Harga Minyak Dunia Naik Satu Persen Dipicu Ketegangan Amerika Serikat Iran

Rabu, 04 Februari 2026 | 13:10:09 WIB
Harga Minyak Dunia Naik Satu Persen Dipicu Ketegangan Amerika Serikat Iran

JAKARTA - Kenaikan harga minyak dunia kembali menjadi perhatian pelaku pasar global. 

Pada perdagangan Rabu, harga minyak mencatat penguatan sekitar satu persen seiring meningkatnya kekhawatiran geopolitik di kawasan Timur Tengah. Situasi tersebut dipicu oleh ketegangan terbaru antara Amerika Serikat dan Iran yang berpotensi mengganggu stabilitas pasokan energi dunia.

Pasar minyak merespons cepat setiap perkembangan di wilayah strategis tersebut. Timur Tengah selama ini dikenal sebagai pusat produksi dan jalur distribusi minyak mentah global. Ketika risiko keamanan meningkat, harga minyak cenderung bergerak naik karena kekhawatiran terganggunya pasokan ke pasar internasional.

Ketegangan Geopolitik Dorong Sentimen Pasar

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah adanya laporan insiden militer di Laut Arab. Militer AS dilaporkan menembak jatuh sebuah drone Iran yang disebut bergerak agresif mendekati kapal induk USS Abraham Lincoln. Insiden ini memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan tersebut.

Situasi geopolitik yang tidak menentu membuat investor mengambil langkah antisipatif. Risiko konflik bersenjata dinilai dapat mengganggu jalur pelayaran minyak, terutama yang melewati kawasan strategis. Kondisi ini mendorong pelaku pasar untuk mengerek harga minyak sebagai bentuk perlindungan terhadap potensi gangguan pasokan.

Pergerakan Harga Brent Dan WTI Menguat

Mengutip laporan Reuters, harga minyak mentah Brent tercatat naik 65 sen atau sekitar satu persen. Dengan kenaikan tersebut, Brent diperdagangkan di level US$67,98 per barel. Penguatan ini melanjutkan tren positif yang sudah terjadi pada perdagangan sebelumnya.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate AS juga mengalami kenaikan signifikan. Harga WTI menguat 69 sen atau sekitar 1,1 persen menjadi US$63,90 per barel. Kedua acuan utama minyak dunia tersebut tercatat telah naik hampir dua persen pada perdagangan Selasa sebelumnya.

Selat Hormuz Jadi Sorotan Utama

Kawasan Selat Hormuz kembali menjadi perhatian utama pasar. Sejumlah kapal bersenjata Iran dilaporkan mendekati kapal tanker berbendera Amerika Serikat di wilayah tersebut. Informasi ini disampaikan oleh sumber maritim serta konsultan keamanan yang memantau aktivitas pelayaran di kawasan itu.

Selat Hormuz merupakan jalur vital ekspor minyak dunia. Jalur ini menghubungkan Teluk Persia dan Teluk Oman, serta menjadi lintasan utama pengiriman minyak dari negara-negara OPEC menuju pasar global, terutama Asia. Setiap gangguan di wilayah ini berpotensi memicu lonjakan harga minyak secara signifikan.

Diplomasi Dan Produksi OPEC Ikut Mempengaruhi

Di sisi diplomatik, Iran dilaporkan mengajukan tuntutan agar perundingan dengan Amerika Serikat digelar di Oman, bukan Turki. Selain itu, Iran juga membatasi agenda pembahasan hanya pada isu nuklir. Permintaan tersebut memunculkan keraguan mengenai kelanjutan dan efektivitas pertemuan tersebut.

Data Badan Informasi Energi AS menunjukkan Iran menjadi produsen minyak mentah terbesar ketiga di dalam OPEC pada 2025. Dengan posisi tersebut, setiap kebijakan atau konflik yang melibatkan Iran memiliki dampak langsung terhadap keseimbangan pasokan minyak global dan pergerakan harga di pasar internasional.

Penurunan Stok Minyak AS Perkuat Harga

Selain faktor geopolitik, harga minyak juga mendapat dorongan dari data industri Amerika Serikat. Berdasarkan laporan American Petroleum Institute, persediaan minyak mentah AS dilaporkan turun lebih dari 11 juta barel pada pekan lalu. Penurunan tajam ini memberikan sentimen positif bagi pasar.

Pelaku pasar sebelumnya memperkirakan adanya kenaikan persediaan minyak. Oleh karena itu, data penurunan stok tersebut menjadi kejutan yang mendorong harga minyak bergerak naik. Data resmi dari Badan Informasi Energi AS dijadwalkan rilis pada Rabu waktu setempat dan dinantikan oleh investor.

Faktor Global Tambah Dinamika Pasar

Sentimen positif juga datang dari kesepakatan perdagangan antara Amerika Serikat dan India. Kesepakatan ini dinilai dapat meningkatkan aktivitas ekonomi dan mendorong permintaan energi global. Peningkatan permintaan tersebut berpotensi menopang harga minyak dalam jangka menengah.

Di sisi lain, konflik Rusia dan Ukraina yang masih berlangsung terus menambah ketidakpastian pasar energi. Kekhawatiran terhadap keberlanjutan sanksi terhadap minyak Rusia membuat pasokan global tetap berada dalam tekanan. Kondisi ini memperkuat tren harga minyak yang cenderung bergerak naik.

Analis komoditas Rakuten Securities, Satoru Yoshida, menilai ketegangan yang meningkat di Timur Tengah memberikan dukungan kuat bagi pasar minyak. Ia memperkirakan harga minyak WTI akan bergerak di kisaran US$65 per barel dalam waktu dekat, seiring kombinasi faktor geopolitik dan fundamental yang masih mendukung kenaikan harga.

Terkini