Saham

IHSG Bangkit Setelah Guncangan Pasar Tiga Saham Berpeluang Menguat Kembali

IHSG Bangkit Setelah Guncangan Pasar Tiga Saham Berpeluang Menguat Kembali
IHSG Bangkit Setelah Guncangan Pasar Tiga Saham Berpeluang Menguat Kembali

JAKARTA - Pergerakan pasar saham Indonesia mulai menunjukkan tanda pemulihan setelah tekanan hebat yang memicu trading halt dua kali dalam satu hari. 

Indeks Harga Saham Gabungan perlahan bangkit, seiring meredanya kepanikan dan munculnya minat beli pada saham-saham yang dinilai sudah terlalu murah namun masih memiliki fundamental solid. Situasi ini membuka ruang bagi investor untuk kembali mencermati peluang, terutama pada emiten-emiten pilihan yang berpotensi melanjutkan penguatan dalam jangka menengah.

Setelah tekanan tajam pada Kamis 29 Januari 2026, IHSG akhirnya mampu mengurangi pelemahan dan menutup perdagangan di level 8.223,20. 

Penurunan tersebut setara 88,35 poin atau melemah 1,06 persen, jauh lebih baik dibandingkan kondisi di awal sesi ketika indeks sempat terjun hingga delapan persen. Pergerakan ini menandai adanya respons cepat dari pelaku pasar yang mulai melakukan bargain hunting secara selektif.

Tekanan Pasar Dan Pemicu Trading Halt

Gejolak yang terjadi tidak lepas dari aksi panic selling yang menyelimuti pasar domestik. Sentimen negatif bermula dari keputusan Goldman Sachs dan UBS yang menurunkan peringkat saham Indonesia menjadi underweight. 

Tekanan tersebut semakin dalam setelah MSCI menghentikan sementara proses review indeks Indonesia pada Februari mendatang, sembari menuntut keterbukaan data free float yang lebih transparan.

Kekhawatiran pasar semakin membesar karena MSCI memberi sinyal bahwa jika hingga Mei tidak ada perbaikan signifikan, bobot saham Indonesia di indeks global berpotensi dikurangi. Bahkan, terdapat risiko penurunan status pasar Indonesia dari Emerging Market menjadi Frontier Market. Jika skenario ini terjadi, potensi dana asing yang keluar dari pasar domestik diperkirakan bisa mencapai sekitar Rp150 triliun.

Respons Regulator Jaga Kepercayaan Investor

Menghadapi tekanan tersebut, regulator bergerak cepat untuk meredam kekhawatiran pasar. Otoritas Jasa Keuangan dan Bursa Efek Indonesia menggelar konferensi pers bersama pada Kamis 29 Januari 2026. Pemerintah menegaskan komitmennya untuk menjaga posisi Indonesia tetap berada dalam kategori Emerging Market di mata investor global.

Sebagai langkah konkret, OJK bahkan akan berkantor sementara di BEI guna memastikan koordinasi berjalan lebih intensif. Direktur Utama BEI, Iman Rachman, dijadwalkan bertemu langsung dengan MSCI pada awal pekan depan untuk membahas isu utama, khususnya transparansi data kepemilikan saham. Regulator juga memprioritaskan pengumpulan dan validasi data kepemilikan di atas lima persen sebagai langkah cepat.

Langkah Strategis Menjaga Daya Tarik Pasar

Selain itu, data kepemilikan saham akan dikonsultasikan langsung kepada MSCI agar selaras dengan standar internasional. Termasuk di dalamnya rencana pembukaan data Ultimate Beneficial Owner untuk sekitar seratus emiten yang akan diserahkan kepada MSCI. Pemerintah juga menyampaikan bahwa Presiden Prabowo diasumsikan telah mengetahui perkembangan isu strategis ini.

Dari sisi kebijakan, regulator berencana memberlakukan ketentuan free float minimum 15 persen bagi emiten existing maupun IPO baru. Relaksasi aturan investasi BPJS Ketenagakerjaan juga tengah disiapkan untuk mendorong likuiditas pasar. Seluruh rangkaian kebijakan ini ditargetkan rampung pada Maret 2026 sebagai bagian dari upaya menjaga kredibilitas pasar modal Indonesia.

Rebound IHSG Beri Sinyal Positif

Merespons berbagai langkah tersebut, pergerakan IHSG pada sesi kedua perdagangan mulai menunjukkan perbaikan. Candle harian kembali menghijau setelah indeks sempat jatuh hingga ke area kepala tujuh. Pelemahan yang semula dalam akhirnya menyempit, dan IHSG bertahan di kisaran 8.232,20 hingga penutupan perdagangan.

Rebound yang relatif cepat ini memberikan sinyal bahwa tekanan jual mulai mereda. Investor mulai kembali melirik saham-saham berfundamental kuat, memiliki agenda bisnis menarik, valuasi yang sudah murah, serta prospek dividen yang menjanjikan. Kondisi ini menciptakan peluang bagi saham-saham pilihan untuk kembali menguat.

Pilihan Saham Dengan Fundamental Kuat

Salah satu saham yang menarik dicermati adalah PT Merdeka Copper Gold Tbk atau MDKA. Emiten ini masih mendapat katalis positif dari kenaikan harga emas dan tembaga di pasar global. Harga emas bahkan baru-baru ini menembus rekor tertinggi di atas USD 5.000 per troy ounce, sementara harga tembaga mencapai level puncak di atas USD 6,3 per pound.

Secara bisnis, MDKA memang lebih dominan di tembaga, namun lini emas melalui anak usahanya PT Merdeka Gold Resources Tbk juga dinilai menjanjikan. Anak usaha tersebut dikabarkan akan melakukan dual listing ke Bursa Hong Kong, meski belum lama ini baru melantai di BEI. Sentimen positif juga datang dari aksi Komisaris MDKA Andrew Phillip Starkey yang menambah kepemilikan sahamnya.

Selain MDKA, saham perbankan pelat merah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk atau BBRI juga mencuri perhatian. Saham ini berhasil rebound dengan penguatan di atas lima persen dan menjadi yang terkuat di antara bank besar lainnya. Dalam jangka pendek, saham BBRI dinilai masih memiliki peluang melanjutkan penguatan menuju level resistance terdekat.

Dari sisi fundamental, BBRI dinilai sudah berada pada valuasi yang menarik. Rasio PBV saham ini tercatat berada di minus dua standar deviasi dari rata-rata lima tahun terakhir. Meski masih ada risiko outflow terkait MSCI dan tekanan kinerja tahun lalu, prospek perbaikan kinerja mulai terlihat pada kuartal pertama 2026, seiring penurunan suku bunga Bank Indonesia dan efek low base.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index