Prabowo Subianto dan Upaya Menghidupkan Spirit Perjuangan Bung Karno

Kamis, 02 Juli 2026 | 15:41:32 WIB
Presiden Prabowo Subianto

JAKARTA - Buku Petite Histoire (Sejarah Kecil) Indonesia karya jurnalis senior Rosihan Anwar mengulas kisah masa muda Prabowo Subianto, termasuk momen perkelahian dengan teman asingnya saat bersekolah.

Kejadian tersebut berlangsung ketika Prabowo menetap di luar negeri untuk menemani ayahnya, Sumitro Djojohadikusumo, yang sedang dalam masa pengasingan.

Pada masa itu, Sumitro dikenal luas sebagai lawan politik Soekarno yang sering berselisih paham secara tajam.

Sumitro yang melihat anaknya pulang dengan kondisi fisik berantakan akibat berkelahi langsung menanyakan alasan di balik peristiwa itu kepada Prabowo.

Jawaban Prabowo remaja ternyata mengejutkan Sumitro, karena ia mengungkap bahwa teman asingnya tersebut telah menghina Soekarno yang merupakan kepala negaranya.

Setelah mendengar penjelasan sang putra, Sumitro tidak menunjukkan kemarahan sama sekali.

Ia justru merasa kagum karena putranya yang masih belia sudah memiliki rasa nasionalisme tinggi terhadap tanah air, sebuah sifat yang jarang ditemukan pada anak seusianya.

Prabowo remaja justru balik bertanya kepada Sumitro dengan menuntut jawaban segera, bahwa perbedaan politik antara ayahnya dan Soekarno tidak bisa menjadi alasan untuk diam saat orang luar merendahkan Soekarno.

Peristiwa masa lalu inilah yang disebut-sebut sebagai awal mula munculnya kekaguman serta kecintaan mendalam dari Prabowo, yang kini menjabat sebagai Presiden ke-8 Indonesia, terhadap proklamator sekaligus presiden pertama Republik Indonesia tersebut.

Prabowo dikenal sebagai sosok yang tegas, terbuka, dan sangat lugas dalam menyampaikan pandangan atau perasaannya.

Dalam berbagai kesempatan, seperti saat peresmian Museum Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur, dua bulan lalu, Prabowo menegaskan bahwa Bung Karno bukan milik kelompok partai politik tertentu saja.

Pernyataan yang kerap diulang ini memberikan pesan politik kuat bagi pihak yang ingin mengklaim Soekarno secara sepihak, bahwa kecintaan kepada Soekarno tidak bisa dinilai dari silsilah keluarga atau afiliasi organisasi masa lalu.

Langkah ini lebih merupakan proses mendalami ideologi kerakyatan serta semangat perjuangan Soekarno yang tetap relevan hingga saat ini.

Dalam pandangan Prabowo, jika Soekarno diibaratkan sebagai nyala api, maka ia memposisikan diri sebagai bara yang bertugas menjaga api tersebut agar tidak padam.

Prabowo terlihat total dalam merepresentasikan dirinya agar selaras dengan sosok Soekarno.

Gaya bicaranya saat berpidato terdengar lantang, tegas, dan bergemuruh, sangat menyerupai Soekarno yang dikenal sebagai orator ulung sekaligus pemersatu bangsa.

Ia juga mengadopsi gestur menunjuk ke atas dan ke depan, serta mengetuk meja yang identik dengan cara Soekarno saat membakar semangat rakyat dalam pidatonya.

Ia bahkan memilih menggunakan baju safari dengan empat saku di bagian depan yang identik dengan Soekarno, mengikuti saran penjahit kepercayaannya, Yasbun, sejak tahun 2004.

Guna memperkuat kemiripan, ia juga tidak ragu mengenakan peci hitam berbahan beludru yang dimiringkan ke kiri, meniru gaya khas Soekarno yang menyimbolkan keberpihakan kepada rakyat kecil.

Hampir tidak ada tokoh lain yang menyamai totalitas Prabowo dalam mengadopsi gaya berpakaian Soekarno.

Sosok Soekarno seolah hadir kembali lewat penampilan fisik Prabowo.

Saat memenangkan Pilpres satu putaran pada Februari 2024 dengan perolehan 58,6 persen suara nasional untuk menjadi Presiden RI ke-8, titik temu antara Prabowo dan Soekarno semakin nyata karena keduanya sama-sama menjabat sebagai presiden dan panglima tertinggi militer.

Jabatan sebagai presiden ini menjadi peluang bagi Prabowo untuk mengimplementasikan gagasan-gagasan Soekarno ke dalam praktik politik dan kebijakan pemerintahannya.

Momen ini sekaligus pembuktian paling sakral atas kekagumannya terhadap Soekarno, bukan sekadar meniru hal fisik seperti gaya pidato atau busana, melainkan menyangkut cara pandang kepemimpinan dan seni mengelola kekuasaan.

Tidak dipungkiri bahwa sebagian kebijakannya saat ini masih kental dipengaruhi oleh pemikiran serta visi mendiang ayahnya, Sumitro, seperti pembentukan Danantara dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).

Namun, jika publik mengamati dengan lebih saksama, napas pemikiran Soekarno sesungguhnya jauh lebih kuat memengaruhi pola pikir Prabowo.

Hal yang jarang disadari publik adalah fakta bahwa Soekarno dan Prabowo sama-sama seorang poliglot yang fasih menguasai berbagai bahasa asing.

Soekarno tercatat menguasai bahasa Belanda, Inggris, Jerman, Arab, Prancis, dan Jepang.

Sementara itu, Prabowo memiliki kemahiran berbahasa Inggris, Prancis, Belanda, dan Jerman.

Keahlian bahasa asing yang dimiliki kedua tokoh ini memiliki kesamaan proses, yaitu sama-sama ditempa sejak usia muda.

Penguasaan bahasa asing tersebut mempermudah keduanya dalam menyerap ilmu pengetahuan secara luas dari berbagai literatur barat yang pada masa itu termasuk barang langka.

Di kemudian hari, ketika keduanya memiliki minat yang sama pada politik internasional dan diplomasi, kecakapan bahasa asing inilah yang menjadi fondasi utamanya.

Kemampuan berbahasa asing yang ditunjang dengan pemahaman mendalam terhadap budaya luar negeri mengantarkan keduanya untuk terjun langsung menjadi motor penggerak diplomasi, hal yang memicu dominasi Prabowo saat ini dalam menjalankan diplomasi personal.

Langkah ini bahkan terkesan meminimalkan peran instansi diplomatik nasional lainnya.

Prabowo memiliki kekaguman besar terhadap konsep geopolitik milik Soekarno.

Di tengah kuatnya pengaruh teori geopolitik barat dari para ahli dunia—seperti Alfred Thayer Mahan dengan teori negara maritim, Rudolf Kjellen dengan konsep ruang hidup, hingga Halford Mackinder dengan teori jantung bumi.

Soekarno pada zamannya sebagai pemimpin negara berkembang yang baru merdeka mampu tampil visioner melalui gagasan geopolitik yang digali langsung dari akar kebudayaan bangsa.

Konsep geopolitik Soekarno terwujud dalam wawasan nusantara yang tidak hanya bertumpu pada faktor geografis semata, melainkan mengintegrasikan unsur ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, serta pertahanan keamanan dengan kondisi geografi, demografi, dan kekayaan alam.

Wawasan nusantara ini berkaitan erat dengan konsep ketahanan nasional, yakni kemampuan sebuah bangsa untuk bertahan di tengah berbagai tantangan dan ancaman.

Soekarno mempraktikkan teori geopolitiknya lewat pelaksanaan Konferensi Asia-Afrika pada tahun 1955 serta pembentukan Gerakan Non-Blok pada 1961 untuk menghimpun negara-negara baru agar bisa setara dengan negara maju.

Prestasi diplomasi di zaman Soekarno inilah yang berusaha dihidupkan kembali oleh Prabowo lewat kunjungan ke berbagai negara, menjalin hubungan multilateral, serta berkomitmen tidak terseret dalam persaingan kekuatan besar dunia, mirip dengan strategi Soekarno dalam menyikapi era perang dingin.

Tanpa mengecilkan pengaruh Soekarno bagi Prabowo, hal menarik yang patut dicermati dari perjalanan politik kedua tokoh ini adalah keteguhan mereka berjuang membangun negeri lewat jalur partai politik.

Soekarno merupakan pendiri Partai Nasional Indonesia (PNI) pada tahun 1927, sementara Prabowo memilih berjuang di dunia politik dengan mendirikan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) pada tahun 2008.

Saat ini, situasi politik nasional maupun internasional terus berkembang dinamis dengan berbagai tantangan baru.

Semangat Soekarno yang mewarnai arah politik Prabowo kini menghadapi fase pengujian waktu.

Besarnya pengaruh Amerika Serikat dalam peta politik dunia membuat Prabowo tampak mulai goyah dan condong berlawanan dengan prinsip anti-Barat ala Soekarno setelah memutuskan bergabung ke dalam Board of Peace (BoP).

Indonesia terancam kehilangan jati diri dalam aspek kebudayaan seperti ajaran Trisakti Soekarno saat Prabowo berencana memasukkan bahasa asing seperti Prancis dan Portugis ke dalam mata pelajaran sekolah nasional.

Padahal, kenyataannya masih banyak warga di wilayah terdepan, terluar, dan terpencil yang belum mahir menggunakan bahasa Indonesia.

Target mewujudkan kemandirian ekonomi sesuai mandat Trisakti Soekarno juga masih harus dibuktikan, apakah strategi ekspor komoditas utama melalui satu pintu benar-benar demi kedaulatan negara atau malah menjadi celah korupsi baru bagi oknum di dalam negeri.

Napas pemikiran Soekarno diyakini akan terus mengiringi karier politik Prabowo ke depan.

Meski persaingan menuju Pilpres 2029 masih lama, dinamika politik elektoral mendatang tampaknya akan tetap diwarnai unsur-unsur Soekarno.

PDI-P yang memposisikan diri sebagai pewaris sah pemikiran Soekarno menjadi satu-satunya partai yang memilih berada di luar lingkaran pemerintahan pendukung Prabowo saat ini demi menjalankan fungsi penyeimbang atau penantang di masa depan.

Di sisi lain, terdapat sosok Jokowi yang telah memulai pergerakan politik lebih awal bersama PSI.

Jokowi, meski tidak terlalu sering menyamakan penampilan fisiknya dengan Soekarno, dinilai sebagai penerus taktik serta pemikiran politik Soekarno yang sangat piawai.

Baik PDI-P, Jokowi, maupun Prabowo diprediksi akan terjebak dalam situasi saling berebut pengaruh Soekarno.

Apakah Prabowo yang kini memegang kendali kekuasaan mampu keluar sebagai pemenang dalam mengimplementasikan pemikiran Soekarno secara nyata? Waktu yang akan menjawab.

Terkini