JAKARTA - Pergerakan harga batu bara sepanjang pekan lalu cenderung terbatas meski dibayangi isu meningkatnya kebutuhan energi global.
Sentimen musim dingin di belahan bumi utara menjadi faktor yang menjaga permintaan, terutama dari sektor kelistrikan. Namun, tekanan teknikal membuat kenaikan harga belum terlalu signifikan dan masih rentan koreksi dalam jangka pendek.
Pada penutupan perdagangan akhir pekan, harga batu bara di pasar ICE Newcastle untuk kontrak pengiriman bulan terdekat tercatat melemah tipis. Meski demikian, secara akumulatif pergerakan mingguan masih menunjukkan kenaikan terbatas. Kondisi ini mencerminkan tarik-menarik antara sentimen fundamental dan teknikal yang masih berlangsung.
Pergerakan harga pekan lalu relatif terbatas
Pada Jumat, 23 Januari 2026, harga batu bara di ICE Newcastle ditutup di level US$ 109 per ton. Angka ini terkoreksi sekitar 0,5 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya. Sepanjang pekan, harga bergerak fluktuatif tanpa lonjakan besar, menandakan pasar masih menunggu katalis baru yang lebih kuat.
Secara point-to-point mingguan, harga batu bara mencatat kenaikan tipis sekitar 0,14 persen. Kenaikan yang terbatas ini menunjukkan bahwa sentimen positif belum sepenuhnya mampu mendorong harga menembus level resistensi utama. Pelaku pasar masih berhati-hati mencermati perkembangan permintaan dan kondisi pasokan global.
Musim dingin dorong permintaan energi
Musim dingin di belahan bumi utara menjadi salah satu faktor utama yang menopang harga batu bara. Suhu rendah meningkatkan kebutuhan energi untuk pemanas, sehingga permintaan listrik ikut naik. Dalam kondisi seperti ini, batu bara kembali dilirik sebagai sumber energi andalan, terutama di negara-negara yang masih mengandalkan pembangkit listrik berbahan bakar fosil.
Peningkatan permintaan ini tidak hanya terjadi di Asia atau Eropa, tetapi juga di Amerika Serikat. Lonjakan konsumsi listrik di tengah cuaca ekstrem membuat pasokan energi cadangan menjadi isu krusial. Tanpa cadangan yang memadai, risiko pemadaman listrik massal atau blackout menjadi ancaman nyata.
Ancaman blackout di Amerika Serikat
Bloomberg News melaporkan bahwa permintaan listrik di Amerika Serikat meningkat signifikan akibat cuaca buruk. Situasi ini memicu kekhawatiran akan terjadinya blackout jika pasokan tidak mampu mengimbangi lonjakan konsumsi. Kondisi tersebut mendorong pemerintah AS mengambil langkah cepat untuk menjaga stabilitas sistem kelistrikan.
Akhir pekan lalu, Departemen Energi AS merilis aturan darurat yang memungkinkan pembangkitan listrik dijalankan secara maksimal. Kebijakan ini mencakup penggunaan pembangkit berbahan bakar batu bara. Langkah tersebut menjadi sinyal bahwa batu bara masih memegang peran penting dalam menjaga keandalan pasokan energi, terutama saat kondisi darurat.
Sentimen fundamental masih menopang harga
Kebijakan darurat di AS dan meningkatnya kebutuhan energi global memberikan sentimen positif bagi harga batu bara. Permintaan yang tetap terjaga di tengah musim dingin membantu menahan tekanan penurunan harga. Namun, sentimen ini belum cukup kuat untuk mendorong reli yang signifikan karena pasar juga mempertimbangkan faktor teknikal.
Selain itu, pelaku pasar masih mencermati kebijakan energi di berbagai negara serta potensi perubahan pasokan dari produsen utama. Ketidakpastian ini membuat pergerakan harga cenderung sideways dengan volatilitas yang relatif terjaga.
Analisis teknikal harga batu bara
Dari sisi teknikal dengan perspektif mingguan, harga batu bara masih berada di zona bullish. Hal ini tercermin dari indikator Relative Strength Index 14 hari yang berada di level 52. RSI di atas 50 mengindikasikan kecenderungan bullish, meski posisinya masih dekat dengan area netral.
Indikator Stochastic RSI 14 hari tercatat di level 64. Angka ini menunjukkan area beli yang cukup kuat, menandakan peluang kenaikan masih terbuka. Sementara itu, indikator Average True Range 14 hari berada di level 2, yang mengindikasikan volatilitas harga pekan ini relatif rendah.
Potensi pergerakan harga pekan ini
Untuk perdagangan pekan ini, harga batu bara masih menyimpan risiko koreksi jangka pendek. Target support terdekat berada di kisaran US$ 108 per ton. Level ini menjadi area yang perlu dicermati pelaku pasar dalam menentukan arah pergerakan selanjutnya.
Pivot point berada di sekitar US$ 107 per ton. Jika level ini ditembus, harga berpotensi menguji support lanjutan di rentang US$ 106 hingga US$ 105 per ton. Namun, apabila harga mampu kembali menguat, level US$ 110 per ton akan menjadi resistensi terdekat.
Resistensi lanjutan berada di kisaran US$ 112 hingga US$ 113 per ton. Dalam skenario paling optimistis, harga batu bara berpeluang mengarah ke level US$ 117 per ton. Dengan kombinasi sentimen musim dingin dan risiko blackout, pergerakan harga batu bara pekan ini tetap layak dicermati secara seksama.