Kisah Keluarga Mursalim Bertahan Hidup di Bekas Dapur Gula Aren

Senin, 29 Juni 2026 | 11:48:08 WIB
Keluarga Mursalim di Dusun Minanga Tallu, Desa Tanjong, Kecamatan Bua Ponrang (Bupon), Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan (FOTO: NET)

SULAWESI SELATAN - Saat malam tiba, saat hunian warga lain benderang oleh aliran listrik, sebuah bangunan kecil di Dusun Minanga Tallu, Desa Tanjong, Kecamatan Bua Ponrang, Kabupaten Luwu, justru terbenam dalam kegelapan.

Di rumah seluas 3 x 4 meter tersebut, Mursalim (45) harus menyalakan pelita minyak tanah.

Cahaya redup yang bergoyang itu menjadi satu-satunya sumber penerangan bagi Mursalim, Yeni (48) sang istri, dan putra mereka, Muhammad Ghibran (7), yang baru saja duduk di bangku sekolah dasar.

Bangunan itu sebenarnya bukanlah rumah tinggal, melainkan bekas dapur untuk memasak nira menjadi gula aren yang kini terpaksa ditinggali karena tidak ada alternatif lain.

Segala aktivitas dilakukan dalam satu ruangan yang sama.

Lantai huniannya telah retak dan sebagian tertutup perlak usang, sementara dinding papan yang mulai lapuk menopang atap rumbia yang rentan rusak akibat cuaca buruk.

Tidak tersedia kamar tidur di sana.

Semua kegiatan keluarga dilakukan di satu titik, mulai dari beristirahat, memasak, hingga menyimpan pakaian dan alat dapur, kondisi yang sudah dijalani selama lebih dari setahun.

Di sudut ruangan, tas sekolah Ghibran tergantung pada dinding papan.

Bocah itu mulai mengenyam pendidikan sekolah dasar, namun semangat belajarnya harus dihadapkan pada kenyataan bahwa setiap malam ia belajar hanya dengan ditemani lampu pelita.

Jika stok minyak tanah habis, rumah tersebut menjadi semakin gulita.

"Kalau aki motor masih ada setrumnya, kami pakai lampu dari aki. Kalau sudah habis, ya kembali pakai pelita."

"Kalau minyak tanah juga habis, kadang kami menyalakan unggun di dekat rumah atau langsung tidur. Pernah juga tetangga memberi lilin," kata Mursalim, Senin (29/6/2026).

Minyak tanah dibeli seharga Rp 15.000 per botol kecil di Pasar Padang Sappa, dan penggunaannya harus dihemat ketat agar cukup untuk satu minggu.

Kehidupan Mursalim bertumpu pada hasil bertani cabai dan nilam di lahan kecil miliknya, serta menjadi buruh tani di kebun tetangga dengan pendapatan rata-rata hanya Rp 4 juta setahun yang harus mencukupi seluruh kebutuhan.

Kondisi ekonomi yang sulit membuat impian memiliki rumah layak masih sulit digapai.

Mursalim menjelaskan bahwa pihak desa telah mengetahui nasib keluarganya, namun keadaannya belum berubah.

Saat ditanya perihal harapannya, pria itu menjawab dengan lirih.

"Mudah-mudahan pemerintah ke depannya bisa memahami kondisi kami seperti ini," ucapnya.

Kesulitan finansial juga pernah memaksanya mengambil pilihan sulit saat sang istri sakit hingga lumpuh sementara dan tidak bisa dibawa ke rumah sakit karena ketiadaan biaya.

"Pernah istri saya sakit tidak bisa jalan. Saya ingin membawa ke rumah sakit, tapi kondisi keuangan tidak memungkinkan. Akhirnya hanya dirawat di rumah dan saya belikan obat seadanya," ujarnya.

Saat ini, keluarga tersebut tidak memiliki BPJS Kesehatan yang aktif.

Dahulu mereka pernah menjadi peserta mandiri saat merantau di Kalimantan, namun harus berhenti karena tidak mampu membayar iuran.

"Kalau ada kesempatan saya mau ke desa supaya dialihkan menjadi BPJS Kesehatan yang dibayar APBD, karena sekarang saya sudah tidak mampu lagi membayar," tutur Mursalim.

Kendati berada dalam keterbatasan, Mursalim tidak mengeluh dan tetap bekerja keras demi mencukupi nafkah.

Rasa khawatir selalu muncul saat hujan turun, namun ia bersyukur tempat tinggalnya hingga saat ini belum terkena banjir.

"Kalau takut tentu ada. Tapi mau bagaimana lagi. Untungnya selama ini belum pernah kemasukan hujan atau genangan air," jelasnya.

Bagi keluarga Mursalim, fasilitas seperti listrik dan rumah layak adalah impian yang belum terwujud.

Meski sederhana, mereka tetap menjalani kehidupan dengan tabah.

Ghibran tetap bersemangat bersekolah demi masa depan, sementara orang tuanya gigih bekerja agar kebutuhan pangan tetap terpenuhi.

Kisah keluarga Mursalim mencerminkan bahwa masih ada warga yang bertahan di tengah himpitan hidup.

Dukungan dari berbagai pihak diharapkan dapat membantu keluarga ini mendapatkan tempat tinggal layak, akses listrik, serta perlindungan kesehatan yang memadai agar putra mereka dapat tumbuh dengan kehidupan yang lebih baik.

Terkini