JAKARTA - Menutup lembaran tahun 2025, stabilitas sistem keuangan Indonesia menunjukkan ketahanan yang luar biasa di tengah dinamika ekonomi global. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan bahwa fungsi intermediasi perbankan nasional tetap berada dalam jalur pertumbuhan yang positif. Tren menggembirakan ini mencerminkan kepercayaan sektor usaha dan masyarakat yang tetap tinggi terhadap ekosistem keuangan domestik.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, menegaskan bahwa pencapaian ini didorong oleh manajemen risiko yang sangat disiplin. Berdasarkan data terbaru, sektor perbankan berhasil menjaga keseimbangan antara ekspansi kredit dan kualitas aset, yang menjadi fondasi utama bagi stabilitas makroekonomi nasional hingga memasuki awal tahun 2026.
Realisasi Kredit dan Penopang Sektor Investasi
Berdasarkan paparan dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Jakarta, Mahendra mengungkapkan angka-angka krusial terkait performa perbankan. "Pada Desember 2025, kredit perbankan tercatat tumbuh 9,6 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp8.585 triliun," ujarnya.
Angka pertumbuhan ini tidak muncul begitu saja tanpa penggerak yang kuat. Kredit investasi menjadi motor utama dengan lonjakan yang sangat signifikan mencapai 20,81 persen. Hal ini mengindikasikan adanya ekspansi besar-besaran di sektor riil dan kepercayaan investor dalam jangka panjang. Sementara itu, kategori kredit lainnya juga ikut merangkak naik; kredit konsumsi tumbuh sebesar 6,58 persen, dan kredit modal kerja mengalami peningkatan sebesar 4,52 persen.
Kualitas Aset dan Pengelolaan Risiko Kredit
Meskipun penyaluran kredit melaju pesat, perbankan tetap mampu mempertahankan kualitas aset di level yang sangat sehat. OJK mencatat rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) tetap terkendali dengan angka NPL gross sebesar 2,05 persen dan NPL net sebesar 0,79 persen. Kondisi ini membuktikan bahwa proses underwriting dan mitigasi risiko di perbankan berjalan efektif.
Selain itu, indikator Loan at Risk (LAR) yang sering menjadi perhatian dalam melihat potensi risiko di masa depan terpantau relatif stabil di level 8,72 persen secara tahunan. Dengan angka-angka tersebut, ketahanan industri perbankan terhadap potensi guncangan kredit masih dianggap sangat mumpuni.
Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga dan Likuiditas
Di sisi pendanaan, sektor perbankan juga tidak kekurangan pasokan likuiditas. Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) menunjukkan kinerja yang solid dengan pertumbuhan mencapai 13,83 persen (yoy), sehingga total saldo mencapai Rp10.059 triliun. Secara mendetail, pertumbuhan ini disokong oleh kenaikan giro sebesar 19,13 persen, tabungan sebesar 8,19 persen, dan deposito yang meningkat 14,28 persen.
Ketangguhan modal perbankan pun berada pada posisi yang sangat tebal. Rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) berada di level tinggi. "Yakni sebesar 25,87 persen pada Desember 2025," kata Mahendra. Likuiditas yang terjaga tercermin dari Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 85,35 persen. Angka ini menunjukkan bahwa perbankan masih memiliki ruang yang cukup untuk menyalurkan kredit di masa mendatang tanpa mengorbankan stabilitas.
Indikator likuiditas lainnya juga menunjukkan hasil di atas ambang batas regulasi. Rasio Alat Likuid terhadap Non-Core Deposit (AL/NCD) tercatat sebesar 126,56 persen, sedangkan Alat Likuid terhadap DPK (AL/DPK) berada di angka 28,50 persen.
Performa Gemilang Pasar Saham dan Penghimpunan Dana
Tidak hanya di sektor perbankan, optimisme juga menyelimuti pasar modal Indonesia. "Sejalan dengan stabilnya sektor keuangan, pasar saham domestik juga menunjukkan kinerja positif pada triwulan IV-2025," jelas Mahendra.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri tahun 2025 dengan posisi yang sangat kuat di level 8.646,94 per 30 Desember. Jika dihitung secara kuartalan, IHSG menguat 7,27 persen, sementara secara tahunan mencatatkan lonjakan fantastis sebesar 22,13 persen. Gairah pasar ini didorong oleh peningkatan volume transaksi harian dan minat investor asing yang melakukan aksi beli bersih (net buy) hingga Rp37,4 triliun.
Aktivitas penggalangan dana di pasar modal juga tidak kalah produktif. Nilai penawaran umum sepanjang tahun 2025 menembus angka Rp274,8 triliun, melampaui capaian tahun 2024 yang berada di angka Rp259,24 triliun.
Ketahanan Sektor IKNB dan Industri Asuransi
Sektor Industri Keuangan Non-Bank (IKNB), yang mencakup asuransi, penjaminan, dan dana pensiun, juga melaporkan pertumbuhan yang stabil. Total aset industri asuransi per Desember 2025 menyentuh angka Rp1.201,96 triliun, tumbuh 6,01 persen (yoy).
Dari segi solvabilitas, industri asuransi komersial memiliki permodalan yang sangat kuat. Risk-Based Capital (RBC) untuk asuransi jiwa berada di angka 485,9 persen. "Serta, asuransi umum dan reasuransi sebesar 335,22 persen, jauh di atas ambang batas minimum 120 persen," ungkap Ketua Dewan Komisioner OJK tersebut.
Pertumbuhan Sektor Dana Pensiun dan Penjaminan
Menutup laporan kinerjanya, Mahendra memaparkan bahwa industri dana pensiun mengalami pertumbuhan aset sebesar 11,35 persen (yoy) menjadi Rp1.679,46 triliun. Di dalamnya, program pensiun sukarela menyumbang aset sebesar Rp411,29 triliun atau tumbuh 7,52 persen. Sementara itu, sektor perusahaan penjaminan juga ikut terkerek naik sebesar 2,42 persen dengan total aset mencapai Rp47,51 triliun.
Secara keseluruhan, data yang disajikan OJK ini memberikan sinyal kuat bahwa fondasi ekonomi Indonesia pada awal 2026 berada dalam kondisi yang sangat prima untuk menghadapi tantangan tahun-tahun mendatang.