Hutama Karya Rampungkan Huntara Tahap 2 Guna Percepat Pemulihan Aceh Timur

Kamis, 29 Januari 2026 | 13:47:03 WIB
Hutama Karya Rampungkan Huntara Tahap 2 Guna Percepat Pemulihan Aceh Timur

JAKARTA - Pemulihan pascabencana bukan sekadar tentang membangun kembali fisik bangunan, melainkan tentang mengembalikan martabat dan harapan bagi masyarakat yang terdampak. Dalam semangat tersebut, PT Hutama Karya (Persero) menunjukkan komitmen nyatanya melalui penyelesaian pembangunan Hunian Sementara (Huntara) Simpang Ulim tahap kedua. Peresmian proyek kemanusiaan ini dilakukan pada Jumat, menandai babak baru bagi warga Kabupaten Aceh Timur yang sempat kehilangan tempat tinggal akibat terjangan banjir besar.

Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky, memimpin langsung prosesi peresmian yang diwarnai dengan penyerahan kunci hunian secara simbolis kepada warga. Kehadiran Huntara ini menjadi jawaban krusial atas kondisi rentan yang dihadapi masyarakat selama berada di pengungsian. Acara tersebut turut disaksikan oleh Camat Simpang Ulim Muhammad Yusuf, Geuchik Desa Arakundo Safri M. Jamil, Area Manager Bank Syariah Indonesia Totok Sudiarto, serta perwakilan dari manajemen Hutama Karya, M. Fikrie Bahrul H.

Distribusi Unit dan Fasilitas Penunjang Kehidupan Layak

Fokus pembangunan tahap kedua ini mencakup dua wilayah strategis yang terdampak paling parah. Hutama Karya berhasil mendirikan total 45 unit hunian yang tersebar di dua lokasi utama guna memastikan distribusi bantuan yang merata. Pembangunan Huntara terdiri dari 35 unit di Desa Arakundo, Kecamatan Simpang Ulim dan 10 unit di Desa Seumatang, Kecamatan Julok Ulim.

Setiap unit hunian dirancang untuk memenuhi standar kelayakan hidup dasar bagi 45 kepala keluarga. Tidak hanya menyediakan ruang tidur, fasilitas ini juga dilengkapi toilet terpisah, dapur umum, area mencuci, hingga ruang komunal untuk interaksi sosial warga. Bahkan, aspek psikologis anak-anak juga diperhatikan dengan penyediaan area bermain, sehingga proses pemulihan trauma pascabencana dapat berjalan lebih baik di lingkungan yang baru.

Tantangan Logistik dan Pelibatan Tenaga Kerja Lokal

Proses konstruksi di wilayah pascabencana bukanlah perkara mudah. Tim lapangan harus berhadapan dengan kondisi geografis yang ekstrem dan kerusakan infrastruktur sisa banjir. Proses pembangunan menghadapi tantangan akses jalan yang terputus akibat tanggul jebol pada tahap awal. Kendala logistik ini menuntut kreativitas dan ketahanan tinggi dari tim pengembang agar material tetap sampai ke lokasi tepat waktu.

Sebagai bentuk pemberdayaan ekonomi lokal di tengah masa sulit, pelaksanaan melibatkan 172 tenaga kerja termasuk pekerja lokal untuk memastikan standar mutu sesuai kebutuhan lapangan. Dengan melibatkan warga setempat, proyek ini tidak hanya menyediakan hunian, tetapi juga memberikan lapangan kerja sementara bagi masyarakat yang ekonomi keluarganya sempat terhenti akibat bencana.

Respons Positif Warga Atas Transformasi Hunian

Perubahan dari tenda pengungsian ke Huntara membawa dampak signifikan bagi kualitas hidup para korban. Warga kini tidak lagi harus berdesakan di tenda darurat yang minim perlindungan terhadap cuaca. Warga penerima manfaat, Asma dan Fitriani, menyampaikan terima kasih atas respons cepat pemerintah dan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara.

Kenyamanan menjadi aspek yang paling disyukuri oleh para ibu rumah tangga ini. Mereka mengaku kondisi istirahat keluarga jauh lebih baik dibanding sebelumnya di tenda pengungsian yang seadanya. "Kami berterima kasih karena sebelumnya kami harus tidur di tenda pengungsian dengan kondisi seadanya. Saat ini, kami sudah bisa menginap dengan lebih tenang dan nyaman di bangunan yang jauh lebih layak," tutur mereka dengan penuh rasa syukur.

Lokasi Strategis demi Keberlanjutan Aktivitas Ekonomi

Penempatan lokasi Huntara tidak dilakukan secara acak, melainkan melalui studi aksesibilitas yang matang. Pemerintah dan Hutama Karya memastikan bahwa hunian baru ini berada dalam jangkauan fasilitas publik yang vital. Lokasi Huntara dipilih berdasarkan kedekatan dengan fasilitas umum seperti layanan kesehatan, sarana pendidikan, dan pusat aktivitas masyarakat.

Keputusan ini diambil agar masyarakat tidak terisolasi secara sosial maupun ekonomi. Dengan lokasi yang strategis, hal ini memungkinkan warga tetap menjalankan kegiatan sehari-hari dan mempertahankan aktivitas ekonomi di lingkungan sekitar. Hal ini sangat penting agar masyarakat dapat segera mandiri secara finansial tanpa harus menunggu hingga hunian permanen selesai dibangun.

Sinergi BUMN Peduli dan Koordinasi Lintas Sektor

Keberhasilan proyek ini merupakan buah dari kolaborasi harmonis berbagai institusi negara. Program ini merupakan hasil kolaborasi lintas pemangku kepentingan di bawah koordinasi BPI Danantara melalui program BUMN Peduli. Dukungan teknis tidak hanya datang dari sektor konstruksi, tetapi juga energi dan telekomunikasi.

Dalam kerja sama ini, PT PLN menyediakan kelistrikan untuk memastikan setiap unit mendapatkan pencahayaan yang cukup. PT Telkom mendukung konektivitas komunikasi agar koordinasi bantuan tetap berjalan lancar, sementara Pemkab Aceh Timur membantu dari sisi administrasi dan koordinasi wilayah. Sinergi ini membuktikan bahwa penanganan bencana yang terpadu mampu membuahkan hasil yang lebih cepat dan efisien bagi masyarakat.

Imbauan Perawatan dan Validasi Data Berkelanjutan

Dalam sambutannya, Bupati Aceh Timur menekankan bahwa Huntara ini merupakan aset bersama yang harus dijaga selama masa transisi. Ia mengimbau penerima manfaat untuk menjaga dan merawat hunian agar tetap berfungsi optimal selama masa transisi. Perawatan yang baik akan memastikan kenyamanan warga tetap terjaga hingga hunian permanen siap dihuni.

Selain itu, transparansi data tetap menjadi prioritas pemerintah daerah. Bupati mengajak warga terdampak yang belum mendapat hunian untuk segera melakukan validasi data melalui pemerintah desa dan kecamatan setempat. Langkah ini bertujuan agar tidak ada warga yang terlewat dalam proses penyaluran bantuan tahap selanjutnya.

Standar Konstruksi Tinggi Menuju Hunian Permanen

Pihak manajemen Hutama Karya menegaskan bahwa meski bersifat sementara, kualitas konstruksi tetap menjadi prioritas utama. Executive Vice President Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Mardiansyah, menjelaskan keterlibatan perusahaan mencakup pelaksanaan konstruksi hunian beserta fasilitas pendukung sebagai solusi tempat tinggal sementara.

Huntara ini dipandang sebagai jembatan penting menuju solusi permanen. "Pembangunan ini dirancang sebagai tahap transisi menuju hunian permanen, sehingga pemerintah dan para pemangku kepentingan memiliki waktu yang memadai untuk menyiapkan perencanaan lanjutan tanpa mengesampingkan kebutuhan dasar warga selama masa pemulihan," ujarnya dalam keterangan tertulis.

Mardiansyah melanjutkan, sepanjang proses pelaksanaan, Hutama Karya menerapkan standar mutu konstruksi, pengawasan teknis terukur, serta prinsip keselamatan dan kesehatan kerja. Hal ini memastikan hunian dapat digunakan secara aman, nyaman, dan optimal oleh masyarakat selama masa pemulihan. Standar keamanan ini menjadi jaminan bahwa warga dapat memulihkan kehidupan mereka tanpa rasa khawatir akan kekuatan struktur bangunan tempat mereka berteduh.

Terkini