PTPP Kantongi Kontrak Baru Rp24,95 Triliun dan Fokus Diversifikasi Proyek

Kamis, 29 Januari 2026 | 13:46:56 WIB
PTPP Kantongi Kontrak Baru Rp24,95 Triliun dan Fokus Diversifikasi Proyek

JAKARTA - PT PP (Persero) Tbk (PTPP), emiten konstruksi milik negara, menunjukkan resiliensi di tengah fluktuasi pasar infrastruktur nasional sepanjang tahun 2025. Melalui strategi pemenangan proyek yang selektif, perusahaan berhasil mencatatkan nilai kontrak baru yang signifikan, meski terdapat penyesuaian angka dibandingkan tahun sebelumnya. Fokus perseroan kini bergeser pada kualitas pengerjaan dan ketepatan waktu guna menjaga kepercayaan para pemangku kepentingan di berbagai sektor strategis.

Berdasarkan laporan kinerja terbaru, PTPP mengamankan total perolehan kontrak baru senilai Rp24,95 triliun pada 2025. Jumlah ini turun dari tahun sebelumnya yang meraih Rp27,09 triliun. Penurunan ini mencerminkan sikap kehati-hatian manajemen dalam memilih proyek yang memiliki kepastian pendanaan serta profil risiko yang lebih terukur, sejalan dengan upaya penguatan kesehatan finansial perusahaan secara jangka panjang.

Komposisi Pendanaan dan Segmentasi Kontrak Baru PTPP

Keterlibatan pemerintah tetap menjadi tulang punggung utama dalam aliran pendapatan perseroan. Corporate Secretary PTPP, Joko Raharjo, menyampaikan bahwa berdasarkan sumber pendanaan, komposisi perolehan kontrak baru perseroan didominasi oleh proyek pemerintah dengan porsi mencapai 45%. Angka ini disusul oleh penugasan dari sesama Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebesar 35%, sementara porsi sektor swasta tercatat sebesar 20%.

Jika ditinjau dari sisi segmentasi usaha, diversifikasi portofolio PTPP terlihat cukup merata di berbagai lini konstruksi. Kontribusi terbesar berasal dari sektor gedung yang menyumbang 35% terhadap total nilai kontrak. Adapun sektor infrastruktur jalan dan jembatan berkontribusi 16%, diikuti sektor pertambangan 12% dan pembangkit listrik atau power plant sebesar 11%. Selain itu, sektor pelabuhan turut menyumbang 10%, irigasi 6%, bendungan 4%, serta minyak dan gas sebesar 3%. Sektor industri dan bandara masing-masing melengkapi portofolio tersebut dengan kontribusi sebesar 2% dan 1%.

Komitmen Kualitas dan Keberlanjutan dalam Pengerjaan Proyek

Di tengah ketatnya persaingan di industri BUMN Karya, PTPP terus menekankan pentingnya aspek keselamatan dan kualitas hasil akhir sebagai nilai jual utama. Perusahaan tidak hanya mengejar kuantitas kontrak, tetapi juga memastikan setiap proyek memberikan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat sekitar melalui prinsip keberlanjutan.

“PTPP berkomitmen untuk dapat menyelesaikan proyek sesuai dengan target, standar kualitas, dan mengutamakan asas keselamatan dan sustainability,” ujar Joko saat dihubungi Bisnis pada Selasa (20/1/2026). Komitmen ini menjadi krusial mengingat kompleksitas proyek-proyek strategis yang ditangani perusahaan memerlukan presisi tinggi dan kepatuhan terhadap standar internasional.

Lima Proyek Strategis Penopang Kinerja PTPP Sepanjang 2025

Sepanjang tahun 2025, terdapat beberapa proyek skala besar yang menjadi penggerak utama nilai kontrak perseroan. Proyek-proyek ini mencakup sektor energi, transportasi, hingga properti komersial. Sejumlah proyek strategis yang menjadi kontributor utama meliputi pembangunan Combined Cycle Power Plant (PLTGU) Batam-1 120MW senilai Rp2,68 triliun dan New Priok East Access Phase II sebesar Rp2,33 triliun.

Selain itu, perseroan juga mengantongi proyek infrastruktur tambang Itacha 2 terkait pengadaan dan konstruksi jalan angkut atau haul road senilai Rp1,93 triliun, proyek jalan tol Kataraja Phase II senilai Rp1,35 triliun, serta pembangunan Mandiri Financial Center di kawasan PIK dengan nilai kontrak Rp878,37 miliar. Kelima proyek ini menjadi bukti nyata kemampuan PTPP dalam menangani konstruksi di berbagai medan dan spesialisasi teknik.

Target Pendapatan dan Proyeksi Bisnis Tahun Buku 2026

Menatap tahun 2026, manajemen PTPP telah menetapkan panduan bisnis yang cenderung konservatif namun realistis. Perusahaan menargetkan perolehan kontrak baru sebesar Rp23,6 triliun dengan proyeksi pendapatan mencapai Rp16 triliun untuk tahun buku 2026. Angka ini sedikit di bawah capaian 2025, yang menunjukkan fokus perusahaan pada penyelesaian sisa kontrak berjalan (order book) ketimbang ekspansi agresif di awal tahun.

“Kontrak tahun depan kami proyeksikan sekitar Rp 23,5 triliun,” ujar Direktur Utama PTPP Novel Arsyad dalam konferensi pers usai Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) di Jakarta, Kamis (18/12/2025). Seiring hal tersebut, manajemen menetapkan target pendapatan sebesar Rp16 triliun pada 2026 dengan proyeksi laba bersih masih dievaluasi perseroan guna menyesuaikan dengan beban bunga dan kondisi makroekonomi terbaru.

Evaluasi Kinerja Keuangan dan Portofolio Kontrak Terbesar

Tantangan keuangan masih terlihat dari laporan performa pendapatan di kuartal ketiga tahun lalu. Hingga kuartal III/2025, emiten BUMN Karya ini mencatatkan pendapatan sebesar Rp10,73 triliun. Jumlah tersebut mengalami penurunan 23,33% dari periode sama tahun sebelumnya yakni Rp14 triliun. Penurunan pendapatan ini menjadi salah satu alasan bagi perseroan untuk lebih memperketat manajemen biaya dan efisiensi operasional di setiap lini proyek.

Berikut perolehan 5 kontrak baru terbesar PTPP sepanjang 2025 sebagai acuan performa perusahaan:

Combined Cycle Power Plant (PLTGU) Batam-1 120MW: Rp2,68 triliun

New Priok East Access Phase II: Rp2,33 triliun

Itacha 2 (Provision of Procurement & Construction for Haul Road): Rp1,93 triliun

Kataraja Toll Road Phase II: Rp1,35 triliun

Mandiri Financial Center PIK: Rp878,37 miliar

Dengan portofolio yang kuat di sektor gedung dan infrastruktur, PTPP optimistis dapat mempertahankan keberlangsungan bisnisnya di masa depan. Fokus pada pengerjaan proyek-proyek pemerintah dan BUMN yang memiliki struktur pembayaran yang lebih pasti menjadi kunci bagi perseroan untuk tetap tumbuh secara sehat dan berkelanjutan di tahun-tahun mendatang.

Terkini