Rupiah

Rupiah Offshore Menguat Saat Dolar AS Melemah di Pasar Global

Rupiah Offshore Menguat Saat Dolar AS Melemah di Pasar Global
Rupiah Offshore Menguat Saat Dolar AS Melemah di Pasar Global

JAKARTA - Pergerakan nilai tukar kembali menjadi perhatian pelaku pasar global menjelang arah kebijakan moneter Amerika Serikat. 

Fokus utama tertuju pada perkembangan terbaru ekonomi AS yang memengaruhi ekspektasi suku bunga. Dalam konteks ini, Menanti Arah The Fed, Rupiah Offshore Menguat Kala Dolar Lesu menjadi gambaran dinamika pasar hari ini.

Nilai kontrak rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dalam pasar Non-Deliverable Forward (NDF) menguat terbatas. Penguatan ini terjadi di tengah volatilitas dolar AS setelah rilis data ketenagakerjaan Negeri Paman Sam. Pelaku pasar pun menimbang kembali arah kebijakan bank sentral AS.

Hari ini 12 Februari 2026, rupiah offshore dibanderol Rp16.800 per dolar AS. Mata uang Garuda tersebut menguat sangat terbatas sebesar 0,01%. Penguatan ini ditopang oleh faktor eksternal berupa pelemahan dolar AS.

Pelemahan dolar terjadi seiring meningkatnya ekspektasi investor terhadap peluang pemangkasan suku bunga The Fed. Sinyal pelemahan ekonomi AS memicu perubahan proyeksi pasar. Situasi tersebut memberikan ruang napas bagi mata uang emerging market, termasuk rupiah.

“Cerita soal perbedaan suku bunga kembali menjadi fokus, dengan data ekonomi AS yang lemah mendorong investor memperhitungkan peluang lebih besar pemangkasan suku bunga The Fed,” kata David Forrester, analis di Credit Agricole, Singapura. 

Pernyataan ini menegaskan bahwa sentimen global masih sangat dipengaruhi ekspektasi kebijakan moneter AS. Investor pun terus mencermati setiap data ekonomi terbaru.

Dinamika Mata Uang Asia

Dari kawasan Asia, mayoritas mata uang yang telah dibuka menunjukkan penguatan. Yen Jepang menguat tipis 0,06%, yuan offshore China naik 0,05%, dan dolar Hong Kong bertambah 0,02%. Pergerakan ini mencerminkan respons regional terhadap pelemahan dolar AS.

Penguatan mata uang Asia berlangsung dalam rentang yang terbatas. Pasar cenderung berhati-hati menunggu data lanjutan dari Amerika Serikat. Arah dolar masih menjadi faktor dominan dalam menentukan sentimen.

Namun demikian, pelemahan dolar AS diperkirakan tidak akan berlangsung lama. Indeks dolar AS pada perdagangan sebelumnya sempat menguat kembali meski hanya 0,04% ke level 96,83. Kondisi ini menunjukkan bahwa volatilitas masih tinggi.

Baca Juga Dolar Hilang Tenaga, Rupiah & Mata Uang Asia Berjaya. BI: Rupiah Tak Bisa Menguat dalam Sehari, Perlu Kerja Sama. Risiko Pelemahan Masih Mengintai, Rupiah Menunggu Katalis Baru.

Tekanan Eksternal Masih Membayangi

Tekanan eksternal tetap menjadi faktor risiko utama bagi rupiah. Data tenaga kerja AS yang lebih kuat dari ekspektasi dapat mengubah arah sentimen pasar. Ditambah lagi, sejumlah pejabat The Fed masih menunjukkan sikap hawkish.

Kombinasi faktor tersebut berpotensi kembali mendorong imbal hasil US Treasury naik. Jika yield tenor 10 tahun AS bertahan di atas 4,15% hingga 4,20%, arus dana global bisa kembali mengalir ke aset dolar. Situasi ini berisiko menekan mata uang emerging market.

Pasar juga menanti rilis inflasi AS yang akan menjadi penentu arah ekspektasi suku bunga jangka pendek. Data inflasi akan memberikan sinyal tambahan bagi kebijakan The Fed. Investor global pun bersiap menyesuaikan portofolio mereka.

Pergerakan rupiah berpotensi berada di batas bawah kisaran Rp16.700 hingga Rp16.900 per dolar AS jika pelemahan dolar berlanjut, tulis analis Maybank dalam sebuah catatan, seperti dikutip Bloomberg News. Proyeksi ini menunjukkan ruang penguatan masih terbuka. Namun volatilitas tetap perlu diwaspadai.

Sorotan Faktor Domestik

Dari sisi dalam negeri, pelaku pasar mencermati posisi fiskal pemerintah. Realisasi penerimaan negara pada awal tahun menjadi perhatian utama. Strategi pembiayaan APBN juga menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas pasar.

“Namun demikian, kekhawatiran domestik terkait posisi fiskal dan kondisi pasar saham tetap membayangi rupiah,” sebut laporan tersebut. Pernyataan ini menggambarkan bahwa sentimen domestik belum sepenuhnya solid. Stabilitas fiskal menjadi kunci menjaga kepercayaan investor.

Hasil lelang Surat Berharga Syariah Negara pada Selasa 10 Februari 2026 mencatatkan minat yang tetap solid. Meskipun yield yang ditawarkan relatif mahal, investor masih menunjukkan ketertarikan. Imbal hasil tinggi dinilai tetap atraktif bagi penempatan dana.

Hal ini menandakan pasar keuangan domestik masih memiliki daya tarik. Investor mempertimbangkan potensi imbal hasil dibandingkan risiko yang ada. Keseimbangan tersebut menjadi pertimbangan utama dalam pengambilan keputusan investasi.

Arus Modal dan Prospek Rupiah

Di sisi lain, arus dana asing tercatat keluar dari pasar saham dan obligasi. Data Bloomberg menunjukkan investor global melepas saham senilai US$42,2 juta pada 10 Februari. Sementara itu, dana keluar dari pasar obligasi mencapai US$125,6 juta.

Net sell tersebut mencerminkan kehati-hatian investor global. Tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih akan terjadi terutama di pasar offshore. Sentimen eksternal tetap menjadi faktor dominan dalam jangka pendek.

Intervensi Bank Indonesia di pasar spot dan DNDF diperkirakan tetap menjaga volatilitas. Langkah stabilisasi tersebut menjadi penopang agar fluktuasi tidak berlebihan. Otoritas moneter terus memantau dinamika global dan domestik.

Ke depan, pergerakan rupiah sangat bergantung pada dua faktor utama. Arah kebijakan The Fed akan menjadi penentu sentimen global. Selain itu, ketahanan fundamental domestik akan menentukan daya tahan rupiah di tengah gejolak pasar.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index