moral dari manusia sebagai operator utamanya. Ancaman ini merupakan bagian dari "guncangan luar biasa" yang ia sebutkan, di mana risiko fisik dan digital menjadi semakin baur dan sulit untuk dibedakan secara tegas. Kebutuhan akan pengawasan ketat terhadap akses data sensitif menjadi sangat krusial guna memastikan bahwa kemajuan teknologi ini tetap berada dalam koridor manfaat positif bagi keberlangsungan hidup umat manusia.

Pentingnya Transformasi Pendidikan Dan Adaptasi Tenaga Kerja

Menghadapi tantangan yang begitu besar, Amodei menyarankan agar masyarakat mulai melakukan adaptasi secara proaktif melalui transformasi sistem pendidikan yang lebih relevan dengan era AI. Keterampilan yang tidak dapat dilakukan oleh mesin, seperti empati mendalam, kreativitas orisinal, dan etika moral, harus menjadi fokus utama dalam pengembangan sumber daya manusia ke depan. Manusia dituntut untuk memiliki kedewasaan mental yang lebih tinggi guna bersinergi dengan kecerdasan buatan tanpa kehilangan identitas serta kendali atas nasib mereka sendiri di masa depan.

Upaya mitigasi dampak jangka pendek harus segera dirumuskan oleh pemerintah melalui kebijakan jaring pengaman sosial yang lebih inklusif bagi mereka yang terdampak disrupsi digital. Investasi pada riset mengenai keamanan AI dan etika teknologi harus ditingkatkan agar perkembangan kecerdasan buatan tidak berjalan liar tanpa arah yang jelas. Meskipun AI menawarkan potensi kemajuan yang luar biasa, peringatan dari tokoh seperti Dario Amodei menjadi pengingat bagi semua pihak bahwa setiap lompatan besar teknologi selalu membawa konsekuensi yang harus siap ditanggung bersama.

Terkini