JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan setelah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan pandangannya terkait peluang penguatan mata uang Garuda.
Di tengah dinamika global yang masih penuh tantangan, rupiah dinilai tetap memiliki ruang untuk bergerak lebih kuat apabila didukung oleh kebijakan yang konsisten serta fundamental ekonomi nasional yang terus membaik. Optimisme ini disampaikan di tengah momentum penguatan rupiah pada perdagangan terakhir.
Pada penutupan perdagangan di Jakarta, Selasa, rupiah tercatat menguat 44 poin atau sekitar 0,26 persen menjadi Rp16.754 per dolar Amerika Serikat dari posisi sebelumnya Rp16.798 per dolar AS. Penguatan tersebut dinilai sebagai sinyal bahwa stabilitas ekonomi domestik masih terjaga, meskipun tekanan eksternal belum sepenuhnya mereda. Pergerakan ini juga memunculkan kembali diskusi mengenai kemungkinan rupiah kembali ke level yang lebih kuat.
Optimisme Pemerintah Terhadap Arah Rupiah
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan keyakinannya bahwa rupiah berpeluang menguat hingga ke kisaran Rp15.000 per dolar AS. Menurutnya, level tersebut bukanlah target yang terlalu sulit dicapai apabila perbaikan fundamental ekonomi nasional terus berjalan secara konsisten. Ia menilai bahwa dengan bauran kebijakan yang tepat, stabilitas nilai tukar dapat terjaga secara berkelanjutan.
“Menurut saya, kalau rupiah bergerak ke sekitar Rp15.000 per dolar AS, itu tidak terlalu sulit. Saya tidak bisa berbicara mewakili bank sentral, tapi kalau saya di posisi mereka, level itu bukan sesuatu yang sulit dicapai,” kata Purbaya dalam Indonesia Economic Summit (IES) 2026 di Jakarta, dilansir Antara, Rabu, 4 Februari 2026. Pernyataan tersebut mencerminkan keyakinan pemerintah terhadap kekuatan fundamental ekonomi Indonesia.
Peran Bank Indonesia Dan Kebijakan Konsisten
Meski tidak berbicara atas nama Bank Indonesia, Purbaya menekankan bahwa peran bank sentral tetap krusial dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Kebijakan moneter yang kredibel dan konsisten menjadi salah satu faktor utama dalam membangun kepercayaan pasar. Ketika pasar melihat adanya koordinasi yang solid antara otoritas fiskal dan moneter, tekanan terhadap rupiah dinilai dapat diminimalkan.
Menurut Purbaya, konsistensi kebijakan ekonomi akan menciptakan persepsi positif di mata investor global. Persepsi tersebut penting untuk menjaga arus modal tetap stabil, bahkan mendorong masuknya aliran dana asing ke dalam negeri. Dengan dukungan kebijakan yang sejalan, penguatan rupiah diyakini dapat terjadi secara bertahap dan berkelanjutan.
Pertumbuhan Ekonomi Sebagai Fondasi Utama
Pertumbuhan ekonomi yang kuat menjadi salah satu penopang utama penguatan rupiah. Purbaya menjelaskan bahwa ketika ekonomi tumbuh tinggi, kesejahteraan masyarakat akan meningkat. Dampaknya, daya tarik Indonesia sebagai tujuan investasi juga akan semakin besar. Kondisi tersebut pada akhirnya mendorong masuknya modal asing secara alami ke dalam negeri.
Investor asing, menurutnya, selalu mencari peluang untuk mengambil bagian dari pertumbuhan ekonomi suatu negara. Ketika pertumbuhan ekonomi Indonesia menunjukkan tren positif, minat investor untuk menanamkan modal akan meningkat. Masuknya investasi langsung atau foreign direct investment (FDI) akan memberikan tambahan pasokan devisa yang berdampak positif terhadap nilai tukar rupiah.
Arus Modal Asing Dan Dampaknya Terhadap Rupiah
Purbaya menegaskan bahwa penguatan rupiah sangat erat kaitannya dengan arus modal asing. Ketika investor melihat pemerintah bekerja serius memperbaiki kondisi ekonomi, kepercayaan akan tumbuh. Kepercayaan inilah yang menjadi kunci masuknya modal asing ke Indonesia, baik dalam bentuk investasi langsung maupun investasi portofolio.
“Ketika orang melihat saya bekerja serius memperbaiki kondisi ekonomi, dan ketika mereka mulai melihat ekonomi benar-benar membaik, modal akan masuk dan rupiah akan menguat hampir secara otomatis,” ujar Purbaya. Pernyataan ini menegaskan bahwa stabilitas ekonomi dan kredibilitas kebijakan merupakan faktor penting dalam menjaga nilai tukar.
Fundamental Rupiah Dan Risiko Krisis
Lebih lanjut, Purbaya menilai bahwa nilai tukar rupiah saat ini belum sepenuhnya mencerminkan fundamental perekonomian Indonesia. Ia juga menyangsikan bahwa kondisi rupiah saat ini berpotensi memicu krisis seperti yang terjadi pada periode 1997–1998. Menurutnya, situasi ekonomi Indonesia saat ini jauh lebih kuat dan terkelola dengan baik.
Ia menekankan bahwa otoritas ekonomi bergerak secara selaras untuk menjaga stabilitas sistem keuangan. Selain Bank Indonesia yang memegang peran utama dalam kebijakan moneter, terdapat pula Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang melibatkan Kementerian Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta Lembaga Penjamin Simpanan. Koordinasi lintas lembaga ini dinilai mampu meredam potensi gejolak di pasar keuangan.
Dengan dukungan fundamental ekonomi yang kuat, kebijakan yang konsisten, serta koordinasi antarotoritas yang solid, optimisme terhadap penguatan rupiah tetap terjaga. Pasar pun akan terus mencermati perkembangan kebijakan dan indikator ekonomi ke depan sebagai penentu arah pergerakan nilai tukar rupiah.