Alfamart Fokus Perluas Jaringan Gerai ke Berbagai Wilayah Non-Jabodetabek

Jumat, 30 Januari 2026 | 15:02:57 WIB
Alfamart Fokus Perluas Jaringan Gerai ke Berbagai Wilayah Non-Jabodetabek

JAKARTA - Alfamart menyiapkan strategi ekspansi baru pada 2026 dengan menargetkan penambahan 800 gerai di seluruh Indonesia. 

Target ini lebih konservatif dibandingkan realisasi tahun sebelumnya yang mencapai 1.080 gerai. Fokus ekspansi kini bergeser dari Jabodetabek ke wilayah tengah dan timur Indonesia.

Perusahaan berencana menyesuaikan ekspansi dengan kebutuhan pasar lokal. Wilayah yang belum banyak dijangkau akan menjadi prioritas pertumbuhan. Hal ini dilakukan untuk memastikan setiap gerai baru memberikan kontribusi optimal bagi pendapatan.

Selain itu, Alfamart juga akan mengembangkan gerai Lawson yang diakuisisi dari perusahaan lain. Ekspansi Lawson dilakukan dengan selektif agar keuntungan setiap gerai dapat terukur. Perusahaan berkomitmen mempertahankan gerai yang sudah ada sambil mengevaluasi peluang baru secara hati-hati.

Strategi Ekspansi dan Seleksi Lokasi

Dalam rencana ekspansi, lokasi menjadi faktor kunci bagi Alfamart. Setiap gerai dipilih berdasarkan potensi keuntungan dan kebutuhan pasar. Keputusan ini penting untuk menjaga kinerja keuangan perusahaan tetap stabil.

Direktur Alfamart menegaskan pendekatan selektif akan terus diterapkan. Gerai baru hanya dibuka jika memenuhi kriteria profitabilitas tertentu. Hal ini mencerminkan fokus perusahaan pada kualitas pertumbuhan, bukan sekadar kuantitas gerai.

Pendekatan ini juga mengantisipasi risiko penutupan gerai yang tidak produktif. Perusahaan ingin memastikan bahwa ekspansi membawa nilai tambah bagi bisnis secara keseluruhan. Strategi ini menjadi kunci keberlanjutan operasional Alfamart.

Kinerja Keuangan dan Prospek Pendapatan

Alfamart menargetkan pertumbuhan pendapatan yang realistis pada 2026. Target ini berada di bawah dua digit karena tren downtrading konsumen. Perusahaan menyesuaikan ekspektasi dengan kondisi pasar saat ini.

Pendapatan neto Alfamart pada kuartal III/2025 naik 7,09% dibanding tahun sebelumnya. Kenaikan terjadi di seluruh wilayah, termasuk Jabodetabek, Jawa non-Jabodetabek, dan luar Jawa. Pertumbuhan ini menunjukkan bisnis tetap kuat meski ekspansi diperlambat.

Segmen makanan memberikan kontribusi terbesar terhadap pendapatan. Pendapatan dari makanan naik 7,15%, sementara nonmakanan naik 6,96%. Kinerja ini menjadi dasar bagi perusahaan untuk melanjutkan strategi pengembangan gerai secara bertahap.

Tantangan Operasional dan Efisiensi Beban

Alfamart menghadapi tekanan pada pos beban operasional tahun ini. Beban penjualan dan distribusi meningkat dari Rp15,04 triliun menjadi Rp16,55 triliun. Beban umum dan administrasi juga naik menjadi Rp1,7 triliun.

Kenaikan beban ini berdampak pada laba usaha yang turun dari Rp3,1 triliun menjadi Rp2,95 triliun. Perusahaan tetap fokus pada efisiensi operasional untuk menjaga profitabilitas. Strategi selektif dalam membuka gerai baru juga menjadi bagian dari upaya pengendalian biaya.

Meski laba menurun, pertumbuhan pendapatan tetap positif. Hal ini menunjukkan kemampuan Alfamart menyesuaikan diri dengan dinamika pasar. Perusahaan terus berinovasi dalam operasional untuk menjaga kinerja keuangan.

Rencana Masa Depan dan Fokus Pertumbuhan

Alfamart berkomitmen menambah gerai secara terukur pada 2026. Wilayah tengah dan timur Indonesia menjadi prioritas utama. Setiap gerai baru akan dievaluasi secara seksama sebelum dibuka.

Perusahaan juga menyesuaikan produk yang dijajakan dengan kebutuhan konsumen lokal. Penambahan variasi produk diharapkan dapat meningkatkan penjualan dan memperkuat loyalitas pelanggan. Strategi ini sejalan dengan upaya menahan tren downtrading konsumen.

Dengan pendekatan selektif dan fokus pada kualitas ekspansi, Alfamart optimis menghadapi tantangan pasar. Strategi ini sekaligus memastikan pertumbuhan berkelanjutan dalam jangka panjang. Perusahaan tetap menjaga posisi kuat sebagai salah satu peritel terkemuka di Indonesia.

Terkini