JAKARTA - Upaya memperkuat fondasi industri baja nasional kembali menunjukkan langkah konkret.
Di tengah masih kuatnya dominasi baja impor di pasar domestik, pemerintah melalui badan pengelola investasi mulai mengarahkan fokus pada pengembangan kapasitas produksi dari sisi hulu.
Strategi ini dinilai krusial untuk memperkuat kemandirian industri sekaligus menjaga keberlanjutan sektor manufaktur dalam negeri.
Dalam kerangka tersebut, Badan Pengelola Investasi Danantara Indonesia menyiapkan proyek besar berupa pembangunan pabrik baja terpadu dengan kapasitas produksi mencapai 3 juta ton per tahun.
Proyek ini menjadi salah satu agenda prioritas Danantara dalam mendorong penguatan industri strategis nasional, khususnya sektor baja yang memiliki peran vital bagi pembangunan infrastruktur dan industri turunan lainnya.
Proyek Baja Terpadu Jadi Prioritas Strategis
Chief Operating Officer Danantara Indonesia yang juga menjabat sebagai Kepala BP BUMN, Dony Oskaria, menyampaikan bahwa peletakan batu pertama atau groundbreaking proyek pabrik baja terpadu tersebut dijadwalkan berlangsung pada Maret 2026.
Menurutnya, pengembangan kapasitas di sektor hulu merupakan langkah penting untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap produk baja impor.
“Pengembangan kapasitas pabrik baja di sisi upstream akan segera kami lakukan, yang ditandai dengan groundbreaking pada bulan depan dengan kapasitas produksi sekitar 3 juta ton per tahun,” ujar Dony Oskaria.
Ia menegaskan bahwa selama ini pasar baja nasional masih didominasi oleh produk impor, sehingga kehadiran pabrik baja terpadu dengan kapasitas besar diharapkan mampu memperbaiki struktur industri baja nasional.
Selain meningkatkan pasokan dalam negeri, proyek ini juga ditujukan untuk memperkuat daya saing industri baja Indonesia di tingkat regional.
Sinergi Dengan Krakatau Steel Dan Mitra Global
Sebelumnya, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. diketahui telah menjajaki kerja sama strategis dengan Delong Steel Group, perusahaan baja asal China yang menempati peringkat ke-11 produsen baja dunia.
Rencana kerja sama tersebut mencakup pembangunan pabrik baja berkapasitas 3 juta ton per tahun yang akan berdiri di atas lahan seluas 500 hektare di Kawasan Industri Cilegon, Banten.
Kolaborasi ini tidak hanya berorientasi pada peningkatan volume produksi, tetapi juga diarahkan untuk membawa nilai tambah melalui alih teknologi.
Delong Steel Group disebut memiliki pengalaman dalam pengembangan konsep green steel yang dinilai sejalan dengan arah transformasi industri baja global yang semakin menekankan aspek keberlanjutan.
Direktur Utama Krakatau Steel Akbar Djohan sebelumnya menyatakan bahwa penyediaan lahan melalui PT Krakatau Sarana Infrastruktur merupakan bagian dari strategi optimalisasi aset perseroan. Langkah ini sekaligus ditujukan untuk menjadikan Cilegon sebagai barometer industri baja di kawasan Asia Tenggara.
“Kolaborasi dengan Delong Steel tidak hanya akan mengoptimalkan aset lahan yang kami miliki, tetapi juga membawa transfer teknologi dan pengetahuan yang sangat berharga,” ujar Akbar pada pertengahan tahun lalu.
Cilegon Diproyeksikan Jadi Hub Industri Baja
Manajemen Delong Steel Group menilai kawasan Cilegon memiliki keunggulan strategis untuk dikembangkan sebagai pusat industri baja baru. Infrastruktur yang relatif lengkap, kedekatan dengan pelabuhan, serta ekosistem industri yang telah terbentuk menjadi faktor utama yang mendukung pengembangan pabrik baja berskala besar di wilayah tersebut.
“Delong Steel tengah melakukan kajian mendalam dan melihat Cilegon, khususnya kawasan industri yang dikelola Krakatau Steel, sebagai lokasi yang sangat strategis dan telah memiliki fasilitas yang mapan,” kata manajemen Delong Steel Group.
Dengan dukungan lahan yang luas dan infrastruktur industri yang tersedia, kawasan ini dinilai mampu mendukung pengembangan industri baja terpadu dari hulu hingga hilir. Kehadiran pabrik baja berkapasitas besar juga diharapkan dapat mendorong tumbuhnya industri pendukung dan menciptakan efek berganda bagi perekonomian daerah.
Penguatan Industri Hulu Untuk Tekan Impor
Bagi Danantara, proyek pabrik baja terpadu ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat struktur industri nasional. Pengembangan kapasitas di sektor hulu dipandang sebagai langkah fundamental untuk menciptakan industri baja yang mandiri, efisien, dan berdaya saing.
Dominasi baja impor selama ini tidak hanya berdampak pada neraca perdagangan, tetapi juga menekan ruang tumbuh industri baja dalam negeri. Dengan tambahan kapasitas produksi sebesar 3 juta ton per tahun, Indonesia diharapkan mampu memenuhi kebutuhan domestik secara lebih optimal, sekaligus mengurangi ketergantungan pada pasokan dari luar negeri.
Selain itu, proyek ini juga berpotensi membuka lapangan kerja baru, meningkatkan utilisasi kawasan industri, serta mendorong transfer teknologi melalui kolaborasi dengan mitra global.
Dalam jangka panjang, penguatan industri baja nasional diharapkan dapat menopang pembangunan infrastruktur dan industri manufaktur yang berkelanjutan.
Melalui sinergi antara Danantara, BUMN baja, dan mitra internasional, proyek pabrik baja terpadu ini diposisikan sebagai salah satu tonggak penting dalam transformasi industri strategis nasional.
Groundbreaking yang dijadwalkan pada Maret 2026 menjadi penanda dimulainya fase baru pengembangan industri baja Indonesia yang lebih mandiri dan kompetitif.