Mitos tentang keuangan sudah sejak lama beredar luas di masyarakat. Asal mula mitos ini pun biasanya berasal dari kurangnya pengetahuan.
Sebagai akibatnya, muncul kekhawatiran berlebihan dalam mengelola keuangan atau bahkan berinvestasi.
Padahal, jika seseorang memiliki pemahaman yang mendalam mengenai dasar-dasar keuangan, berbagai mitos ini akan lenyap dengan sendirinya.
Pemahaman yang baik mengenai keuangan akan membantu banyak orang terhindar dari jebakan mitos mengenai keuangan yang masih sering dipercayai dan tersebar luas.
Bagi sebagian orang yang sudah cukup mengenal keuangan, termasuk instrumen investasi seperti saham, ada yang bahkan sudah mencoba berinvestasi atau melakukan trading.
Namun, karena kurangnya informasi yang akurat, mitos tentang keuangan ini masih saja mudah dipercaya banyak orang di berbagai belahan dunia.
Mitos tentang Keuangan dan Fakta Sebenarnya
Berikut ini adalah daftar beberapa mitos tentang keuangan yang tidak perlu dipercayai karena keliru dan fakta sebenarnya.
1. Mengurangi Utang Kartu Kredit Tiap Bulan Memperbaiki Skor Kredit
Salah satu mitos yang sering beredar adalah anggapan bahwa mengurangi utang kartu kredit sedikit demi sedikit setiap bulan dapat meningkatkan skor kredit secara signifikan.
Namun, sebenarnya cara terbaik untuk menjaga skor kredit adalah dengan selalu membayar tagihan secara penuh dan tepat waktu.
Kartu kredit sendiri memiliki peran penting dalam menunjang masa depan finansial, baik itu untuk membayar cicilan rumah atau mengajukan pinjaman lainnya.
Memiliki kartu kredit dan sering menggunakannya untuk beragam kebutuhan—seperti tagihan bulanan atau cicilan—justru dapat memperkuat skor kredit asalkan semua tagihan dilunasi tanpa menunggak.
Pembayaran tepat waktu menunjukkan bahwa pengguna kartu kredit dapat mengelola keuangannya dengan baik.
Skor kredit yang tinggi akan memudahkan seseorang untuk mendapatkan persetujuan kredit di masa mendatang.
2. Investasi Saham Itu Terlalu Berisiko
Mitos yang beredar mengenai investasi saham seringkali menyebutkan bahwa pasar saham terlalu berisiko.
Padahal, semua bentuk investasi—seperti reksa dana atau obligasi—memiliki risiko masing-masing.
Pasar saham memang cenderung mengalami fluktuasi yang tajam, tetapi jika dilihat dari sisi historis maka pasar saham terus menunjukkan tren kenaikan dalam jangka panjang.
Penting untuk memahami prinsip-prinsip dasar investasi saham agar bisa memaksimalkan potensi pengembalian dengan risiko yang terkendali.
Selain itu, risiko dalam setiap instrumen investasi dapat disesuaikan dengan tujuan dan profil risiko masing-masing investor.
Tidak semua saham bersifat berisiko tinggi, begitu juga dengan reksa dana dan obligasi yang memiliki risiko yang lebih terukur.
3. Investasi Properti Merupakan Investasi Terbaik
Sering kali dikatakan bahwa investasi properti adalah investasi terbaik, tetapi ini sebenarnya mitos yang keliru.
Setiap jenis investasi memiliki risiko, dan properti justru termasuk salah satu yang memiliki tingkat risiko tertinggi.
Untuk memulai investasi properti, diperlukan modal yang besar, seperti membeli tanah dan membangun properti di atasnya.
Selain itu, sebagai investor properti, seseorang harus siap menghadapi berbagai tanggung jawab, mulai dari perawatan properti hingga perbaikan yang mungkin diperlukan.
Tidak hanya itu, jika kondisi pasar properti sedang buruk, investor juga harus siap untuk menghadapi kerugian, utamanya jika harus menjual properti di saat harga turun.
Jadi, meskipun investasi properti bisa menguntungkan, risiko yang terkait dengannya juga tidak boleh dianggap remeh.
4. Menyewa Sama Saja Membuang Uang
Adapun saat ini banyak orang beranggapan bahwa menyewa properti sama saja dengan membuang uang.
Padahal, keputusan untuk membeli atau menyewa adalah pilihan yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing.
Seperti halnya mengonsumsi makanan, meskipun pada akhirnya dibuang, itu adalah bagian dari kebutuhan hidup yang harus dipenuhi.
Begitu pula dengan menyewa rumah; ini bukanlah pemborosan, melainkan keputusan berdasarkan keadaan ekonomi dan sosial seseorang.
Yang terpenting adalah memiliki tempat tinggal yang aman dan nyaman sebagai tempat berlindung, yang tidak selalu harus dimiliki secara permanen.
5. Tidak Perlu Membuat Anggaran Keuangan selama Mengetahui Ke Mana Perginya Semua Uang
Pernyataan ini jelas keliru karena tujuan utama membuat anggaran keuangan lebih dari sekadar melacak pengeluaran bulanan. Anggaran keuangan juga berfungsi untuk merencanakan masa depan.
Jika seseorang memiliki berbagai tujuan keuangan, seperti liburan ke luar negeri, membeli rumah, atau pensiun lebih awal, maka merancang anggaran sangat penting untuk memastikan tercapainya tujuan-tujuan tersebut.
Dengan anggaran yang jelas, seseorang dapat dengan mudah melihat area mana yang perlu diperbaiki atau mendapat perhatian lebih dalam hal pengeluaran sehingga ia bisa lebih fokus dalam mewujudkan tujuan finansialnya.
6. Satu Rupiah yang Disimpan adalah Satu Rupiah yang Didapat
Meskipun terdengar benar, pernyataan ini tidak sepenuhnya akurat. Menyimpan satu rupiah sekarang tidak akan memiliki nilai yang sama di masa depan, terutama jika inflasi terus terjadi.
Seiring berjalannya waktu, biaya hidup dapat meningkat, yang mengurangi daya beli uang yang disimpan.
Contohnya, harga beras yang sekarang hanya Rp8.000 per liter mungkin akan melonjak beberapa kali lipat dalam lima tahun ke depan.
Itulah sebabnya penting untuk tidak hanya menyimpan uang, tetapi juga mengelola keuangan dengan bijak, melalui perencanaan anggaran yang matang dan strategi investasi yang tepat.
7. Terlalu Muda dan tidak Punya Cukup Uang untuk Mulai Menabung demi Pensiun
Mitos ini sering dipercaya, padahal kenyataannya, siapa pun bisa mulai menabung untuk pensiun, tak peduli usia atau jumlah uang yang dimiliki.
Kunci utamanya adalah komitmen dan keinginan untuk menyisihkan sebagian pendapatan, meskipun jumlahnya sedikit. Tanpa niat dan perencanaan yang jelas, tabungan pensiun tidak akan terwujud.
Penting juga untuk memahami bahwa nilai uang yang disimpan akan berubah seiring waktu karena inflasi.
Karena itu, memeriksa anggaran keuangan dan memulai rencana tabungan pensiun lebih awal akan memberikan manfaat jangka panjang yang jauh lebih besar di masa depan.
8. Prioritaskan Membayar Pinjaman Pendidikan sebelum Merencanakan Masa Depan
Banyak yang menganggap bahwa membayar pinjaman pendidikan harus menjadi prioritas utama sebelum merencanakan masa depan.
Meskipun pinjaman pendidikan termasuk kategori utang yang baik dan tidak memengaruhi skor kredit secara signifikan, merencanakan masa depan tetap penting.
Membayar utang tepat waktu memang sangat dianjurkan, namun tidak perlu menunda perencanaan keuangan untuk masa depan hanya karena utang belum lunas.
Yang terbaik adalah memisahkan pendapatan, mengalokasikan sebagian untuk pembayaran utang pendidikan, dan sisanya untuk merencanakan kebutuhan atau investasi masa depan secara bersamaan.
9. Harga Jual Selalu Merupakan Harga Terendah
Untuk meningkatkan penjualan, banyak pebisnis menerapkan berbagai strategi, salah satunya dengan menaikkan harga produk beberapa persen.
Sebagai contoh, sebuah kemeja premium yang biasa dijual dengan harga Rp150.000, saat liburan akhir tahun bisa dijual seharga Rp200.000, lalu dicoret dan kembali dijual dengan harga normal.
Mitos yang beredar adalah bahwa toko tersebut memberikan diskon yang besar, padahal harga yang ditawarkan sebenarnya sudah ditentukan sebelumnya.
Itu merupakan salah satu taktik pemasaran yang sering digunakan. Meski begitu, penting untuk tetap berhati-hati dalam pengelolaan keuangan.
Pasalnya, ada kemungkinan seseorang tergoda untuk melakukan pembelian berdasarkan "diskon" yang tidak benar-benar diperlukan, atau dikenal dengan istilah emotional spending.
10. Uang Cash (Tunai) Selalu Lebih Aman dan Lebih Baik
Memang benar bahwa memiliki uang cash memungkinkan pengelolaan keuangan yang lebih sederhana, tanpa adanya biaya administrasi tambahan.
Namun, menyimpan uang tunai juga memiliki banyak kelemahan, terutama jika terjadi kehilangan.
Uang cash sangat sulit untuk dilacak atau dipertahankan, dan siapa pun dapat dengan mudah menghabiskannya tanpa kendali.
Berbeda halnya dengan kartu debit atau kredit. Ketika kehilangan kartu, seseorang dapat segera memblokirnya dengan mudah, baik melalui bank secara langsung maupun online.
Selain itu, penggunaan uang elektronik dan kartu juga menawarkan berbagai keuntungan, seperti promo atau diskon untuk pembelian produk, yang tentunya lebih hemat dan praktis.
Demikianlah 10 mitos tentang keuangan yang banyak beredar dan bahkan masih dipercayai hingga saat ini.
Karena itu, penting untuk selalu mencari informasi yang akurat sebelum mengambil keputusan terkait masalah keuangan agar tidak terjebak dalam pemahaman yang keliru.