JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali menunjukkan penguatan pada pembukaan perdagangan hari ini, Senin.
Hingga pukul 10.14 WIB, rupiah berada di level Rp16.779 per USD, menguat 0,24 persen dari penutupan sebelumnya di Rp16.820 per USD. Pergerakan ini menandai fluktuasi mata uang domestik yang cukup signifikan dalam beberapa hari terakhir.
Pengaruh Keputusan The Fed terhadap Pergerakan Rupiah
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai rupiah hari ini akan bergerak fluktuatif, dipengaruhi oleh spekulasi pasar terhadap pengganti Jerome Powell sebagai Ketua The Fed. Ekspektasi Ketua Fed yang lebih lunak sempat mendorong prediksi penurunan suku bunga lebih lanjut, namun data PDB kuartal III/2025 yang lebih tinggi dari perkiraan mengurangi kemungkinan penurunan suku bunga tersebut. Stabilitas pasar tenaga kerja AS juga memperkuat sinyal bahwa ekonomi berjalan lebih baik dari perkiraan.
Dinamika Geopolitik dan Hubungan Internasional
Ketegangan geopolitik turut memengaruhi pergerakan rupiah. Presiden AS Donald Trump melunakkan ancaman terhadap Greenland setelah mengamankan akses AS melalui kesepakatan NATO. Namun, ancaman awal tentang tarif dan tindakan militer memicu kekhawatiran hubungan transatlantik dengan Uni Eropa. Selain itu, isu Iran dan konflik Rusia-Ukraina juga menjadi faktor yang menahan pergerakan mata uang global, termasuk rupiah. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy menekankan perlunya jaminan keamanan, meski negosiasi wilayah masih berlangsung.
Peran Bank Indonesia dalam Menahan Volatilitas Rupiah
Dalam kondisi global yang tidak pasti, IMF meminta Bank Indonesia (BI) berhati-hati dalam intervensi valuta asing. Rupiah secara de facto tetap mengambang mengikuti mekanisme pasar, namun BI menerapkan intervensi untuk menstabilkan pergerakan ekstrem. Instrumen yang digunakan mencakup pasar spot, domestic non-deliverable forward (DNDF), dan intervensi non-deliverable forward (NDF) di luar negeri. IMF menekankan agar intervensi dilakukan bijaksana, terukur, dan tidak menghambat penyesuaian fundamental.
Cadangan Devisa dan Kebijakan Moneter BI
IMF menilai cadangan devisa Indonesia saat ini tetap memadai, sambil mengapresiasi langkah BI mengisi kembali cadangan ketika tekanan eksternal mulai mereda. Selain itu, arah kebijakan moneter BI dinilai tepat. Sejak September 2024 hingga September 2025, BI telah menurunkan suku bunga acuan sebanyak enam kali sebesar total 25 basis poin, sehingga berada di level 4,75 persen. Kebijakan ini dijalankan di tengah pertumbuhan kredit yang masih lemah, namun tetap menjaga daya tarik rupiah di pasar global.
Prospek Rupiah dalam Jangka Pendek dan Strategi Pasar
Fluktuasi rupiah diperkirakan akan berlanjut sepanjang minggu ini, seiring tekanan eksternal dari dolar AS yang menguat dan ketidakpastian geopolitik. Intervensi BI dapat membantu menahan volatilitas, namun pelaku pasar tetap disarankan memantau perkembangan global, keputusan Fed, serta dinamika politik internasional. Rupiah kemungkinan akan tetap berada di kisaran Rp16.790–Rp17.000 per USD hingga akhir pekan, tergantung sentimen eksternal dan langkah kebijakan domestik.