BBM

Ahok Ungkap Alasan Pertamina Tingkatkan Kuota Impor Minyak

Ahok Ungkap Alasan Pertamina Tingkatkan Kuota Impor Minyak
Ahok Ungkap Alasan Pertamina Tingkatkan Kuota Impor Minyak

JAKARTA - Komisaris Utama PT Pertamina (Persero), Basuki Tjahaja Purnama atau yang akrab disapa Ahok, memberikan penjelasan mendalam mengenai kebijakan perusahaan untuk meningkatkan kuota impor minyak mentah. 

Langkah ini diambil sebagai strategi jangka pendek guna menjaga ketahanan energi nasional serta memastikan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) di tengah dinamika konsumsi masyarakat yang terus meningkat. Penjelasan ini bertujuan untuk memberikan transparansi kepada publik mengenai langkah-langkah yang diambil perusahaan dalam mengamankan stok energi dalam negeri.

Pada Rabu, 28 Januari 2026, Ahok menekankan bahwa peningkatan kuota impor ini bukanlah langkah mundur, melainkan respon terhadap realitas produksi hulu domestik yang belum mampu mengimbangi laju permintaan. Pertamina berupaya menyeimbangkan antara optimalisasi kilang dalam negeri dengan pengadaan pasokan dari luar negeri guna mencegah terjadinya kelangkaan energi yang dapat mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat luas.

Faktor Utama Kenaikan Impor Minyak

Terdapat beberapa alasan teknis dan strategis di balik keputusan Pertamina untuk menambah volume impor minyak tahun ini:

Peningkatan Kapasitas Kilang: Dengan tuntasnya beberapa proyek pengembangan kilang (Refinery Development Master Plan/RDMP), kapasitas pengolahan dalam negeri meningkat, sehingga membutuhkan input minyak mentah yang lebih besar.

Gap Produksi Domestik: Realisasi produksi minyak mentah nasional (lifting) yang masih menghadapi tantangan untuk mencapai target, memaksa perusahaan mencari alternatif pasokan guna memenuhi kebutuhan kilang.

Efisiensi Biaya Logistik: Ahok menyebutkan bahwa dalam beberapa kasus, mengimpor minyak mentah tertentu lebih ekonomis secara logistik dan sesuai dengan spesifikasi teknis kilang modern yang dimiliki Pertamina saat ini.

Strategi Pengadaan dan Transparansi

Ahok memastikan bahwa proses pengadaan minyak impor kini dilakukan dengan sistem yang lebih transparan dan akuntabel melalui optimasi fungsi Integrated Supply Chain (ISC). Pertamina kini lebih mengutamakan pembelian langsung dari produsen atau perusahaan minyak negara (National Oil Companies) untuk memangkas peran perantara yang seringkali membuat harga menjadi tidak efisien. Pada Rabu, 28 Januari 2026, ditekankan bahwa setiap dolar yang dikeluarkan untuk impor harus dapat dipertanggungjawabkan manfaatnya bagi ketahanan energi nasional.

Peningkatan impor ini juga dilakukan dengan memanfaatkan momentum fluktuasi harga minyak global. Pertamina berupaya melakukan pembelian saat harga kompetitif untuk membangun cadangan operasional yang aman. Meski impor meningkat, Ahok menyatakan bahwa target jangka panjang perusahaan tetap pada penguatan produksi domestik dan transisi energi guna mengurangi ketergantungan pada energi fosil dari luar negeri di masa depan.

Dampak bagi Ketahanan Energi Nasional

Dengan kuota impor yang terjaga, masyarakat diharapkan tidak perlu khawatir akan potensi kelangkaan BBM di SPBU. Pasokan yang stabil merupakan kunci utama dalam menjaga inflasi tetap terkendali, mengingat sektor transportasi dan logistik sangat bergantung pada ketersediaan bahan bakar. Langkah Pertamina ini merupakan bentuk mitigasi risiko terhadap ketidakpastian geopolitik global yang seringkali memengaruhi jalur distribusi energi internasional.

"Prioritas kita adalah perut rakyat tidak boleh terganggu karena urusan energi. Impor ini adalah langkah terukur untuk memastikan kilang kita tetap berputar dan BBM tetap tersedia."

Pemerintah dan Pertamina terus berkoordinasi untuk memastikan bahwa kebijakan impor ini sejalan dengan kesehatan fiskal negara. Pengawasan ketat tetap dilakukan agar peningkatan kuota ini tidak memberikan tekanan berlebih pada neraca perdagangan, sembari terus mendorong investasi di sektor hulu migas agar ketergantungan pada impor dapat ditekan secara bertahap dalam beberapa tahun ke depan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index