JAKARTA - Visi besar Presiden Prabowo Subianto untuk merestrukturisasi wajah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kini mulai memasuki fase eksekusi yang lebih mendalam. Di bawah payung Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara), pemerintah berambisi merampingkan ribuan entitas negara menjadi hanya sekitar 300 perusahaan inti. Namun, langkah ini ditegaskan bukan sekadar aksi pemangkasan jumlah, melainkan sebuah misi "pembersihan" strategis untuk memastikan setiap perusahaan negara yang tersisa memiliki daya saing tinggi dan fundamental yang tak tergoyahkan di pasar global.
Danantara memandang bahwa efisiensi organisasi harus berjalan beriringan dengan keunggulan kompetitif. Oleh karena itu, proses konsolidasi ini dilakukan dengan pendekatan yang sangat teknis dan analitis, menjauh dari kesan keputusan yang bersifat politis semata. Fokusnya jelas: menciptakan raksasa ekonomi yang lincah dan sehat, yang mampu menjadi motor penggerak investasi nasional di masa depan.
Landasan Kajian Bisnis dan Analisis Pasar yang Komprehensif
Penyusutan jumlah BUMN ini dipastikan akan melewati proses kurasi yang sangat ketat. Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) menegaskan bahwa target Presiden Prabowo Subianto untuk mengonsolidasi jumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dari ribuan menjadi sekitar 300 entitas tidak akan dilakukan secara serampangan. Transformasi ini diklaim berbasis pada kajian fundamental dan analisis pasar yang panjang.
Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, mengungkapkan bahwa proses ini diawali dengan fundamental business review untuk memastikan efektivitas setiap perusahaan negara di sektornya masing-masing. Langkah ini diambil agar pemerintah memiliki gambaran objektif mengenai mana perusahaan yang layak dipertahankan, digabungkan, atau bahkan dilikuidasi demi kesehatan ekosistem bisnis negara. “Kami tidak sekadar melakukan proses konsolidasi BUMN, tetapi melakukan review seluruh perusahaan BUMN secara fundamental,” ujar Dony dalam acara Investor Daily Roundtable di Jakarta.
Empat Aspek Krusial dalam Penilaian Kelayakan BUMN
Dalam menjalankan mandat tersebut, Danantara telah menyusun parameter penilaian yang tajam untuk mengaudit setiap lini bisnis perusahaan negara. Penilaian ini tidak hanya melihat angka di atas kertas, tetapi juga membedah potensi keberlanjutan bisnis di masa depan. Dalam proses kajian yang dimaksud, Danantara memfokuskan penilaian pada beberapa aspek krusial, antara lain:
Model Bisnis & Struktur Biaya: Meninjau komposisi pendapatan dan margin EBITDA dibandingkan dengan best practice industri. Hal ini dilakukan untuk mendeteksi apakah sebuah BUMN mampu mencetak laba secara efisien atau justru terbebani biaya operasional yang membengkak.
Analisis Pasar: Menilai kelayakan perusahaan bertahan di suatu industri serta potensi pertumbuhan masa depan. Danantara ingin memastikan BUMN tidak hanya menjadi penguasa pasar domestik, tetapi juga relevan dalam persaingan internasional.
Fase Industri: Mengidentifikasi apakah sektor terkait masih prospektif atau sudah masuk fase industri yang meredup (sunset industry). Investasi negara akan diarahkan pada sektor-sektor masa depan, bukan sektor yang sudah kehilangan relevansi teknologinya.
Kapabilitas Internal: Audit mendalam terhadap kesehatan keuangan, efisiensi organisasi, dan kualitas SDM. Poin ini memastikan bahwa perusahaan memiliki "mesin" internal yang cukup kuat untuk menjalankan strategi bisnis yang ambisius.
Bedah Kasus Sektor Logistik dan Ketergantungan pada Induk Usaha
Kritik tajam sering kali diarahkan pada banyaknya jumlah BUMN yang justru tumpang tindih dalam satu sektor yang sama. Dony mencontohkan sektor logistik yang saat ini memiliki 21 BUMN. Hasil kajian menunjukkan bahwa mayoritas perusahaan tersebut tidak memiliki model bisnis yang mandiri dan hanya bergantung pada transaksi dari induk usaha. Fenomena "anak perusahaan yang hanya hidup dari proyek bapaknya" ini dianggap sebagai salah satu penghambat pertumbuhan ekonomi yang sehat.
Kondisi ini mempertegas bahwa masalah utama BUMN saat ini bukan hanya soal jumlah, melainkan ketidaktepatan strategi dan model bisnis yang kompetitif. Jika sebuah perusahaan tidak mampu bersaing secara mandiri di pasar terbuka, maka keberadaannya hanya akan membebani neraca keuangan negara. Oleh karena itu, konsolidasi menjadi jalan keluar mutlak untuk menciptakan entitas yang lebih mandiri dan kuat secara finansial.
Membangun BUMN yang Tangguh dan Relevan bagi Ekonomi Nasional
Melalui restrukturisasi ini, pemerintah ingin memastikan bahwa 300 BUMN yang tersisa adalah perusahaan-perusahaan pilihan yang memiliki "otot" bisnis yang besar. Tujuan akhirnya adalah menciptakan perusahaan negara yang lebih ramping, namun memiliki ukuran pasar (market size) yang memadai dan fondasi bisnis yang kuat. Danantara berkomitmen untuk melakukan proses ini dengan transparan dan profesional.
“Bukan asal memilih mana yang dikonsolidasikan, tetapi melalui proses yang kita desain dengan sangat baik. Targetnya adalah memastikan BUMN memiliki kemampuan kompetisi yang berkelanjutan,” tambah Dony. Dengan pemangkasan hingga tersisa 300 perusahaan inti, pemerintah optimis BUMN dapat berfungsi lebih lincah sebagai mesin penggerak investasi nasional di bawah naungan Danantara. Transformasi ini diharapkan dapat menyalakan kembali mesin ekonomi Indonesia dan membawa BUMN ke level profesionalisme yang baru, di mana efisiensi dan inovasi menjadi napas utama perusahaan.