Arah Baru Kemandirian Pangan Lewat Sektor Perikanan

Senin, 25 Mei 2026 | 14:52:16 WIB
Area Budi Daya Udang Berbasis Kawasan (BUBK) di pesisir Desa Tegalretno, Kecamatan Petanahan, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah

JAKARTA - Sebuah replika industrialisasi perikanan nasional kini berdiri di atas lahan seluas 100 hektare di wilayah pesisir Desa Tegalretno, Kecamatan Petanahan, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, melalui proyek Budi Daya Udang Berbasis Kawasan (BUBK) Kebumen.

Kawasan ini bukan sekadar hamparan kolam pemeliharaan biasa, melainkan sebuah cetak biru dari ambisi besar pemerintah untuk merombak total wajah budi daya perikanan nasional, yang semula bercorak konvensional menjadi ekosistem industri modern yang terukur, presisi, serta berbasis teknologi tinggi.

Ketika diresmikan oleh pemerintah pada Maret 2023, wilayah ini dirancang secara khusus untuk memutus rantai kegagalan panen yang kerap menghantui para petambak tradisional akibat penurunan kualitas lingkungan dan pencemaran air.

Dari seluruh lahan potensial yang tersedia di pesisir Kebumen, area seluas 65 hektare kini telah menjelma menjadi jaringan infrastruktur hidrologi yang rumit namun sangat sistematis.

Pengelolaan sirkulasi air dikendalikan secara ketat melalui satu unit intake air laut yang menyalurkan air menuju tandon utama seluas 3 hektare, untuk kemudian dialirkan secara berkala ke 50 unit tandon klaster sebelum akhirnya masuk ke 139 kolam produksi utama.

Seluruh sisa air pembuangan dari proses budi daya diwajibkan melewati 17 unit instalasi pengolahan air limbah (IPAL) klaster, serta satu IPAL utama seluas 2 hektare sebelum dialirkan kembali ke laut lepas.

Keberadaan sistem pengelolaan limbah cair yang terpadu ini berfungsi untuk memastikan bahwa air yang kembali ke laut dalam kondisi bersih serta bebas dari sisa amonia pakan, sehingga tidak mencemari ekosistem pesisir selatan Jawa.

Standardisasi infrastruktur penunjang seperti laboratorium pemantauan penyakit, bangsal pakan yang bersih, gudang logistik, hingga bangsal khusus pascapanen dibangun saling berdekatan demi memangkas waktu operasional di lapangan.

Hasil dari investasi infrastruktur yang ketat serta disiplin tata kelola hayati ini mulai terlihat ketika kawasan ini memasuki tahun keempat masa operasionalnya.

Melalui metode jaring penangkap, panen raya udang vannamei siklus kedelapan berhasil menorehkan angka produktivitas yang tinggi, yaitu mencapai rata-rata 40 ton udang per hektare.

Momen inilah yang kemudian menjadi simbol bagi Presiden RI Prabowo Subianto untuk menghadiri panen raya.

Bahkan, ikut menarik jaring berisi ratusan udang dalam sekali jala.

Secara akumulatif, total volume produksi yang dihasilkan dari 139 petak kolam komersial yang beroperasi secara optimal tersebut kini telah menyentuh angka 1,15 kilo ton.

Catatan performa produksi ini memberikan kontribusi finansial secara langsung terhadap kas negara melalui Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp83,34 miliar.

Angka-angka pencapaian dari pesisir selatan Kebumen tersebut tidak berdiri sendiri sebagai kesuksesan sektoral, melainkan menjadi landasan kalkulasi bagi arah kebijakan ekonomi makro nasional yang lebih luas.

Dengan tingkat harga pasar yang stabil di angka Rp70.000 per kilogram atau setara Rp70 juta per ton, satu siklus produksi penuh di BUBK Kebumen mampu menggerakkan nilai ekonomi sebesar Rp67,2 miliar, dengan potensi total pendapatan tahunan mencapai Rp134,4 miliar.

Pada skala ekonomi mikro daerah, aktivitas industri perikanan ini juga menjadi katup penyelamat ketenagakerjaan dengan menyerap 145 pekerja tetap serta 500 tenaga harian lepas yang seluruhnya merupakan warga setempat.

Keberhasilan formula ekonomi mikro di Kebumen ini memicu pergeseran substansial dalam orientasi kebijakan tata kelola anggaran belanja negara.

Pemerintah mengambil keputusan strategis dengan menunda sejumlah "proyek pembangunan gedung perkantoran baru", yang dinilai memiliki kontribusi minim terhadap produktivitas riil nasional.

Fokus pembiayaan negara kini dialihkan untuk mendanai proyek-proyek produktif di sektor pangan yang mampu menghasilkan sumber protein bagi masyarakat luas sekaligus berorientasi ekspor.

Dalam kalkulasi pemerintah, indikator utama keberhasilan pembangunan ekonomi diletakkan pada kemampuan menciptakan lapangan kerja baru dan menaikkan pendapatan masyarakat bawah, bukan pada kemegahan fisik birokrasi pemerintahan.

Pilihan pemerintah untuk memprioritaskan komoditas udang didorong oleh posisinya yang strategis sebagai penopang utama perolehan devisa di sektor kelautan.

Berdasarkan data resmi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), total nilai ekspor produk perikanan Indonesia tumbuh 5,2 persen dengan capaian 6,27 miliar dolar AS.

Dari jumlah tersebut, komoditas udang menyumbang porsi terbesar senilai 1,87 miIiar dolar AS atau setara 29,8 persen dari total nilai ekspor nasional.

Angka ekspor udang ini berada jauh di atas komoditas unggulan lainnya seperti kelompok ikan tuna-cakalang-tongkol yang mencatatkan nilai ekspor 1,04 miliar dolar AS, serta kelompok cumi-sotong-gurita yang menyumbang sebesar 889,73 juta dolar AS ke dalam kas negara.

Terkini