JAKARTA - Ibadah haji bukan sekadar perjalanan fisik melintasi benua, melainkan sebuah perjalanan spiritual mendalam yang menuntut kesiapan total dari setiap pelakunya. Di tengah antusiasme masyarakat menyambut musim haji tahun 2026, aspek edukasi melalui manasik menjadi instrumen krusial untuk membekali jemaah agar mampu menjalankan rukun Islam kelima ini dengan sempurna. Kesadaran akan pentingnya kesiapan yang komprehensif menjadi fokus utama dalam setiap pembekalan, mengingat tantangan di tanah suci yang kian dinamis.
Langkah penguatan ini tercermin dalam kegiatan yang digelar di pusat ibadah Kota Bengkulu, di mana para calon jemaah diajak untuk memahami bahwa haji adalah perpaduan antara ketangguhan raga dan ketulusan jiwa. Melalui bimbingan yang tepat, diharapkan setiap jemaah memiliki bekal yang cukup untuk menghadapi berbagai rangkaian ibadah yang menuntut stamina sekaligus ketenangan batin.
Manasik Haji Kecamatan Selebar: Ikhtiar Mewujudkan Haji Mabrur
Sebagai bentuk nyata dari pembinaan jemaah, agenda pembekalan kembali digalakkan di tingkat akar rumput. Kepala Kantor Kementerian Agama (Kakan Kemenag) Kota Bengkulu, Dr. H. Nopian Gustari, S.Pd.I.,M.Pd.I. menjadi narasumber dalam kegiatan Manasik Haji Tingkat Kecamatan Selebar, Kamis. Kehadiran pimpinan otoritas agama tingkat kota ini memberikan semangat baru sekaligus arahan strategis bagi para tamu Allah yang sedang mempersiapkan diri.
Kegiatan yang berlangsung khidmat tersebut dipusatkan di Masjid Merah Putih, sebuah lokasi yang representatif untuk menampung semangat ibadah para peserta. Berdasarkan data panitia, kegiatan Manasik ini diikuti oleh 136 orang Calon Jemaah Haji (CJH). Jumlah ini menunjukkan besarnya tanggung jawab Kemenag dalam memastikan setiap individu mendapatkan literasi manasik yang memadai sebelum benar-benar diterbangkan ke Arab Saudi.
Prioritas Utama: Menata Ruhiyah dan Keikhlasan Niat
Dalam pemaparannya, Dr. Nopian Gustari menggarisbawahi bahwa kesiapan mental atau spiritual merupakan fondasi dari segala aktivitas haji. "Dalam mempersiapkan keberangkatan, CJH perlu mempersiapkan beberapa hal. Yang pertama adalah persiapan Ruhiyah," tegasnya di hadapan ratusan jemaah. Baginya, tanpa persiapan batin yang matang, ibadah haji hanya akan menjadi perjalanan fisik tanpa makna yang mendalam.
Lebih lanjut, ia merinci bahwa persiapan Ruhiyah meliputi meluruskan niat ibadah karena Allah dan menjauhi sifat sombong ketika beribadah. Peringatan mengenai penyakit hati ini menjadi penting, mengingat godaan akan rasa bangga diri sering muncul dalam perjalanan ibadah yang mulia. Beliau menegaskan bahwa kejernihan hati dalam berniat merupakan kunci diterimanya ibadah tersebut di sisi Sang Pencipta.
Niat Sebagai Ruh Utama dalam Pelaksanaan Ibadah
Niat tidak hanya sekadar ucapan di bibir, melainkan komitmen batin yang menjadi penggerak seluruh rangkaian manasik hingga pelaksanaan haji yang sesungguhnya. Kakan Kemenag Kota Bengkulu memberikan penekanan khusus pada poin ini sebagai landasan dasar. "Niat merupakan Ruh nya ibadah, sehingga meluruskan niat harus menjadi faktor utama yang harus diperhatikan ketika melaksanakan ibadah haji," terangnya.
Pesan ini menjadi pengingat bagi seluruh 136 calon jemaah haji Kecamatan Selebar agar terus melakukan evaluasi diri selama masa tunggu hingga keberangkatan nanti. Dengan menata niat sejak dini, jemaah diharapkan dapat menjaga konsistensi dalam beribadah, sabar menghadapi kendala di lapangan, serta tetap rendah hati di hadapan sesama jemaah. Persiapan yang matang secara Ruhiyah dan Jasmaniah diyakini akan menjadi modal utama bagi para calon jemaah untuk meraih predikat haji yang mabrur dan mabrurah.