Jerawat di Usia Dewasa Dipicu Oleh Hormon, Stres, dan Gaya Hidup Sehari-hari

Minggu, 25 Januari 2026 | 10:06:45 WIB
Jerawat di Usia Dewasa Dipicu Oleh Hormon, Stres, dan Gaya Hidup Sehari-hari

JAKARTA - Jerawat tidak selalu berhenti saat seseorang meninggalkan bangku sekolah. 

Banyak orang justru menghadapi masalah jerawat ketika usia sudah memasuki fase dewasa. Kondisi ini kerap memicu rasa frustrasi karena dianggap tidak wajar.

Pada kenyataannya, jerawat di usia matang bukan disebabkan oleh kurangnya kebersihan. Faktor hormon, stres, serta lingkungan memiliki peran besar dalam kemunculannya. Interaksi berbagai faktor inilah yang membuat jerawat dewasa sering bersifat berulang.

Banyak pasien dewasa merasa heran mengapa jerawat muncul kembali. Mereka mengira masalah kulit tersebut telah selesai di masa remaja. Rasa kecewa ini sering kali sama beratnya dengan kondisi jerawat itu sendiri.

Peran Hormon dalam Jerawat Usia Matang

Berbeda dengan remaja yang dipicu lonjakan androgen, jerawat dewasa memiliki penyebab lebih kompleks. Pada wanita, fluktuasi hormon menjadi pemicu utama yang bersifat siklikal. Perubahan ini terjadi selama siklus menstruasi, kehamilan, hingga perimenopause.

“Pada orang dewasa, fluktuasi terkait siklus menstruasi seperti dominasi estrogen, kehamilan, pergeseran pasca-melahirkan, atau perimenopause semuanya dapat memicu jerawat baru,” ujar dr. Yong. Kondisi medis tertentu juga dapat memengaruhi keseimbangan hormon. Salah satunya adalah PCOS yang berdampak pada tekstur kulit.

Selain faktor hormonal alami, konsumsi obat tertentu juga berperan. Penggunaan steroid atau suplemen vitamin B12 dosis tinggi dapat memperburuk jerawat. Hal ini sering tidak disadari oleh pasien dewasa.

Stres dan Gaya Hidup Picu Jerawat Dewasa

Stres memengaruhi kulit secara langsung melalui peningkatan hormon kortisol. Saat tekanan hidup meningkat, produksi minyak pada kulit ikut bertambah. Kondisi ini memicu peradangan dan penyumbatan pori-pori.

“Saran saya, anggap stres seserius Anda menganggap skincare. Tidur yang cukup, istirahat, meditasi, dan perawatan diri benar-benar membantu kulit merespons pengobatan dengan lebih baik,” katanya. Tanpa pengelolaan stres yang baik, perawatan kulit sulit memberikan hasil maksimal. Sumber peradangan sering berasal dari dalam tubuh.

Gaya hidup sehari-hari juga memengaruhi kondisi jerawat. Konsumsi makanan berindeks glikemik tinggi dapat memicu lonjakan insulin. Hal ini berdampak pada peningkatan produksi minyak dan peradangan.

Perubahan Karakter Jerawat di Setiap Usia

Karakter jerawat berubah seiring bertambahnya usia seseorang. Pada usia 20-an, jerawat sering muncul di area rahang dan T-zone. Pemicu utamanya adalah sisa lonjakan hormon dan stres awal karier.

Memasuki usia 30-an, kondisi kulit mulai lebih sensitif. “Penghalang kulit menjadi lebih sensitif, menyebabkan nodul yang lebih dalam dan menyakitkan di sekitar rahang, dagu, dan leher,” ujar dr. Yong. Pada fase ini, tanda penuaan dini mulai muncul.

Di usia 40-an, jerawat lebih berkaitan dengan perubahan hormonal drastis. Flare-up yang terjadi cenderung bersifat kistik dan lambat sembuh. Risiko munculnya noda hitam dan bekas luka permanen juga meningkat.

Kesalahan Skincare yang Memperparah Jerawat

Banyak orang dewasa melakukan kesalahan dengan menumpuk terlalu banyak produk. Fenomena ini dikenal sebagai skincare acne. Penggunaan berbagai bahan aktif tanpa panduan dapat merusak lapisan pelindung kulit.

“Orang-orang menumpuk berbagai asam, retinoid, scrub, dan masker tanpa panduan. Hasilnya penghalang kulit rusak, menjadi merah, sensitif, dan lebih rentan terhadap jerawat,” ujarnya. Kulit yang rusak justru memicu masalah baru. Pendekatan sederhana sering kali lebih efektif.

Strategi terbaik adalah kembali ke perawatan dasar. Pembersih lembut, pelembap non-komedogenik, dan tabir surya menjadi fondasi utama. Bahan aktif sebaiknya digunakan secara bertahap.

Terapi Medis dan Pentingnya Kesabaran

Mengatasi jerawat dewasa membutuhkan kesabaran. Bahan seperti retinoid, BHA, dan benzoyl peroxide tetap efektif jika digunakan dengan bijak. Kulit dewasa memerlukan pendekatan yang lebih lembut.

“Kuncinya bukan menggunakan semua bahan sekaligus, tetapi secara terukur dalam rotasi,” saran dr. Yong. Misalnya, asam digunakan di pagi hari dan retinol di malam hari. Tabir surya tetap wajib untuk mencegah bekas jerawat memburuk.

Teknologi medis modern menawarkan berbagai pilihan terapi. Prosedur seperti laser dan microneedling kini menargetkan kelenjar minyak secara spesifik. Namun, jerawat tidak menentukan nilai diri seseorang dan fokus pada kesehatan kulit adalah tujuan utama.

Terkini