Minyak

Harga Minyak Dunia Menguat Dipicu Ketegangan Amerika Iran Dan Dinamika Pasokan Global

Harga Minyak Dunia Menguat Dipicu Ketegangan Amerika Iran Dan Dinamika Pasokan Global
Harga Minyak Dunia Menguat Dipicu Ketegangan Amerika Iran Dan Dinamika Pasokan Global

JAKARTA - Pergerakan harga minyak global kembali menunjukkan tren penguatan di tengah kombinasi sentimen geopolitik dan dinamika fundamental pasar energi. 

Ketegangan hubungan antara Amerika Serikat dan Iran menjadi salah satu faktor utama yang memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan. Di saat yang sama, sinyal perbaikan permintaan energi global ikut menopang harga, meskipun tekanan dari lonjakan persediaan minyak mentah Amerika Serikat masih membatasi kenaikan yang lebih agresif.

Pasar minyak saat ini berada dalam kondisi tarik-menarik antara optimisme permintaan dan kekhawatiran kelebihan pasokan. Pelaku pasar mencermati perkembangan ekonomi global, khususnya dari Amerika Serikat, yang dinilai masih memiliki daya tahan cukup kuat untuk mendukung konsumsi energi dalam beberapa bulan ke depan.

Sinyal Permintaan Energi Mulai Menguat

Rystad Energy menilai kondisi pasar tenaga kerja yang tetap tangguh berpotensi menjadi penopang utama permintaan energi. Stabilitas lapangan kerja dinilai mampu menjaga konsumsi bahan bakar transportasi, kebutuhan petrokimia, hingga penggunaan energi untuk pembangkit listrik. Dalam laporannya, Rystad menyebutkan bahwa kondisi ini memperkuat pandangan bahwa prospek permintaan energi global mulai menunjukkan perbaikan secara bertahap.

Permintaan yang lebih kuat ini menjadi faktor penting di tengah ketidakpastian global. Ketika aktivitas ekonomi berjalan stabil, konsumsi energi cenderung bertahan bahkan meningkat. Hal ini memberikan sentimen positif bagi harga minyak, terutama di tengah isu geopolitik yang dapat mengganggu rantai pasok energi dunia.

Meski demikian, analis menilai bahwa perbaikan permintaan masih bersifat selektif dan sangat bergantung pada perkembangan ekonomi di negara-negara utama konsumen energi.

Lonjakan Stok Minyak AS Jadi Penahan Harga

Di sisi lain, kenaikan harga minyak tidak sepenuhnya leluasa. Badan Informasi Energi Amerika Serikat atau EIA melaporkan lonjakan besar pada persediaan minyak mentah AS. Dalam laporan terbarunya, stok minyak mentah tercatat naik 8,5 juta barel menjadi 428,8 juta barel pada pekan lalu.

Angka tersebut jauh melampaui ekspektasi analis dalam jajak pendapat Reuters yang sebelumnya memperkirakan kenaikan sekitar 793.000 barel. Lonjakan ini memunculkan kekhawatiran akan kelebihan pasokan di pasar, sehingga menahan laju kenaikan harga minyak yang dipicu sentimen geopolitik.

Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun permintaan mulai membaik, pasokan minyak di Amerika Serikat masih sangat melimpah dan menjadi faktor penyeimbang bagi pasar.

Produksi Domestik AS Kembali Meningkat

Direktur Energi Berjangka Mizuho, Robert Yawger, menyebut bahwa produksi minyak domestik Amerika Serikat kembali meningkat tajam. Bahkan, produksi tersebut disebut mendekati rekor tertinggi sepanjang masa. Peningkatan produksi ini menambah tekanan pasokan di pasar global.

Dengan kapasitas produksi yang terus bertambah, Amerika Serikat tetap menjadi salah satu pemain utama yang memengaruhi keseimbangan pasar minyak dunia. Lonjakan produksi ini sekaligus menjelaskan mengapa persediaan minyak mentah AS bisa meningkat signifikan dalam waktu singkat.

Bagi pasar, kondisi ini menjadi sinyal bahwa setiap kenaikan harga berpotensi memicu respons pasokan yang cepat, terutama dari produsen minyak besar seperti Amerika Serikat.

Proyeksi OPEC Masih Relatif Stabil

Dalam laporan bulanannya, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak atau OPEC mempertahankan proyeksi permintaan dan pasokan minyak secara umum. OPEC menilai keseimbangan pasar global masih berada dalam jalur yang relatif stabil, meskipun terdapat sejumlah risiko dari sisi geopolitik dan ekonomi global.

Namun demikian, OPEC juga memperkirakan adanya penurunan permintaan terhadap minyak mentah kelompok OPEC+ pada kuartal II. Permintaan diproyeksikan turun sekitar 400.000 barel per hari dibandingkan kuartal I. Proyeksi ini mencerminkan potensi pelemahan musiman serta penyesuaian konsumsi di sejumlah wilayah.

Perkiraan tersebut menjadi perhatian pelaku pasar karena menunjukkan bahwa dukungan dari sisi permintaan mungkin tidak sekuat pada awal tahun.

Penurunan Produksi Rusia Beri Sinyal Berbeda

Di tengah peningkatan produksi Amerika Serikat, Rusia justru mencatatkan penurunan produksi minyak. Data menunjukkan produksi minyak Rusia turun sekitar 0,6 persen pada Januari dibandingkan Desember. Penurunan ini memberi sinyal adanya penyesuaian pasokan dari salah satu produsen utama dunia.

Penurunan produksi Rusia dinilai dapat memberikan sedikit penyeimbang terhadap lonjakan pasokan dari negara lain. Namun, pasar masih menunggu konsistensi penurunan tersebut serta dampaknya terhadap keseimbangan pasokan global secara keseluruhan.

Bagi pelaku pasar, dinamika produksi Rusia menjadi salah satu faktor yang terus dipantau di tengah ketidakpastian geopolitik global.

Mesir Bidik Lonjakan Produksi Jangka Panjang

Sementara itu, Mesir mengumumkan target ambisius untuk meningkatkan produksi minyak hingga dua kali lipat pada 2030. Pemerintah Mesir berencana merevisi kontrak dengan perusahaan minyak internasional guna menarik investasi baru ke sektor energi.

Langkah ini diharapkan mampu memperkuat kapasitas produksi jangka panjang sekaligus meningkatkan kontribusi sektor energi terhadap perekonomian nasional. Rencana Mesir ini menambah daftar negara yang berupaya meningkatkan produksi di tengah kebutuhan energi global yang terus tumbuh.

Namun, karena target tersebut bersifat jangka panjang, dampaknya terhadap pasar minyak saat ini masih relatif terbatas.

Pasar Minyak Di Persimpangan Sentimen

Secara keseluruhan, harga minyak dunia bergerak di persimpangan antara sentimen geopolitik, prospek permintaan, dan dinamika pasokan. Ketegangan Amerika Serikat dan Iran terus menjadi faktor risiko yang dapat memicu volatilitas harga dalam waktu singkat.

Di sisi lain, lonjakan stok dan peningkatan produksi, khususnya dari Amerika Serikat, menjadi penahan utama bagi kenaikan harga yang lebih tinggi. Dengan berbagai faktor tersebut, pasar minyak diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif dalam waktu dekat, sambil menunggu kejelasan arah geopolitik dan ekonomi global.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index