Harga Minyak Dunia Anjlok Usai Ketegangan Iran Mereda

Sabtu, 17 Januari 2026 | 10:03:30 WIB
Harga Minyak Dunia Anjlok Usai Ketegangan Iran Mereda

JAKARTA - Pasar energi global kembali bergerak volatil ketika harga minyak dunia mengalami penurunan tajam dalam satu hari perdagangan. 

Penurunan ini terjadi di tengah perubahan sentimen investor yang sebelumnya diliputi kekhawatiran akan eskalasi konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah. 

Pernyataan terbaru Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengenai situasi di Iran menjadi pemicu utama berbaliknya arah pergerakan harga minyak mentah dunia.

Harga minyak yang sempat melonjak karena risiko konflik kini terkoreksi signifikan setelah pasar menilai tekanan geopolitik mulai mereda. Kondisi ini menunjukkan betapa sensitifnya pasar minyak terhadap pernyataan politik, khususnya yang berkaitan dengan stabilitas kawasan penghasil energi utama dunia. Reaksi cepat pasar mencerminkan penyesuaian ekspektasi terhadap potensi gangguan pasokan global.

Sentimen Geopolitik Berbalik Arah

Harga minyak dunia tercatat turun lebih dari empat persen pada 15 Januari 2026. Pelemahan ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan bahwa tekanan terhadap demonstran di Iran mulai mereda, sehingga mengurangi kekhawatiran pasar atas potensi eskalasi konflik yang lebih luas. 

Sebelumnya, ketegangan politik di Iran sempat memicu kekhawatiran akan intervensi militer yang berpotensi mengganggu pasokan minyak global.

Harga minyak mentah berjangka Brent turun 4,15% atau US$ 2,76 dan ditutup pada level US$ 63,76 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melemah 4,56% atau US$ 2,83 menjadi US$ 59,19 per barel. Penurunan ini menjadi salah satu koreksi harian terbesar dalam beberapa waktu terakhir.

Sebelumnya, Trump menyatakan telah menerima informasi dari sumber yang dinilainya sangat penting di Iran terkait penghentian eksekusi terhadap demonstran. 

Informasi tersebut langsung memengaruhi persepsi pasar yang sebelumnya mengantisipasi kemungkinan respons keras dari pemerintah Iran maupun potensi keterlibatan Amerika Serikat.

Pernyataan Trump Jadi Pemicu Pasar

Dalam pernyataannya, Trump menegaskan bahwa situasi di Iran menunjukkan tanda-tanda mereda. Ia mengklaim telah memperoleh informasi yang dapat dipercaya terkait perkembangan tersebut.

"Tidak ada rencana eksekusi, saya mendapat informasi itu dari sumber yang dapat dipercaya," katanya.

Ia juga menambahkan bahwa Gedung Putih akan terus memantau perkembangan situasi di Iran secara cermat.

Pernyataan ini menjadi sinyal bagi pelaku pasar bahwa risiko geopolitik yang sebelumnya membayangi pasar minyak kemungkinan tidak akan berkembang menjadi konflik terbuka dalam waktu dekat. Akibatnya, premi risiko yang sempat terbangun pada harga minyak perlahan menghilang, mendorong aksi jual di pasar berjangka.

Meski demikian, pelaku pasar tetap mencermati setiap pernyataan lanjutan dari pejabat Amerika Serikat maupun Iran. Situasi politik yang dinamis membuat harga minyak rentan terhadap perubahan sentimen secara cepat, terutama jika muncul sinyal baru terkait kebijakan luar negeri atau keamanan regional.

Sanksi Dan Ketegangan Masih Membayangi

Di tengah meredanya kekhawatiran pasar, Departemen Keuangan Amerika Serikat tetap mengumumkan sanksi terhadap sejumlah pejabat Iran, termasuk Ali Larijani yang menjabat sebagai sekretaris Dewan Tertinggi untuk Keamanan Nasional.

 Langkah ini menunjukkan bahwa tekanan diplomatik terhadap Iran masih berlanjut, meskipun retorika eskalatif sementara mereda.

Kerusuhan massal di Iran dilaporkan telah menewaskan ratusan orang setelah aparat keamanan melakukan tindakan keras terhadap demonstran. 

Situasi ini sebelumnya memicu reaksi keras dari Trump, yang berulang kali mengancam akan campur tangan jika warga sipil terus menjadi korban atau dieksekusi oleh negara.

Ancaman tersebut sempat meningkatkan kekhawatiran pasar akan kemungkinan intervensi militer Amerika Serikat, yang berpotensi memicu gangguan distribusi minyak dari kawasan Timur Tengah. 

Namun, pernyataan terbaru Trump yang bernada lebih menenangkan membuat pasar menilai risiko tersebut menurun untuk sementara waktu.

Volatilitas Harga Masih Berlanjut

Sebelum mengalami penurunan tajam, harga minyak sempat melonjak pada 13 Januari 2026 setelah Trump membatalkan pertemuan dengan pejabat Iran dan menyampaikan dukungan terbuka kepada para demonstran. 

Ia bahkan menyatakan bahwa bantuan sedang dalam perjalanan, sebuah pernyataan yang langsung memicu kekhawatiran akan meningkatnya tensi antara kedua negara.

Lonjakan harga tersebut terjadi di tengah meningkatnya spekulasi bahwa serangan Amerika Serikat terhadap Iran dapat segera terjadi. Kondisi ini membuat investor memburu aset komoditas energi sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan gangguan pasokan global.

Namun, perubahan nada dari Gedung Putih hanya berselang beberapa hari kemudian membuat pasar kembali melakukan penyesuaian. Harga minyak pun terkoreksi tajam seiring meredanya kekhawatiran geopolitik dalam jangka pendek. 

Meski begitu, analis menilai volatilitas harga minyak masih akan berlanjut mengingat situasi politik di Iran belum sepenuhnya stabil.

Pasar kini menunggu perkembangan lanjutan, baik dari sisi kebijakan Amerika Serikat maupun respons pemerintah Iran. Selama ketidakpastian masih membayangi kawasan tersebut, harga minyak diperkirakan akan tetap bergerak fluktuatif, dipengaruhi oleh kombinasi faktor geopolitik, sentimen pasar, dan dinamika permintaan global.

Terkini