BI Rate Naik 5,50 Persen, Saham Perbankan Langsung Melesat

Kamis, 11 Juni 2026 | 11:41:22 WIB
Ilustrasi IHSG (FOTO: NET)

JAKARTA - Saham-saham perbankan melesat setelah Bank Indonesia (BI) mengumumkan kembali menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen pada Selasa (9/6/2026).

Namun, penguatan tersebut dinilai belum cukup untuk menandakan berakhirnya tekanan terhadap sektor perbankan.

Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama mengatakan, kenaikan saham perbankan mencerminkan respons positif pasar terhadap langkah BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan meredam tekanan arus modal keluar (capital outflow).

"Namun menurut saya masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa tekanan pada saham perbankan sudah benar-benar selesai," kata Elandry kepada Kompas.com, Rabu (10/6/2026).

Berdasarkan data RTI Business pada penutupan perdagangan Rabu kemarin, saham bank-bank besar kompak menguat.

Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) melonjak 9,71 persen ke level 5.650.

Sementara itu, saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) naik 5,50 persen ke posisi 3.450.

Penguatan juga terjadi pada saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) yang naik 4,16 persen ke level 4.260 dan saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) yang menguat 3,23 persen ke posisi 2.880.

Meski demikian, Elandry menilai pasar masih menghadapi sejumlah agenda penting yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan saham perbankan dalam waktu dekat.

Menurut dia, perhatian investor kini tertuju pada hasil rapat Komite Pasar Terbuka Federal Reserve (FOMC) Amerika Serikat pada 16-17 Juni mendatang yang akan menentukan arah ekspektasi suku bunga global dan pergerakan dana asing.

Selain itu, pasar juga akan menghadapi periode rebalancing indeks global MSCI pada akhir Juni yang kerap memicu perpindahan dana asing secara teknikal, baik masuk maupun keluar dari pasar domestik sehingga berpotensi menambah volatilitas pasar.

"Jadi pandangan saya belum banyak berubah. Penguatan saat ini lebih mencerminkan perbaikan market sentiment dan relief rally setelah koreksi yang cukup dalam," ucapnya.

Menurut Elandry, peluang penguatan lanjutan masih terbuka apabila rupiah tetap stabil, aliran dana asing kembali masuk ke pasar saham Indonesia, dan hasil pertemuan The Fed tidak memberikan sinyal kebijakan yang terlalu agresif (hawkish).

"Jika rupiah terus stabil, foreign flow mulai kembali masuk, dan hasil FOMC tidak terlalu hawkish, maka peluang rebound berlanjut akan semakin besar," ujarnya.

Meski begitu, dalam beberapa pekan ke depan ia masih memperkirakan saham-saham perbankan bergerak dalam pola sideways dengan volatilitas yang relatif tinggi.

Sebelumnya, Elandry juga mengingatkan, tekanan terhadap saham perbankan masih berpotensi berlanjut selama investor asing masih melakukan aksi jual bersih (net sell), rupiah bergerak volatil, dan sentimen pasar terhadap kondisi fiskal domestik belum membaik.

Menurutnya, pelemahan yang terjadi beberapa waktu terakhir lebih banyak dipicu faktor sentimen pasar dan arus modal dibandingkan penurunan fundamental kinerja perbankan.

"Jadi ketika sentimen mulai stabil positif dan dana asing kembali masuk, biasanya saham-saham bank juga jadi salah satu sektor yang paling cepat pulih," tuturnya.

Sebagai informasi, BI menaikkan suku bunga acuan (BI rate) sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen di luar RDG Bulanan BI.

Dengan demikian, suku bunga deposit facility naik 25 basis poin menjadi 4,50 persen dan suku bunga lending facility juga naik 25 basis poin menjadi 6,25 persen.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, kenaikan BI rate dilakukan demi stabilisasi nilai tukar rupiah yang tengah melemah akibat tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah.

"RDG Mingguan Bank Indonesia pada hari ini, tanggal 9 Juni 2026 memutuskan untuk kembali menaikkan BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 5,50," ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (9/6/2026).

Terkini