Pergerakan Dinamis Bursa Saham Asia Dipengaruhi Ketidakpastian Geopolitik Global

Senin, 26 Januari 2026 | 15:02:14 WIB
Pergerakan Dinamis Bursa Saham Asia Dipengaruhi Ketidakpastian Geopolitik Global

JAKARTA - Bursa saham Asia Pasifik menunjukkan pergerakan bervariasi pada perdagangan Senin, 26 Januari 2026.

Investor mencermati perkembangan geopolitik yang sedang berlangsung dan menyesuaikan strategi investasi. Kinerja bursa mencerminkan ketidakpastian di pasar global yang memengaruhi keputusan perdagangan.

Indeks Nikkei 225 Jepang turun 1,52% sementara Topix melemah 1,76%. Sebaliknya, indeks Kospi Korea Selatan naik 0,64% dan Kosdaq menguat 2,28% untuk saham berkapitalisasi kecil. Yen Jepang menguat 0,45% menjadi sekitar 155,01 terhadap dolar AS, menandakan penguatan mata uang lokal.

Sentimen investor dipengaruhi oleh pernyataan pejabat di Amerika Utara terkait hubungan perdagangan dengan China. Kondisi ini mendorong investor mencari aset safe-haven, termasuk emas spot yang menembus USD 5.033,99 per ounce. Pergerakan ini menunjukkan respons pasar terhadap potensi risiko geopolitik yang meningkat.

Kinerja Wall Street dan Dampaknya ke Asia

Pada perdagangan Jumat sebelumnya, indeks utama Wall Street bergerak bervariasi. Nasdaq Composite naik 0,28% di tengah meredanya kekhawatiran geopolitik, sedangkan Dow Jones Industrial Average turun 0,58% atau 285,30 poin. Indeks S&P 500 hanya mencatat kenaikan tipis 0,03% ke level 6.915,61, mencerminkan sentimen investor yang hati-hati.

Kinerja saham teknologi menjadi penggerak Nasdaq, sementara penurunan saham Goldman Sachs membebani Dow Jones. Pergerakan ini memberikan sinyal bagi investor Asia dalam menilai tren global. Dampak sentimen Wall Street masih terlihat pada pembukaan bursa Asia hari ini.

Investor Asia tetap memperhatikan langkah-langkah perekonomian Amerika dan kebijakan perdagangan. Ketidakpastian terhadap perjanjian perdagangan bebas antara Kanada dan China turut menambah kehati-hatian pelaku pasar. Situasi ini mendorong fluktuasi harga saham dan obligasi di kawasan Asia Pasifik.

Pergerakan IHSG dan Tantangan Pasar Domestik

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada perdagangan Jumat, 23 Januari 2026. Tekanan pasar muncul karena kekhawatiran terhadap rencana perubahan metodologi perhitungan free float oleh MSCI. IHSG turun 41,16 poin atau 0,46 persen ke posisi 8.951,00, sementara indeks LQ45 ikut melemah 0,17 persen ke level 873,59.

Pelemahan IHSG sebagian besar dipicu sikap wait and see investor terhadap kebijakan MSCI. Perubahan metodologi free float saham berpotensi memicu tekanan jual dari investor asing. Kekhawatiran ini menjadi faktor utama dalam keputusan perdagangan investor domestik maupun global.

Rencana perubahan MSCI dianggap krusial bagi emiten Indonesia yang menargetkan masuk indeks global. Data kepemilikan saham lebih rinci melalui KSEI akan memengaruhi bobot saham tertentu. Investor menilai hal ini dapat memicu arus keluar dana asing dari pasar saham lokal.

Sektor Saham yang Menguat dan Melemah

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, hanya dua sektor mencatatkan penguatan. Sektor kesehatan naik 0,83 persen, diikuti sektor infrastruktur yang meningkat 0,12 persen. Sembilan sektor lain mengalami pelemahan, termasuk transportasi-logistik yang turun 2,23 persen dan barang konsumen non primer yang melemah 2,17 persen.

Saham yang mencatat kenaikan signifikan antara lain RMKO, BAIK, LPCK, TOOL, dan JAST. Sebaliknya, saham PTRO, ZATA, DAAZ, MPPA, dan MAHA mengalami penurunan terdalam. Aktivitas perdagangan tercatat ramai dengan frekuensi transaksi mencapai 3,32 juta kali.

Volume perdagangan saham mencapai 64,15 miliar lembar dengan nilai transaksi sebesar Rp32,04 triliun. Sebanyak 191 saham menguat, 495 saham melemah, dan 118 saham stagnan. Pola ini menunjukkan adanya tekanan jual yang lebih dominan dibandingkan pembelian di pasar domestik.

Sentimen Global dan Prospek Bursa Asia

Sentimen positif muncul dari Asia seiring keputusan Bank of Japan mempertahankan suku bunga 0,75 persen. Langkah ini menenangkan pasar menjelang Pemilu Jepang pada 8 Februari 2026. Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 40 tahun turun 4 basis poin ke 3,953 persen, meski obligasi jangka pendek justru naik.

Bursa saham Asia diperkirakan tetap bergerak dinamis mengikuti perkembangan global. Investor terus menilai risiko geopolitik, fluktuasi mata uang, dan kinerja ekonomi negara maju. Kombinasi faktor ini menjadi penentu arah pasar dalam beberapa hari ke depan.

Kondisi pasar menuntut kehati-hatian dan strategi investasi yang fleksibel. Investor diharapkan memperhatikan berita global dan domestik sebelum mengambil keputusan. Dengan langkah tepat, peluang investasi tetap terbuka meski volatilitas pasar meningkat.

Terkini