Pemerintah Percepat Revitalisasi Industri Tekstil Demi Hadapi Persaingan Global

Jumat, 30 Januari 2026 | 10:28:16 WIB
Pemerintah Percepat Revitalisasi Industri Tekstil Demi Hadapi Persaingan Global

JAKARTA - Industri tekstil dan produk tekstil nasional kembali mendapat perhatian serius pemerintah. 

Sektor ini dinilai masih memiliki prospek besar di tengah dinamika pasar global. Langkah strategis pun disiapkan untuk mengembalikan daya saing industri tekstil Indonesia.

Pemerintah memandang industri tekstil sebagai sektor padat karya yang strategis. Selain berorientasi ekspor, sektor ini berkontribusi besar terhadap penyerapan tenaga kerja. Dengan pengelolaan yang tepat, industri tekstil diyakini mampu kembali tumbuh berkelanjutan.

Potensi pasar global menjadi dasar penguatan kebijakan. Pertumbuhan jumlah penduduk dunia membuka peluang permintaan produk tekstil yang terus meningkat. Indonesia diproyeksikan dapat mengambil peran lebih besar dalam rantai pasok global.

Potensi Global Industri Tekstil Nasional

Pemerintah melihat industri tekstil Indonesia memiliki modal kuat untuk bersaing. Integrasi industri dari hulu hingga hilir menjadi kunci pengembangan ke depan. Dengan penguatan tersebut, posisi Indonesia di pasar global dapat ditingkatkan.

Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Haryo Limanseto, menilai potensi tersebut sangat terbuka. Ia menyebut jumlah penduduk dunia yang terus bertambah menjadi peluang besar. Indonesia dinilai mampu menjadi pemain utama tekstil dunia.

Selain potensi pasar, industri tekstil juga memiliki dampak sosial yang luas. Penyerapan tenaga kerja dalam jumlah besar menjadi nilai tambah utama sektor ini. Oleh karena itu, penguatan industri tekstil dinilai strategis bagi perekonomian nasional.

Dorongan Revitalisasi dan Teknologi

Pengembangan industri tekstil perlu dibarengi peningkatan teknologi. Modernisasi peralatan produksi menjadi langkah penting untuk meningkatkan efisiensi. Pemerintah menilai investasi menjadi faktor krusial dalam proses revitalisasi.

Peningkatan keterampilan sumber daya manusia juga menjadi fokus utama. Industri tekstil membutuhkan tenaga kerja dengan kemampuan yang sesuai perkembangan teknologi. Upaya ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas dan kualitas produk.

Revitalisasi industri tidak hanya menyasar mesin dan peralatan. Proses produksi yang lebih efisien juga menjadi sasaran kebijakan. Dengan langkah tersebut, daya saing industri tekstil dapat kembali diperkuat.

Insentif Pemerintah untuk Industri Padat Karya

Pemerintah telah menyiapkan berbagai program untuk mendukung pemulihan industri tekstil. Salah satunya adalah insentif Pajak Penghasilan Pasal 21 Ditanggung Pemerintah. Kebijakan ini menyasar pekerja industri padat karya.

Insentif tersebut mencakup sektor tekstil dan pakaian jadi. Selain itu, alas kaki, kulit, produk kulit, serta furnitur juga termasuk di dalamnya. Kebijakan ini telah berjalan sejak 2025 dan dilanjutkan pada tahun ini.

Langkah ini diharapkan dapat meringankan beban pelaku usaha. Dengan dukungan fiskal, perusahaan memiliki ruang lebih besar untuk bertahan. Insentif ini juga bertujuan menjaga daya beli pekerja industri.

Akses Pembiayaan dan Keringanan Iuran

Selain insentif pajak, pemerintah menyediakan Kredit Investasi Padat Karya. Program ini memberikan akses pembiayaan bagi pelaku usaha industri tertentu. Plafon kredit yang disediakan mencapai Rp500 juta hingga Rp10 miliar.

Skema KIPK difokuskan pada modernisasi peralatan dan mesin. Pemerintah memberikan subsidi bunga atau margin sebesar 5 persen per tahun. Dukungan ini diharapkan mempercepat proses pembaruan teknologi.

Pemerintah juga memberikan keringanan iuran Jaminan Kecelakaan Kerja. Beban iuran bagi perusahaan industri padat karya dikurangi hingga 50 persen. Kebijakan ini ditujukan untuk menjaga keberlangsungan usaha.

Tantangan Eksternal dan Domestik Industri Tekstil

Perlambatan industri tekstil tidak disebabkan satu faktor tunggal. Persaingan global menjadi tantangan utama dari sisi eksternal. Negara produsen baru menawarkan struktur biaya yang lebih kompetitif.

Bangladesh, Vietnam, dan Kamboja menjadi pesaing utama Indonesia. Negara-negara tersebut memiliki efisiensi produksi yang tinggi. Upah tenaga kerja yang relatif murah memperkuat posisi tawar mereka.

Di dalam negeri, industri tekstil menghadapi tekanan biaya produksi. Kenaikan upah, mahalnya energi, dan logistik menjadi beban berkelanjutan. Ketergantungan bahan baku impor juga mempersempit ruang ekspansi industri.

Terkini