Rencana Pembentukan Holding BUMN Logistik di Bawah Pos Indonesia

Rencana Pembentukan Holding BUMN Logistik di Bawah Pos Indonesia
Ilustrasi PT. Pos Indonesia (FOTO: NET)

JAKARTA - Terdapat sebuah rencana besar mengenai pembentukan holding BUMN logistik.

Ke depannya, berbagai perusahaan pelat merah yang bergerak di sektor logistik bakal disatukan di bawah payung PT Pos Indonesia.

Sebagai langkah awal, sebanyak tujuh perusahaan milik negara bakal berintegrasi ke dalam PT Multi Terminal Indonesia (MTI).

Ketujuh korporasi tersebut meliputi PT Multi Terminal Indonesia (MTI) serta PT Prima Indonesia Logistik (PIL) yang sekarang masih bernaung di bawah Pelindo.

Kemudian ada PT Pos Logistik Indonesia (Poslog) kepunyaan Pos Indonesia, PT Sarana Bandar Logistik (SBL) kepunyaan PT Pelni, serta PT KBN Prima Logistik (KPL) kepunyaan Danareksa.

Selanjutnya, PT Varia Usaha Dharma Segara (VUDS) dari SIG, dan PT Krakatau Jasa Logistik (KJL) yang menjadi bagian dari Krakatau Steel.

"Nah ini adalah tujuh perusahaan yang di awal Juli nanti, 1 Juli, akan bergabung dalam satu perusahaan yang namanya adalah PT MTI atau Multi Terminal Indonesia," kata Direktur Utama PT Pos Indonesia (Persero) Daud Joseph saat rapat bersama Komisi VI DPR, Senin (22/6/2026).

Daud memaparkan bahwa pada tahapan berikutnya seturut surat dari Danantara Aset Manajemen konsolidasi, holding ini bakal diperlebar lewat masuknya PT Semen Indonesia Logistik (Silog) dan PT Pupuk Indonesia Logistik (Pilog).

Di fase permulaan tersebut, porsi kepemilikan saham diatur sebesar 73% milik Pelindo, 9% milik Pos Indonesia, dan 17% digenggam oleh lima perusahaan lainnya.

Kelak pada tahun 2027, total saham perusahaan sepenuhnya akan dialihkan di bawah kendali Pos Indonesia.

"Nantinya berarti sudah ada sembilan BUMN logistik yang bergabung di bawah perusahaan Pos Indonesia," tutur Daud.

Daud menyebutkan, penyatuan perusahaan-perusahaan ini bakal melahirkan sinergi yang lebih masif pada jaringan distribusinya.

Korporasi yang selama ini cuma mendominasi di area tertentu kelak bisa memakai jaringan entitas lain demi melebarkan sayap layanan ke pelbagai wilayah di Indonesia.

"Sehingga nanti anak perusahaan ini akan lengkap lini bisnisnya di seluruh Indonesia. Sehingga jumlahnya yang hari ini hanya ada 78 titik kumulatif, nantinya bisa bertambah menjadi sekitar 150 atau bahkan 160 lini bisnis," jelasnya.

Di samping itu, integrasi ini pun dinilai sanggup memangkas ongkos logistik nasional.

Sebab, sejauh ini tiap mata rantai logistik dikelola oleh korporasi berbeda yang masing-masing memungut margin keuntungan tersendiri.

"Nantinya setelah digabung menjadi satu perusahaan, profit margin-nya hanya menjadi satu. Sehingga nanti akan bisa memotong duplikasi profit margin dan akan menurunkan biaya logistik secara keseluruhan. Bapak Ibu kalau kami melihat tabel paling kanan bernilai Rp 2,38 triliun, itulah nanti besarnya revenue dari perusahaan gabungan ini," ungkap Daud.

"Dari Rp 2,38 triliun ini akan bisa menghasilkan profit di tahun ini kira-kira sebesar Rp 100 miliar," pungkasnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index