Kelahiran Bayi Bekantan Kembar di Kalsel Jadi Sorotan Ilmuwan Dunia

Kamis, 25 Juni 2026 | 13:18:23 WIB
Hewan Bekantan (FOTO: NET)

LAKUKAN - Kelahiran anak kembar pada kelompok primata pada umumnya menjadi sebuah peristiwa yang sangat jarang terjadi, terlebih monyet berhidung panjang atau bekantan biasanya cuma melahirkan satu keturunan saja.

Oleh karena itu, kejadian bersejarah ini dinilai sangat menakjubkan serta pantas untuk disebarluaskan kepada masyarakat.

Jika dilihat sekilas, bayi bekantan tersebut tampak menyerupai dengan satwa primata lainnya yang baru saja lahir ke dunia.

Bentuk badannya yang mini dibalut oleh rambut halus berwarna hitam pekat, sedangkan bagian mukanya berwarna biru tua.

Kondisi fisik ini sangat kontras dengan penampilan bekantan dewasa yang jamak diidentifikasi lewat rambut kuning kecokelatan serta hidung berukuran besar yang menjadi aspek pembedanya.

Akan tetapi, perjalanan waktu bakal mengubah wujud fisiknya secara bertahap.

Seiring berjalannya usia, warna rambut hitam tersebut lambat laun akan berganti menjadi kuning kecokelatan, sementara bagian hidungnya bakal tumbuh memanjang hingga menyerupai postur bekantan dewasa pada umumnya.

Pemandangan yang teramat langka itu baru-baru ini dijumpai di kawasan Pulau Curiak, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan.

Hal yang membuat peristiwa ini menjadi kian spesial ialah bukan sekadar satu ekor anak bekantan yang lahir, melainkan sepasang bayi kembar di Stasiun Riset Bekantan "Camp Tim Roberts" yang dikelola oleh Dr. Amalia Rezeki, selaku pakar konservasi biologi Universitas Lambung Mangkurat (ULM), berkolaborasi dengan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI).

Amalia memaparkan dua ekor anak bekantan kembar yang lahir pada pertengahan Juni 2026 ini bersumber dari indukan betina kelompok Alpha.

Menurut penuturan Amel, yang merupakan nama panggilan akrab Amalia Rezeki, peristiwa kelahiran anak kembar pada jenis primata dikategorikan sebagai fenomena yang teramat langka.

Rasio peluang terjadinya kelahiran anak kembar pada golongan primata, terkhusus monyet besar dari dunia lama layaknya bekantan (Nasalis larvatus) di dalam habitat liar berskala sangat kecil bila dikomparasikan dengan angka kelahiran tunggal.

Kemunculan dari anak kembar bekantan tersebut terdeteksi untuk pertama kalinya tatkala Amel beserta jajaran tim melangsungkan agenda pemantauan berkala di wilayah Camp Tim Roberts.

Amel mengaku sangat tersentuh sewaktu menyaksikan sebuah pemandangan indah saat dua ekor bayi kembar tersebut tengah menyusu di dalam dekapan erat sang induk.

"Kami sangat bersyukur dan sempat meneteskan air mata terharu karena lebih dari sepuluh tahun saya mendedikasikan diri bagi upaya pelestarian bekantan di kawasan Pulau Curiak, baru kali ini menemukan kelahiran bayi bekantan kembar," ungkap dosen Pendidikan Biologi ULM peraih Kalpataru 2022 sebagai penyelamat lingkungan ini.

Menurut penjelasannya, di sepanjang pertengahan tahun ini tercatat sudah ada tiga ekor anak bekantan yang lahir di dalam kawasan Camp Tim Roberts yang menjadi bagian terintegrasi dari Stasiun Riset Bekantan Pulau Curiak, sebuah ekosistem habitat yang posisinya berada di luar zona konservasi.

Amel menerangkan bahwa masa kesiapan reproduksi bagi bekantan berjenis jantan berawal dari rentang usia 4 hingga 5 tahun, sedangkan untuk kelompok betina dimulai pada usia 4 tahun.

Satwa bekantan pada umumnya cuma melahirkan 1 ekor anak saja dalam sekali musim, dengan durasi masa mengandung selama 5 hingga 6 bulan.

Anak bekantan selanjutnya bakal diasuh secara komunal dengan menerapkan pola asuh semacam asisten bayi oleh internal koloninya, yang dominan dijalankan oleh kelompok betina usia muda.

Amel memaparkan bahwa peristiwa kelahiran sepasang anak kembar bekantan ini sukses menyedot perhatian dari berbagai penjuru dunia, terkhusus di kalangan akademisi, peneliti, hingga para penggiat perlindungan keanekaragaman hayati.

Jenis primata yang telah masuk ke dalam daftar merah Lembaga Konservasi Internasional IUCN lewat status terancam punah (Endangered Species) ini, kini kian disorot dunia seiring dengan mencuatnya kasus kelahiran kembar tersebut.

Seperti halnya yang diutarakan oleh Associate Professor Charles Lee, seorang ilmuwan bekantan yang berasal dari Singapura, ia mengaku sempat meneteskan air mata haru sewaktu mendengarkan kabar seputar kelahiran anak bekantan kembar ini.

Charles berterus terang dirinya menangis tatkala Amel menceritakan perihal "mukjizat" yang luar biasa tersebut, yakni proses kelahiran bekantan yang bukan berupa satu anak melainkan sepasang kembar sekaligus.

Menurut pandangannya, memantau fase perkembangan bekantan yang bertumbuh sedemikian sehat di Pulau Curiak merupakan suatu petualangan yang sangat mengagumkan.

Hal ini menjadi sebuah manifestasi nyata dari pola pemeliharaan yang luar biasa oleh jajaran tim SBI bersama para penduduk pedesaan setempat.

Charles menaruh harapan besar agar mereka memperoleh masa depan yang berkesinambungan, dipenuhi rasa optimisme, ketahanan fisik, serta keberkahan.

Sementara itu, Prof Tim Roberts dari University of Newcastle, Australia, mengungkapkan rasa sukacitanya mendengar capaian gemilang dari Amalia Rezeki beserta timnya dalam menggulirkan program konservasi bekantan di tanah air.

Melalui untaian pesan yang dikirimkan kepada Amel, Tim Roberts mengutarakan bahwa Amel bersama tim yang penuh dedikasi telah memeras keringat selama satu dekade belakangan demi memayungi monyet hidung panjang tersebut dari risiko kepunahan.

Berdasarkan penilaiannya, zona pelestarian di Pulau Curiak yang terintegrasi dalam sistem Sungai Barito telah menjelma sebagai benteng krusial dalam menekan laju kepunahan dengan cara menyajikan ekosistem hutan yang terlindungi serta kaya akan sumber logistik pakan bagi bekantan.

Proses kelahiran anak bekantan kembar ini, lanjutnya, menjadi sebuah bukti otentik dari kerja keras institusi Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) di bawah kendali kepemimpinan Amel.

Nama Tim Roberts sendiri disematkan secara resmi pada Stasiun Riset Bekantan Pulau Curiak sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi serta kontribusi besarnya dalam menginisiasi pendirian stasiun riset tersebut, yang juga dioperasikan sebagai suaka alamiah bagi bekantan.

Sejajar dengan hal itu, Ikki Matsuda, Ph.D. dari Wildlife Research Center, Kyoto University, yang berstatus sebagai ilmuwan bekantan asal Jepang, menyambut penuh suka ria atas kesuksesan Amel beserta jajaran tim dalam memelihara serta merawat populasi bekantan sekaligus habitat alaminya di Indonesia.

Menurut analisis Ikki Matsuda, kelahiran kembar pada golongan primata pada umumnya dikategorikan sebagai peristiwa yang langka, sementara jenis monyet berhidung panjang atau bekantan lazimnya melahirkan satu anak saja.

Oleh karena itu, peristiwa bersejarah tersebut dinilainya teramat luar biasa dan sangat berharga untuk dipublikasikan kepada khalayak ramai.

Sementara itu dari internal dalam negeri, Prof Hadi Alikodra, selaku pakar perlindungan satwa liar dari Institut Pertanian Bogor (IPB), mengutarakan bahwa peristiwa kelahiran anak bekantan kembar ini merupakan sebuah anugerah dari Tuhan.

Menurut pandangannya, fenomena tersebut menjadi sebuah indikator konkrit bahwa keadaan habitat alami dari bekantan tergolong prima dan aspek daya dukung ketersediaan pakan di lingkungan tersebut dapat terpenuhi secara optimal.

Ia memberikan masukan bahwa agenda lanjutan yang wajib diprioritaskan oleh tim Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) ialah menyelenggarakan pemantauan secara berkala dan ketat terhadap kondisi sepasang bayi bekantan kembar tersebut.

Di sisi lain, Amel menaruh asa semoga peristiwa langka ini dapat menyuntikkan semangat baru bagi eskalasi populasi bekantan di masa yang akan datang.

Walaupun demikian, ia tidak menampik adanya rasa cemas terkait pemenuhan asupan nutrisi bagi sepasang bayi bekantan kembar yang bersumber dari satu induk tunggal, mengingat karakteristik umum bekantan yang lazimnya melahirkan satu anak saja.

Oleh sebab itu, Amel bersama tim berkomitmen melangsungkan proses observasi secara lebih mendalam agar tiap fase pertumbuhan serta perkembangan sepasang anak bekantan kembar tersebut dapat terpantau secara presisi.

Merujuk pada basis data yang dihimpun SBI, saat ini tercatat ada 61 individu bekantan yang mendiami kawasan Pulau Curiak.

Jumlah ini melonjak drastis bila dikomparasikan sejak awal mula tim SBI mengelola wilayah Pulau Curiak di tahun 2016 yang kala itu cuma dihuni oleh 14 individu bekantan saja.

Pulau Curiak pada awalnya hanya memiliki luasan wilayah sebesar 2,7 hektare yang diurus secara swadaya oleh pihak SBI.

Namun kini zonanya berkembang hingga menyentuh kisaran 10 hektare berkat program penanaman pohon mangrove rambai yang digalakkan secara kontinu.

Sampai detik ini, tercatat lebih dari 50.000 bibit pohon rambai yang telah ditanam, bahkan sebagian di antaranya berhasil tumbuh subur dan membentuk gugusan pulau-pulau kecil di sekeliling Pulau Curiak.

Titik lokasi tersebut bertempat tidak jauh dari area Taman Wisata Alam (TWA) Pulau Bakut, sebuah kawasan konservasi habitat bekantan berkarakter ekosistem hutan mangrove yang diurus oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan, selaku unit pelaksana teknis Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Kehutanan.

Keberhasilan dari program konservasi bekantan di Pulau Curiak ini rupanya tidak melulu andil dalam mendongkrak grafik populasi bekantan di luar area konservasi serta menekan risiko kepunahan, melainkan turut memberikan pengaruh yang masif bagi roda kehidupan warga lokal di sekitarnya.

Setiap harinya, puluhan kelompok nelayan menggantungkan hidup dengan mencari komoditas ikan dan udang yang melimpah ruah di area perairan sekitar ekosistem hutan mangrove rambai.

Terdapat sembilan wilayah desa di area Kecamatan Anjir Muara, Kabupaten Barito Kuala, yang segenap masyarakatnya kini ikut mengecap implikasi positif dari program pelestarian ekosistem lahan basah di Pulau Curiak tersebut.

Bahkan, jajaran Pemerintah Kabupaten Barito Kuala beserta Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan menyalurkan sokongan penuh atas pengembangan wilayah Pulau Curiak sebagai destinasi ekowisata berbasis minat khusus, selaras dengan tingginya grafik kunjungan pelancong ke area yang menjadi bagian dari situs Meratus UNESCO Global Geopark tersebut.

Kepala Dinas Pariwisata Kalimantan Selatan, Iwan Fitriady, memberikan penekanan seputar krusialnya mengonstruksikan kesadaran kolektif warga setempat untuk bersinergi dalam memelihara kelestarian alam beserta ekosistemnya agar mampu melahirkan imbas yang berkesinambungan bagi eskalasi ekonomi.

Menurut pandangannya, akselerasi sektor pariwisata, terkhusus di area situs Geopark Meratus, menuntut kontribusi vital dari Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dalam memajukan serta merawat eksistensi nilai-nilai kearifan lokal.

Lewat instrumen tersebut, diharapkan kondisi alam dapat senantiasa asri, tingkat keanekaragaman hayati terus berkembang biak, dan derajat kesejahteraan masyarakat kian meroket berkat adanya komitmen kolektif dalam melindungi eksistensi bekantan, si "Monyet Belanda" yang menjadi maskot fauna resmi Provinsi Kalimantan Selatan, baik di dalam zona konservasi maupun di luar zona konservasi layaknya Pulau Curiak.

Terkini