Waspada Bahaya BPA pada Wadah Galon Air, Ahli: Picu Pubertas Dini

Waspada Bahaya BPA pada Wadah Galon Air, Ahli: Picu Pubertas Dini
Paparan bisfenol A atau BPA dari galon dan kemasan plastik yang digunakan secara berulang kali disebut bisa memicu pubertas dini pada anak (FOTO: NET)

JAKARTA - Pakar Obstetri dan Ginekologi Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, MD, Sp.OG menjelaskan bahwa kondisi pubertas dini dapat dipicu oleh adanya pengaruh dari faktor genetik serta lingkungan.

Faktor bawaan sejak lahir tersebut memang tidak dapat diubah, namun kondisi lingkungan sekitar masih sangat bisa dikendalikan.

Melalui perbincangan di podcast milik Raditya Dika yang bertajuk 'Akibat Puber Terlalu Cepat', beliau menerangkan adanya zat kimia di sekitar kita yang berisiko mengganggu kestabilan hormon tubuh.

"Zat-zat yang terdapat di lingkungan itu bisa mengganggu mekanisme kerja hormon," ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (4/6/2026).

Dokter yang akrab disapa Prof. Iko tersebut memaparkan bahwa senyawa perusak hormon ini kerap ditemukan pada bungkus makanan, botol minuman, hingga polusi.

Saat membahas mengenai BPA, Prof. Budi menyebutkan jika bentuk zat kimia tersebut menyerupai hormon estrogen sehingga mampu bereaksi pada jaringan tempat estrogen bekerja.

Berdasarkan paparan beliau, senyawa BPA ini dapat memengaruhi organ-organ tubuh yang menjadi sasaran utama estrogen, seperti bagian rahim serta payudara.

"Sehingga kalau ada perempuan terekspos dengan Bisphenol pada usia dini, memungkinkan payudaranya tumbuh lebih cepat, rahimnya tumbuh lebih cepat, sehingga terjadilah pubertas dini tadi," ucapnya.

Efek negatif dari datangnya pubertas yang terlalu cepat tidak hanya berhenti pada perubahan fisik anak yang berlangsung lebih dini.

Kondisi tersebut juga berpotensi memicu masalah psikologis karena anak merasa tertekan melihat pertumbuhan fisiknya yang melompat jauh dibanding teman-teman sebayanya.

Para pakar dari 'Endocrine Society' bahkan ikut mengaitkan fenomena pubertas dini ini dengan melonjaknya risiko gangguan psikososial, obesitas, diabetes, masalah jantung, hingga kanker payudara.

Terkait sumber paparannya sehari-hari, Prof. Iko menjelaskan bahwa kontaminasi BPA paling banyak berasal dari pembungkus makanan serta wadah minuman, salah satunya adalah galon air minum.

Prof. Iko menegaskan bahwa kemasan galon merupakan jenis plastik yang harus diwaspadai secara lebih mendalam.

BPOM RI sendiri dikabarkan sudah menetapkan batas aman untuk toleransi perpindahan zat BPA paling banyak 0,6 bagian per juta dalam kemasan makanan atau minuman.

Prof. Iko menambahkan bahwa isu mengenai paparan BPA ini juga penting untuk diperhatikan dari kacamata kesehatan organ reproduksi.

Hal itu dikarenakan gangguan pada sistem reproduksi kerap diawali oleh zat-zat pengganggu hormon, termasuk Bisphenol serta Dioksin.

Beliau menjabarkan bahwa efek paparan senyawa tersebut berpotensi memicu kista endometriosis, gangguan kematangan sel telur, gangguan masa subur, sulit memperoleh keturunan, miom, hingga kanker.

Buntuk para wanita yang sedang mengandung, beliau mengimbau agar selalu waspada sejak awal masa kehamilan.

"Ketika ibu hamil dalam tiga bulan pertama, itu tidak boleh dia terekspos dengan itu," katanya.

Melihat dari sudut pandang psikologi, Psikolog Ratih Zulhaqqi menilai bahwa problem pubertas dini ini sangat mendesak untuk diperhatikan dari sisi kesiapan pihak keluarga.

Beliau menjelaskan bahwa angka kasus pubertas dini terus bertambah karena umumnya para orang tua tidak menyadari secara langsung bahwa anak mereka sedang mengalami pubertas yang terlalu cepat.

"Justru ini ditemukan setelah mereka konsul," tutur Ratih.

Ratih pun mengingatkan pentingnya langkah pencegahan melalui perbaikan pola hidup anak, seperti mengatur jam tidur, pola makan, serta jenis konsumsi harian termasuk menjauhkan zat kimia berbahaya layaknya BPA.

Oleh sebab itu, memperketat kewaspadaan terhadap bahaya zat BPA yang bersumber dari pemakaian galon atau wadah plastik isi ulang harus dijadikan langkah perlindungan utama dalam keluarga.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index