Ternyata Ini Fakta Dibalik Aksi Viral Petani di Tuban Terbang Pakai Drone

Ternyata Ini Fakta Dibalik Aksi Viral Petani di Tuban Terbang Pakai Drone
Petani di Tuban viral karena menggunakan drone raksasa untuk menyemprot pupuk di atas tambak. (FOTO: NET)

TUBAN - Media sosial tengah diramaikan oleh rekaman video amatir yang menampilkan seorang petani terbang menggunakan pesawat tanpa awak atau drone saat menuju area ladang.

Penelusuran lebih lanjut mengungkapkan sejumlah fakta sebenarnya di balik tindakan tidak biasa tersebut.

Berikut ini adalah rangkaian fakta yang dihimpun, termasuk kenyataan bahwa konten petani terbang ini dibuat guna meningkatkan jumlah pengikut di media sosial.

Fakta-fakta Viral Petani di Tuban Terbang Naik Drone

1. Lokasi Kejadian Berada di Kecamatan Merakurak

Fakta pertama mengenai lokasi pengambilan video.

Berdasarkan hasil penelusuran, aksi terbang mencapai ketinggian 15 meter dengan jarak sekitar 1 kilometer tersebut dilakukan di area perkebunan Desa Sembungrejo, Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban.

2. Murni Konten untuk Meningkatkan Pengikut Medsos

Pemilik akun sekaligus Direktur PT Bina Tani Makmur Jombang, Budianto (47), menegaskan bahwa narasi petani pulang-pergi ke sawah dengan terbang adalah tidak benar.

Video tersebut sengaja dibuat sebagai hiburan digital untuk menaikkan popularitas akun media sosial miliknya.

Sosok yang terbang dalam video merupakan mitra kerjanya bernama Daeman (53).

"Awalnya kami kan hanya konten. Itu aja sih," kata Daeman membenarkan.

3. Spesifikasi Drone Merupakan Hasil Modifikasi Khusus

Alat yang memicu kehebohan netizen ini bukan drone komersial biasa.

Budianto menjelaskan unit tersebut adalah drone pertanian yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa.

Drone tersebut memiliki kapasitas angkut logistik luar biasa, yakni mampu membawa beban hingga 150 kilogram.

4. Fungsi Utama Hanya untuk Distribusi Logistik Pertanian

Budianto menegaskan perusahaan tidak menerapkan metode transportasi terbang bagi pekerja.

Fungsi operasional asli drone raksasa tersebut murni untuk membantu efisiensi petani, seperti menyemprot pestisida dan mendistribusikan kebutuhan tanam ke area sulit dijangkau.

"Perlu kami sampaikan bahwa penggunaan drone yang sebenarnya di lahan kami hanya difungsikan untuk membantu operasional pertanian, yaitu untuk mengangkut bibit, pupuk, dan hasil panen ke area lahan tanam," kata Budianto.

"Drone tidak digunakan untuk mengangkut orang," tegasnya.

"Awalnya ya untuk pupuk, untuk bibit dan ke depannya nanti kalau sudah panen ya untuk ngangkut hasil panen," tutur Budianto.

5. Solusi Jitu Menembus Medan Lahan yang Sulit

Daeman mengungkapkan alasan pihak perkebunan menerapkan teknologi drone sejak 2026.

Menurutnya, letak geografis lahan terisolasi oleh tambak dan tidak memiliki akses jalan layak untuk kendaraan, sehingga drone sangat membantu memangkas waktu kerja.

"Jadi 100 kilo pupuk sama pisang. Oh satu baterai kalau jarak 1 kilo sudah 3 kali-an (bisa mengangkut). Akses. Ini itu ada tambak nggak bisa, jalan motor nggak bisa. Sangat efektif. Kan hanya perjalanan berapa menit," ungkap Daeman.

6. Inovasi Baru yang Tidak Disewakan

Penerapan teknologi pesawat tanpa awak berkapasitas besar ini baru berjalan tahun ini di perkebunan tersebut.

Walaupun viral, pihak pengelola menegaskan belum tertarik mengomersialkan atau menyewakan alat modifikasi tersebut kepada pihak luar.

"Baru tahun ini. Mungkin nggak, nggak disewakan," tandas Daeman.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index