Industri Kreatif

Wamenekraf Ajak Pelaku Sulih Suara Bentuk Asosiasi Perkuat Industri Kreatif

Wamenekraf Ajak Pelaku Sulih Suara Bentuk Asosiasi Perkuat Industri Kreatif
Wamenekraf Ajak Pelaku Sulih Suara Bentuk Asosiasi Perkuat Industri Kreatif

JAKARTA - Perkembangan industri kreatif menuntut ekosistem yang saling terhubung dan berkelanjutan. 

Salah satu subsektor yang menunjukkan potensi besar adalah sulih suara nasional. Dukungan kelembagaan dinilai menjadi kebutuhan mendesak.

Wamenekraf dukung penguatan ekosistem sulih suara membentuk asosiasi sebagai langkah strategis. Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar menyampaikan dukungan tersebut secara terbuka. Upaya ini diarahkan untuk meningkatkan posisi tawar talenta sulih suara.

Menurut Wamenekraf Irene, pembentukan asosiasi menjadi fondasi penting. Talenta sulih suara didorong agar memiliki wadah resmi. Tujuannya agar pengembangan kapasitas dapat berjalan berkelanjutan.

Asosiasi Jadi Penghubung Talenta dan Pasar

Wamenekraf Irene menilai asosiasi akan berhadapan langsung dengan pasar. Kehadiran asosiasi diyakini mampu memperkuat posisi talenta. Apresiasi terhadap voiceover dinilai masih terbatas.

"Pembentukan asosiasi sulih suara akan berhadapan langsung dengan pasar sehingga bisa membantu untuk membentuk pasar yang menjadikan talenta sulih suara lebih dianggap, karena apresiasi terhadap voiceover masih jarang," kata Wamen Ekraf Irene. Pernyataan ini menegaskan pentingnya struktur organisasi. Pasar menjadi ruang utama pembuktian talenta.

Asosiasi diharapkan menjadi jembatan antara kebutuhan industri dan kemampuan pelaku. Talenta dapat lebih mudah mengakses peluang kerja. Nilai profesi sulih suara pun meningkat.

Kolaborasi Kemenekraf dan Voice Institute Indonesia

Wamenekraf Irene membahas peluang kolaborasi berkelanjutan. Pembahasan dilakukan dalam pertemuan bersama Voice Institute Indonesia (VII). Fokus utama adalah penguatan ekosistem sulih suara nasional.

Kerja sama dengan Voice Institute Indonesia bertujuan mendorong aktor suara. Talenta pemula hingga ahli diarahkan memiliki ruang belajar. Kolaborasi jangka panjang menjadi target utama.

Wamenekraf Irene menekankan pentingnya berbagi pengetahuan. Pelatihan berkelanjutan dinilai krusial. Ekosistem yang sehat lahir dari pembelajaran kolektif.

Pengembangan Talenta, Sertifikasi, dan Tantangan AI

Wamenekraf Irene menyoroti pengembangan talenta tidak berhenti pada asosiasi. Sertifikasi profesi menjadi kebutuhan lanjutan. Akses pasar nasional dan global juga diperluas.

Pertemuan turut membahas tantangan industri sulih suara. Persaingan dengan Artificial Intelligence (AI) menjadi perhatian utama. Otentisitas personal dinilai sebagai keunggulan manusia. Kemenekraf menilai suara manusia memiliki karakter unik. Nilai personal tidak mudah digantikan teknologi. Asosiasi berperan menjaga standar kualitas.

Penguatan Komunitas dan Daya Saing Daerah

Kemenekraf mengapresiasi inisiatif Voice Institute Indonesia membangun komunitas aktif. Jaringan tersebut menjangkau lebih dari 45.847 penyuka sulih suara. Komunitas tersebar di berbagai provinsi.

Ekosistem yang tertata dinilai sangat dibutuhkan. Standar kompetensi talenta menjadi langkah awal. Akses pasar menjadi kunci keberlanjutan profesi. Kemenekraf melihat talenta daerah perlu naik kelas. Daya saing nasional dan global harus diperkuat. Asosiasi menjadi alat penggerak utama.

Kolaborasi Pemerintah dan Asosiasi Sulih Suara

"Kolaborasi antara pemerintah dan asosiasi menjadi kunci penguatan ekosistem yang menghidupkan ruang bagi talenta di daerah untuk terhubung langsung dengan kebutuhan industri," kata Irene. Pernyataan ini menekankan sinergi lintas pihak. Pemerintah berperan sebagai fasilitator.

Kolaborasi menjadi jalan membuka peluang merata. Talenta daerah dapat terhubung langsung ke industri. Pemerataan ekonomi kreatif pun tercapai. Kemenekraf berkomitmen membuka ruang dialog. Asosiasi menjadi mitra strategis. Sinergi ini dirancang berkelanjutan.

Jejak Kolaborasi dan Dukungan Industri

Kemenekraf dan Voice Institute Indonesia pernah berkolaborasi sebelumnya. Program Road to Wonder Voice of Indonesia 2025 digelar di beberapa kota. Antusiasme peserta terbilang tinggi.

Program tersebut mencatat pendaftaran lebih dari 7.200 peserta. Angka ini mencerminkan minat besar masyarakat. Sulih suara menjadi subsektor yang menjanjikan. Kolaborasi ini menjadi contoh konkret dukungan pemerintah. Ekosistem tumbuh melalui kegiatan nyata. Talenta mendapat ruang aktualisasi.

Pentingnya Asosiasi Menurut Pelaku Industri

Pendiri Voice Institute Indonesia Bimo Kusumo Yudho menilai asosiasi bersifat penting. Asosiasi mendukung peningkatan kapabilitas talenta. Advokasi hukum juga menjadi perhatian.

Bimo menilai negara perlu hadir dalam penguatan profesi. Dukungan kebijakan menjadi faktor penting. Asosiasi memudahkan koordinasi dengan pemerintah. Keberadaan asosiasi juga memberi perlindungan. Talenta memiliki posisi tawar yang lebih baik. Industri sulih suara bergerak lebih profesional.

Masa Depan Ekosistem Sulih Suara Nasional

Penguatan ekosistem sulih suara membutuhkan kerja kolektif. Pemerintah, asosiasi, dan industri harus berjalan seiring. Sinergi menjadi kunci keberhasilan.

Asosiasi diharapkan menjadi pusat pengembangan talenta. Standar kompetensi dan etika profesi dijaga. Pasar menjadi lebih terstruktur. Dengan dukungan berkelanjutan, sulih suara nasional berpeluang besar. Talenta lokal mampu bersaing secara global. Ekosistem kreatif Indonesia semakin kuat.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index