Optimisme Menkeu Purbaya Bawa Ekonomi Indonesia Menuju Fase Ekspansi 2033

Sabtu, 14 Februari 2026 | 10:39:56 WIB
Optimisme Menkeu Purbaya Bawa Ekonomi Indonesia Menuju Fase Ekspansi 2033

JAKARTA - Masa depan ekonomi Indonesia kini berada di titik persimpangan yang krusial, di mana pilihan kebijakan hari ini akan menentukan apakah bangsa ini akan melangkah menuju kejayaan atau justru terjebak dalam ketidakpastian. Berbicara dalam forum Indonesia Economic Outlook (IEO) di Wisma Danantara pada Jumat, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membagikan visi optimisnya mengenai arah baru perekonomian nasional. Ia meyakini bahwa Indonesia saat ini memiliki momentum emas untuk melepaskan diri dari tren pertumbuhan yang stagnan dan bergerak menuju lonjakan ekspansi jangka panjang.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan perekonomian Indonesia berpeluang memasuki fase ekspansi panjang hingga 2033. Proyeksi ini bukanlah tanpa dasar; ia menilai peluang tersebut terbuka jika kebijakan dijaga konsisten dan momentum pertumbuhan tidak terputus. Strategi keberlanjutan menjadi kunci utama dalam peta jalan ekonomi yang disusun pemerintah guna memastikan visi Indonesia Emas 2045 tetap berada pada jalurnya. “Jadi kita punya kemungkinan besar, bisa membawa ekonomi Indonesia ke Indonesia emas, bukan Indonesia suram,” ujarnya di hadapan para pelaku ekonomi dan awak media.

Fondasi Pertumbuhan dan Siklus Bisnis yang Menguat

Dalam paparannya, Purbaya menjelaskan bahwa daya tahan ekonomi Indonesia telah teruji melalui dinamika siklus bisnis yang bergerak dalam pola ekspansi dan kontraksi periodik. Menilik performa tahun sebelumnya, Indonesia menunjukkan tren pemulihan yang cukup solid. Sepanjang 2025, ekonomi tumbuh 5,11 persen secara tahunan. Pencapaian ini menjadi menarik karena ada tren akselerasi yang terlihat jelas di penghujung tahun. Pertumbuhan membaik dari 4,87 persen pada awal tahun menjadi 5,39 persen pada kuartal IV.

Purbaya menyebut tren tersebut menjadi fondasi untuk memasuki fase pertumbuhan lebih tinggi. Keberhasilan menutup tahun 2025 dengan angka di atas 5,3 persen memberikan suntikan kepercayaan diri bagi pemerintah untuk memasang target yang lebih ambisius di tahun 2026. Dengan struktur ekonomi yang semakin stabil, fase ekspansi yang diprediksi hingga 2033 bukan lagi sekadar impian, melainkan target terukur yang didorong oleh penguatan sektor-sektor riil.

Indikator Makroekonomi yang Kembali Bergairah

Optimisme Menkeu juga didukung oleh sejumlah indikator makro yang mulai menunjukkan warna hijau di awal tahun 2026. Sejumlah indikator menunjukkan perbaikan yang merata di berbagai lini. Aktivitas manufaktur kembali ekspansif, menandakan bahwa mesin produksi nasional telah kembali menderu. Selain itu, indeks kepercayaan konsumen naik, yang merupakan sinyal bahwa masyarakat kembali merasa aman untuk membelanjakan pendapatannya.

Gairah konsumsi ini terlihat nyata dari data pasar di mana penjualan ritel dan kendaraan berbalik positif setelah sempat mengalami tantangan di masa lalu. Dari sisi eksternal, daya saing komoditas dan produk olahan Indonesia juga tetap tangguh. Surplus perdagangan berlanjut selama 68 bulan berturut-turut. Nilainya mencapai 41 miliar dollar AS pada 2025, naik 31 persen dibanding tahun sebelumnya. Angka surplus ini menjadi bantalan yang kuat bagi cadangan devisa dan stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah gejolak global.

Kebijakan Fiskal Ekspansif yang Terukur

Untuk menjaga agar mesin ekonomi tetap panas, Kementerian Keuangan menerapkan strategi fiskal yang pro-pertumbuhan namun tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian. Kebijakan fiskal dijalankan ekspansif namun tetap terkendali. Pemerintah menyadari bahwa stimulus diperlukan untuk mendorong roda ekonomi, tetapi disiplin anggaran tidak boleh diabaikan. Defisit dijaga sekitar 2,9 persen dari produk domestik bruto dan tetap di bawah batas 3 persen sesuai mandat undang-undang.

Langkah konkret dari kebijakan ekspansif ini terlihat pada percepatan penyerapan anggaran di awal tahun. Belanja negara pada awal 2026 dipercepat sebagai upaya untuk memberikan stimulus instan kepada masyarakat dan pelaku usaha. Hingga kuartal I-2026, realisasi belanja diperkirakan mencapai Rp 809 triliun. Percepatan ini diharapkan dapat mencegah terjadinya kelesuan ekonomi di awal tahun dan memastikan likuiditas tersedia di pasar.

Menjaga Daya Beli dan Likuiditas Sistem Keuangan

Pemerintah mengakselerasi program prioritas, termasuk stimulus dan belanja sosial, untuk menjaga daya beli serta likuiditas sistem keuangan. Menurut Purbaya, perputaran uang di masyarakat adalah kunci agar sektor usaha tetap hidup. Jika daya beli terjaga, maka permintaan terhadap barang dan jasa akan meningkat, yang pada gilirannya mendorong perusahaan untuk melakukan ekspansi dan menyerap tenaga kerja.

“Kita pastikan uang cukup di sistem. Kalau uang cukup, ekonomi bergerak, daya beli membaik, penjualan naik,” ujarnya menegaskan filosofi di balik kebijakan belanja sosial yang masif. Fokus pemerintah adalah memastikan bahwa aliran modal tidak tersumbat, sehingga setiap lapisan masyarakat dapat merasakan dampak dari pertumbuhan ekonomi tersebut. Dengan perpaduan antara manajemen fiskal yang disiplin dan stimulus yang tepat sasaran, Purbaya meyakini bahwa kutukan pertumbuhan di level 5 persen dapat segera dipatahkan demi menuju Indonesia yang lebih sejahtera di tahun 2033 dan seterusnya.

Terkini